Si “Alarm” Tahajud

By Den Anjrah

Kamis (9/8) dini hari, Desa Prembun, Kabupaten Kebumen dikejutkan dengan goncangan yang membuat penduduk satu desa berhamburan keluar menyelamatkan dirinya. Goncangan gempa yang kemudian diketahui berpusat dari pantai Indramayu tersebut berlangsung kurang lebih 15 menit (00.00-00.15 WIB). Berbagai asumsi kemudian bermunculan dari warga sekitar. Mulai ada yang mengatakan terjadi tsunami lagi, gunung meletus, sampai ada seorang teman di Jogja mengatakan hal tersebut sebagai Alarm untuk tahajud. Ya… perbedaan asumsi itu adalah hal yang biasa, mereka berasumsi bermula dari persepsi mereka masing-masing. Seseorang yang mempersepsikannya sebagai kemunculan tsunami, sah-sah saja. Gempa bumi, oke juga. Lha wong persepsinya demikian.

Sedikit mengulang saat kuliah Psikologi Umum I, persepsi manusia sangat beragam, karena persepsi selain dipengaruhi oleh pengalaman, ia juga dipengaruhi oleh pendidikan yang terima, kepribadiannya, dan kesiapan indera yang digunakan. Yang jadi masalah, terkadang tanpa bukti yang valid dan argumentasi yang mendasar seseorang memaksakan persepsinya tersebut kepada orang lain. Nah, disinilah muncul konflik. Bahasan persepsi cukup sampai paragraf ke dua.

Selanjutnya aku akan mengkomentari teman saya dari Jogja tadi. Saat aku SMS, “eh gimana, krasa ada gempa ga?”. Kemudian dia menjawab bla-bla-bla…kayak jadi alarm tahajud”. Ya…semalam, memang beberapa teman aku SMS. Ya bukan iseng si, tapi didorong oleh rasa… e…pertemanan. Khawatir jika ada yang mengalami hal yang buruk. Tapi alhamdulillah mereka aman-aman saja. Alarm tahajud? Ya,betul juga. Barangkali tinggal beberapa gelintir orang aktif melakukan shalat yang bisa menghantarkan seseorang ke tempat yang terpuji ini. Allah swt berfirman,”Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” (Qs Al-Isra:79).

Sebenarnya banyak kemuliaan lain yang dijelaskan dalam Al Qur’an dan As Sunah, namun bukan kapabilitas saya untuk menjelaskannya. Aku akan meninjaunya dari segi kesehatan.

Tahajud=Sehat

Muhammad Sholeh, beliau adalah salah satu dosen IAIN Surabaya. Beliau menyusun disertasi dengan judul “Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Response ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Psiko-neuroimunologi". Disertasi tersebut beliau tulis dalam perjuangan beliau meraih gelar Doktor dalam bidang ilmu kedokteran disalah satu universitas di Surabaya. Hasilnya luar biasa, beliau menyatakan bahwa jika shalat tahajud dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya, khusuk dan ikhlas.

Secara medis sholat itu menumbuhkan respons ketahanan tubuh khususnya pada imonoglobulin M, G, A dan limfositnya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah (stress) yang dihadapi (coping). Tambahan dari Pak Soleh, beliau mengatakan bahwa seseorang yang memiliki respons imun yang baik, kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Subhanallah…

Beberapa hal yang perlu di ingat, Pak Sholeh ini menitikberatkan pada sisi rutinitas sholat, ketepatan gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan. Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri, dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol. Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter. "Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan. Begitu sebaliknya."

Temuannya ini didasarkan pada penelitian yang beliau lakukan terhadap 41 responden sisa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat dimulai pukul 02:00-3:30 sebanyak 11 rakaat, masing-masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat.

Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya (paramita, Prodia dan Klinika). Simpulan penelitian tersebut, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajjud secara ikhlas berbeda jauh dengan orang yang tidak melakukan tahajjud. Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan individual untuk menaggulangi masalah-masalah yang dihadapi dengan stabil.

"Jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligus sarat dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol kognisi. Dengan cara memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping yang efektif, emosi yang positif dapat menghindarkan seseorang dari stress."

By the way… sejatinya, kita tuetep harus meniatkan shalat tahajud kita lillahi ta’ala semata. Trus, efek ketahanan tubuh dari shalat tahajud tersebut ya… anggaplah sebagai salah satu bonus dari Allah swt. Sebagai penutup, saya ingatkan kepada firman Allah tentang sifat-sifat hamba yang memperoleh kemuliaan, semoga Saya dan Anda diberikan kemudahan oleh Allah dan kesanggupan untuk bisa termasuk di dalamnya. Amin.

Allah swt berfirman,” Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.

Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. …" (QS. Al Furqoon (25):63-65)