Paradigma HPA

"Usahawan yang Herbalis dan Herbalis yang Usahawan"

by Anjrah Ari Susanto, c. S. Psi, Herbalis

Muslim Entrepreneur

Rasulullah saw bersabda,"Tiada ada sesuatu makanan yang baik melebihi apa yang dihasilkan dari usahanya sendiri. Nabi Allah Daud makan dari usahanya sendiri" (HR. Bukhori).

Rasulullah adalah seorang entrepreneur. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim, bahkan beberapa tahun kemudian status beliau berubah menjadi seorang yatim piatu. Keadaan demikian tidak membuat beliau menyerah dengan keadaan. Beliau memilih untuk mandiri. Sebuah keteladanan bagi umat, terlebih bagi para pemuda seumuran kita.

Umur 8 tahun 2 bulan beliau sudah mulai menggembalakan kambing. Terus berkembang, hingga pada usia 12 tahun sudah melakukan perjalanan internasional menjadi kafilah dagang. Beliau bertransaksi dagang ke Syiria, 2 kali ke Bahrain, 2 kali ke Kapus, dan 4 kali ke Yaman. Minimal sudah 16 kali perjalanan dagang yang telah beliau lakukan. Kemudian di usia 25 tahun, kita telah tahu, Muhammad saw menikahi Khadijah dengan mahar 20 ekor unta muda.

Subhanallah

… coba hitung, andai kita kurskan 1 ekor onta adalah 7 juta rupiah, maka beliau memberikan mahar sebesar 140 juta rupiah. Padahal onta yang dijadikan mahar adalah onta muda. Onta yang mahal dan ‘bergengsi’ dijamannya. Di negara kita, kira-kira apakah sudah pernah ditemukan pemuda yang dengan usahanya sendiri menikah dengan mahar sebanyak dan setara itu? Masalahnya, bukan sekedar perkara jumlah berapa ekor unta yang dimaharkan. Logikanya, seseorang yang mampu memberikan mahar sebesar itu tentunya memiliki jumlah onta yang lebih banyak lagi. Lebih dari 20 ekor!.

Selanjutnya, cermatilah bahwa para sahabat nabi penyokong pilar da’wah nabi adalah orang-orang yang berkemampuan financial yang baik. Berikut adalah kisah sahabat nabi, Abdurahman bin Auf. Bermula dari bagaimana keadaan beliau saat baru saja hijrah dari Makkah ke Madinah. Beliau sedikitpun tidak membawa bekal materi apa-apa. Namun sosok pedagang yang sukses berdasarkan petunjuk nabi ini memilih untuk berjuang, bekerja, dan berusaha. Di Madinah beliau memulai usaha dengan berdagang keju dan minyak samin. Sedikit demi sedikit kemudian terkumpulah hasil usahanya tersebut.

Orang ke delapan yang mula-mula masuk islam ini telah mengenal jalan menuju surga. Oleh karena itu ia ingin memperolehnya dengan pemberian dan pemgorbanan. Pemberian dan pengorbanan dengan harta dan seluruh jiwa raganya. Di kisahkan, suatu hari kota madinah yang sedang aman dan tentram terlihat debu tebal yang mengepul ke udara, datang dari tempat ketinggian di pinggir kota. Debu itu semakin tinggi bergumpal-gumpal hingga hampir menutup ufuk pandangan mata. Apakah gerangan?

Sesaat kemudian, penduduk Madinah ramai, saling memanggil dan menghimbau menyaksikan 700 kendaraan yang sarat muatan dan mememuhi jalan-jalan kota Madinah. Ke 700 kendaraan yang sarat muatan tersebut adalah kafilah dagang Abdurrahman bin ‘Auf yang baru saja tiba dari Syam. Ummul mu’minin, Aisyah r.a. mendengar hiruk pikuk tersebut, lalu bertanya, "Apakah yang telah terjadi di kota Madinah?". Beliau mendapatkan jawaban, bahwa kafilah Abdurrahman bin ‘Auf baru datang dari Syam membawa barang dagangannya. Kemudian Ummul Mu’minin berkata, "Kafilah yang telah menyebabkan semua kesibukkan ini?". Di jawab, "Benar ya Ummal mu’minin … karena ada 700 kendaraan". Ummul Mu’minin menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengingat apa yang telah Rasulullah saw katakan tentang Abdurrahman bin ‘Auf, Rasulullah saw bersabda, "Aku lihat Abdurrahman bin ‘Auf memasuki surga dengan surga dengan merangkak".

Ucapan Aisyah tersebut terdegar sampai Abdurrahman bin ‘Auf, lalu beliau berkata, "Kalau bisa aku akan masuk surga dengan melangkah (berjalan kaki)". Lalu dibagikannya seluruh muatan 700 kendaraan itu fi sabilillah kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya. Sebuah kisah yang menjadi teladan bagi kita, bahwa keuntungan dunia yang kita dapatkan jangan sampai menjadikan kita kehilangan keuntungan yang kekal di akhirat.

Salah seorang entrepreneur muslim kontemporer pernah bertutur, "Seorang muslim dengan akidahnya yang mantap akan menganggap bisnis sebagai upaya jihad di jalan Allah karena aturan-aturan agama sangat mengedepankan nilai-nilai moral. Nilai-nilai moral tersebut bisa dijadikan sebagai pilar kuat untuk menjadi seorang wirausahawan…".

Masih banyak lagi kisah-kisah entrepreneur penyokong pilar da’wah Rasulullah saw. Bahkan pada jika kita cermati, dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga, hampir semuanya adalah para pedagang (entrepreneur). Sebuah profesi sunnah yang sekarang ini banyak ditinggalkan dengan berbagai alasan. Tidakkah kita ingat Rasul saw yang kita cinta, beliau berasal dari keluarga miskin, yatim piatu, seorang yang ummi alias tidak berpendidikan, tidak memilikiuang, dan tidak ahli dalam menghasilkan sesuatu. Tetapi beliau mampu bangkit dan menjadi pengusaha muda yang professional. Jadi, TIDAK ADA ALASAN yang menghalangi kita untuk menjadi seseorang yang produktif dan menghasilkan sesuatu seperti halnya Rasulullah saw.

Ingatlah selalu sabda nabi berikut, Rasulullah saw bersabda, "Penghasilan apa yang paling baik?". Maka beliau menjawab, "apa yang dihasilkan seseorang dari pekerjaan tangannya dan semua jual beli mabrur" (HR. Bukhori-Muslim). Dan pada hadist yang lain rasulullah saw bersabda, "Seseorang yang mencari kayu lalu memanggulnya diatas pundaknya lebih baik baginya dari mengemis yang kadang kala diberi atau ditolak" (HR. Bukhori). Meminta-minta disini maknanya tidak sekedar untuk seorang pengemis yang meminta, namun boleh jadi kita pun termasuk di dalamnya. Cuma kita berbeda, kita meminta-minta terhadap ke dua orangtua kita, dan menjadi "benalu" bagi mereka. Padahal Rasulullah saw memperingatkan dalam salah satu hadistnya bahwa kebiasaan meminta-minta kelak di hari kiamat akan merupakan bintik hitam yang menggelapkan wajah, karena perbuatan meminta-minta tersebut hanya dibenarkan pada tiga kondisi berikut: orang kafir yang berkalang tanah, orang yang terbelit utang piutang yang amat memberatkan, dan orang yang terbebani kewajiban membayar diyat yang amat menyakitkan (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Untuk itu, mari kita berusaha untuk mandiri dengan berwirausaha.