Muslim Herbalis

Saya kira akan lebih mudah menjelaskan paradigma Muslim ini dengan beberapa pertanyaan awal: Mengapa jadi herbalis? Dan bagaimana paradigma muslim herbalis? Apa bedanya dengan herbalis atau perawat kesehatan lain secara umum?

Sebelumnya, anda akan saya hadapan kepada kenyataan dunia pengobatan sekarang ini melalui point of view kita sebagai seorang herbalis muslim. Pada kenyataannya, dunia pengobatan dan kesehatan masa kini jauh dari tuntunan agama. Padahal, selamat tidaknya kita baik di dunia maupun kelak di akhirat adalah sejauh mana kita dalam menjalani segala aspek kehidupan ini sesuai dengan apa yang telah ditunjukkan oleh Allah dan Rasul Nya (agama). Karena disitulah segala sesuatu telah diberikan penjelasannya. Allah swt berfirman,"…Dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri." (QS. An Nahl: 89). Dan dalam ayat lain, Allah terbebas dari lupa, Allah swt berfirman, " … Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa;" (QS. Thaahaa: 52). Maka sudah sepatutnya kita mengedepankan konsep agama terhadap segala perkara yang kita hadapi.

Ironisnya, masih saja banyak masyarakat kita yang tidak menghiraukan persoalan penting ini. Mereka memilih jalan kemusyrikan dalam mengusahakan kesembuhan bagi dirinya. Mereka datangi antek-antek setan (para dukun) yang kini banyak menggunakan panggilan "yang menjual" seperti orang pintar, paranormal, terkun;dokter dukun, ahli terapi transfer energi, kiai atau ustadz "x" dan sebutan lain sehingga tampak samar ke-klenik-kannya. Para antek setan ini membekalkan rajah, jimat-jimat, benda-benda bertuah, atau amalan tertentu kepada pasiennya. Padahal semua itu adalah bagian dari kemusyrikan dan haram hukumnya. Maka penting bagi kita untuk belajar mengenali mereka, agar kita dapat membentengi umat dari agen-agen dan perilaku syirik yang kian menggurita. Allah swt berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya." (QS. An Nisaa’: 116). Tidak akan didapati kesembuhan berobat dengan perkara yang diharamkan Allah.

Syirik tidak hanya melanda terapis saja namun pada pasien juga. mereka meyakini bahwa karena fulan atau fulanah-lah saya jadi bisa sembuh. Dalam bahasa lain pasien mengatakan, "Saya sembuh karena meminum obat ini dan itu". Sepertinya ini perkara yang sepele, namun pada hakikatnya besar. Mereka lupa bahwa Allahlah yang memberikan kesembuhan. Allah swt berfirman," Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku," (QS. Asy Syu’araa: 80). Percaya bahwa sebab (obat) dapat menyembuhkan adalah syirik. Begitu pula pengobat yang meyakini bahwa dirinyalah (sifat keakuan) yang menyembuhkan inipun termasuk syirik. Karena obat maupun kita sebagai seorang pengobat adalah semata-mata sekedar wasilah saja. Amat mudah bagi Allah swt memberikan kesembuhan kepada sesiapa saja dan Ia memiliki berjuta-juta cara untuk melakukannya.

Kedua, dunia kesehatan sekarang ini masih menggunakan barang-barang haram dalam terapinya. Mulai dari menggunakan bahan-bahan yang terang keharamanya seperti darah, minuman keras, atau dengan daging hewan yang diharamkan, dan sebagainya. Mereka gunakan gelatin yang diolah dari tulang dan kulit babi sebagai kapsul dan tablet-tablet obat. Mereka gunakan pula insulin yang diambil dari pankreas babi untuk bapak-ibu kita yang terkena diabetes. Sampai kita, adik-adik kita, atau anak-anak kita kelak juga tidak bebas dari barang-barang haram tersebut. Mereka biakkan vaksin melalui jaringan tubuh yang diambil dari barang-barang yang diharamkan, seperti janin bayi manusia yang digugurkan, dari ginjal kera, atau juga menggunakan bahan yang sangat berbahaya bagi kesehatan kita. Padahal Allah swt berfirman, "Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah" (QS. An Nahl: 114). Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah dan janganlah berobat dengan (obat) yang haram" (HR. Ad Daulabi, shahih). Dalam hadist lain, dai Ummu Salamah r.a., Nabi saw bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan (dari penyakit) kalian pada apa-apa yang haram" (HR. Abu Ya’la dan Ibnu Hibban, hasan lighoirihi).

