Kini, ‘afwan tidak lagi dimaafkan Alhamdulillah, segala rasa syukur kita limpahkan kepada Allah swt. Atas limpahan kenikmatan,  karunia, terutama nikmat iman dan Islam atas diri kita. Shalawat dan salam kepada Rasulullah saw. Amma ba’du.

Tulisan ini adalah sebuah autokritik bagi kita bersama. Saya mengambil judul Kini Afwan tidak lagi dimaafkan didasarkan atas sebuah hasil diskusi, kemudian perenungan dengan sisi pandang ”yang berbeda” atas ”manajemen ’afwan” pada muamalah antar ikhwah pada jamaah da’wah tempat kita berada saat ini.

Mari kita coba mendekati kondisi lingkup perilaku ’afwan-meng-’afwan-kan melalui ilustrasi berikut ini. ”’Afwan” saya ilustrasikan ibarat seseorang memaku sebuah bambu. Dengan tenaga yang cukup, paku ia pukul dengan palu. Kemudian secara perlahan paku itu pun tertancap pada bambu. Karena suatu hal, kita berniat mengambil paku tersebut. Kita mengambil tang (atau catut, alat pencabut paku) lalu kita mengambil paku tersebut. Dan paku pun akhirnya tercabut.

Maaf yang sudah tidak bisa dimaafkan
gelas kalau pecah, dilempun pasti masih ada bekas pecahnya

Ketahuilah ikhwah fillah, benar adanya bahwa paku yang semula tertanam pada bambu, kini telah tercabut. Pada suatu peristiwa, misalkan dalam kepanitiaan tertentu. Kepanitian tersebut memberikan kita suatu amanah, namun karena suatu hal (sengaja ataupun ”diupayakan” tidak sengaja). Kita tidak dapat melaksanakan amanah tersebut. Maka ”biasa”  kata ’afwan ini meluncur.

Luka Bekas Paku tetap Saja Ada Meski sudah dicabut dengan cara sebaik mungkin
Kembali ke kisah memaku tadi, ya memang, paku telah tercabut. Tapi tidakkah kita sejenak memperhatikan apa yang terjadi pada si Bambu? Si Bambu ibarat orang yang   kita usahakan pemakluman melalui kata ’afwan dari kita. Sehebat apapun anda mencabut paku, niscaya akan tetap saja pada bambu akan tertinggal ”luka bekas paku”. Pada bambu tersebut akan tetap ada lobang, dan mustahil lubang tersebut tertutup sempurna kembali dengan dicabutnya paku. Bukankah demikian?

”Luka bekas paku” ini sungguh berbahaya. Dia ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu meledak dan menghancurkan kita. Menghancurkan ukhuwah Islamiah dalam jama’ah kita. Secara jujur mari kita melakukan refleksi sekaligus interospeksi diri atas pernyataan di atas. Betapa tidak sedikit sendi-sendi kepercayaan, cinta kasih -karena Allah- atas diri saudara kita jadi ternoda akibat ”luka  bekas paku” ini?

Misalkan kita bersama-sama melakukan rencana ”bisnis ikhwah”, tapi berujung dengan ’afwan dan ’afwan? Yang kemudian menjadikan kita malas bertemu dengan teman-teman satu tim atau ”menghindari” ketemu ikhwah yang menjadi investor?padahal kita bersaudara, ingatkah kita bahwa Allah telah berfirman, ”dan peliharalah hubungan silaturahmi” (An Nisa’: 1)? Mengapa menghindar? Atau pada saat kerja sama dalam kepanitiaan atau perencanaan sesuatu yang telah disepakati, kembali kata ’afwan ini muncul. Kita yang tidak profesional, kita yang melalai kan amanah dengan segenap rasionalisasi, dan kita yang tidak ihsan dalam beramal. Ingatkah Rasul yang kita cintai telah berwasi’at,”sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku ihsan dalam segala hal” (HR. Muslim). Profesioanalah!

Dapat pula, karena sudah ”merasa” ikhwah kita cederung mengentengkan hak dan kewajibannya sebagai seorang muslim. Memakai barang, kemudian merusakkannya, menghilangkan, atau menjadi cacat sebagian. Muncul lagi ”kata ajaib” ini. Dan yang lebih kejam, dia tidak melakukan pertanggung jawaban atas kelalaiannya tersebut.  Ingatkah, Rasulullah saw telah mewasiatkan, bahwa tidak beriman diantara kamu sebelum kita mencintai saudara kita sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri?

Pelajaran diatas memang tidak semuanya dapat digeneralisasikan. Sadarilah, sudah kewajiban kita untuk ber-watawa sahobil haqqi, watawash shoubish shobr. Gunakanlah kata ’afwan secara proporsional dan dalam kadar yang tepat, sehingga ianya semata-mata menjadi kebaikan. Kemudian, perilaku-perilaku negatif diatas sudah sepatutnya kita hapus dari diri kita dan jama’ah da’wah ini. Ber-ihsan-lah dalam beramal. Agar, kata dan perilaku ’afwan meng-’afwan-kan itu kembali keposisinya yang mulia. Salah satu bukti kemuliaanya, mari bersama kita merujuk pada Al Qur’an surat Ali Imron 133-134, disitu Allah mensifati orang-orang yang akan mendapatkan ampunan dan surga  yang luasnya seluas langit dan bumi.

Diantara sifat-sifat yang disebutkan, Allah swt berfirman,” …dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang…”(QS. Ali Imron:134). Jika sudah demikian, maka kalimat ”Kini, ‘afwan tidak lagi dimaafkan” sudah saatnya di-recycle bin-kan dan di-refresh kembali. Wallahu a’lam bishawab.