Dari dua perkara ini kita sudah seharusnya merenung. Penyakit adalah salah satu ujian dari Allah swt. Jika kita berobat dengan cara-cara demikian sudah barang tentu dengan ujian tersebut kita akan semakin jauh dari Allah swt. Padahal seharusnya, dengan ujian tersebut kita akan mendapatkan ampunan dosa atau Allah naikkan derajat. Rasulullah saw bersabda, "Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allahakan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya, seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya" (HR.Bukhori, no.5660). Jika dengan penyakit tersebut sampailah ajalnya, maka bagaimana keadaan matinya? Belum lagi ketika sakit, ia tinggalkan shalat, dan ia berprasangka buruk kepada Allah atas sakitnya.

Herbalis muslim berbeda dengan pengobat secara umum. Ianya sadar betul bahwa menjadi seorang herbalis bukanlah karena profesi untuk menolong orang atau apalagi semata-mata untuk memperolah berbagai keuntungan dunia. Ia menjadi herbalis sebagai penghambaan kepada Tuhannya. Sikap-sikapnya dekat dengan nuansa rabbani. Basah lisanya dengan dzikir, sibuk hatinya dengan mengingat dan mentadabburi ayat-ayatNya. Dan inilah yang menjadi visi Perubatan Jawi, yakni melahirkan manusia-manusia rabbani (rabbaniyun) yang memiliki hubungan kuat antara dirinya selaku hamba dengan Rabnya, Allah swt sebagai khaliq (pencipta).

Oleh karena itu, patut diperhatikan bahwa untuk menjadi seorang herbalis hendaklah terlebih dahulu memiliki persiapan jiwa yang matang, sehingga ia mampu memberikan perawatan holistic yang meliputi jasmani dan rohani. Karena dari kedua unsure tersebutlah penyakit berasal. Sehingga dalam perawatan tersebut bi’idznillah didapatkan tidak saja kesembuhandari penyakit fisik yang dideritanya, tetapi juga kesembuhan dari penyakit hatinya. Jadi seandainya pun dengan sebab sakitnya tersebut ia dipanggil oleh Allah swt, ia dalam kondisi berprasangka baik dan ridho akan takdir yang dihadapinya. Insya Allah wafat dalam keadaan Khusnul Khatimah. Wallahu a’lam.

Ma’roji

‘Aasyur. Abdullatif Ahmad. 1991. 10 Orang Dijamin ke Surga. Jakarta:Gema Insani Press.

Gymnastiar, Abdullah. 2003. Malu Jadi Benalu. Bandung:MQ Publising

Ismail. 2003. Inilah Pandangan Kami. Bekasi: PT. Bahana Mandiri Sentosa

Jawas, Yazid bin Abdul Qadir. 2005. Do’a dan Hiburan bagi Orang Sakit dan Terkena Musibah. Bogor:Pustaka Imam Syafi’i

Khalid, Muh. Khalid. 2004. Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah. Bandung:CV Penerbit Diponegoro

Majalah Kesehatan Alamiah Kitab Perubatan Jawi. Bekasi: PT. Bahana Mandiri Sentosa. Edisi no. 1/Vol. I/Juni-Juli 2003.

Yasin, Syihab Al Badri. 2005. Bekam Sunnah Nabi dan Mu’jizat Medis. Solo:Al Aqwam