DhEN @njRAH

Pendahuluan
Artikel ini bermula dari hasil perenungan yang mendalam tentang apa yang selama ini telah dipelajari di Kampus Psikologi kita tercinta. Akal ini melihat kerancuan yang betul-betul mengusik. Akhirnya, akupun mulai bertanya, betulkah kita selama ini telah belajar ilmu psikologi yang berobjekkan materialkan manusia dan berobjek formalkan perilaku dan segala aktivitas-aktivitas manusia sebagai manifestasi hidup kejiwaannya? betulkah manusia yang kita pelajari? Seperti apakah seharusnya psikologi itu?

Psikologi dan konsep manusia
Psikologi, Irwanto (2002, h. 3) menjelaskan bahwa Psychologi mempunyai akar kata dari bahasa Yunani psyche dan logos. Psyche maknanya adalah jiwa, sedangkan logos berarti ilmu. Sederhananya, Psychologi dipahami sebagai “ilmu jiwa” atau “ilmu yang mempelajari jiwa”. Sayangnya, Walgito (2004, h. 4) berkata, sebagai syarat agar psikologi bisa sebagai disiplin ilmu pengetahuan, ia harus bisa memenuhi kriteria-kriteria ilmiah. Maka digantilah, fokus kajian psikologi yang semula “ilmu jiwa”  menjadi “ilmu perilaku”. Para ahli beralasan mengenai penggantian ini, mereka mengatakan bahwa jiwa bersifat abstrak, sehingga sulit diukur, diamati, dan dicatat. Berbeda dengan perilaku yang bisa diukur, diamati, dan dicatat. Sehingga sampai saat ini, psikologi membatasi diri hanya sekedar mempelajari gejala-gejala kejiwaan yang bisa diamati dan dikaji secara “objektif”.    

Saya jadi teringat dengan apa yang dikatakan Rene Descartes. Beliau mengatakan bahwa manusia terdiri atas dua unsur yang tidak dapat dipisahkan, yaitu jiwa dan raga (Irwanto, 2002, h. 5). Maka, apakah layak psikologi disebut sebagai ilmu yang mempelajari manusia jika psikologi sendiri menjauhkan diri dari mengkaji jiwa itu sendiri dengan alasan jiwa tidak bisa diamati? Belum lagi jika kita menyimak apa yang WHO (Badan Kesehatan Dunia) konsepkan tentang manusia pada 9th Word Congress of Social Psychiatry tahun 1984. WHO menjelaskan bahwa manusia bukanlah sekedar makhluk biologis-psikologis-sosial (bio-psiko-sosio) saja, namun ia adalah makhluk spiritual juga. Atau dengan kata lain, manusia merupakan makhluk bio-psiko-sosio-spiritual (Hawari, 1997, h. 13).

Manusia sebagai makhluk bio-psiko-socio-spiritual
Manusia sebagai makhluk biologis, ilmu psikologi akan menjelaskan motif-motif dasar seperti mengapa manusia terdorong untuk mencari makan, minum, bertahan  hidup, dan  menjaga kelestarian jenisnya. Lalu sebagai makhluk psikologis, manusia mampu untuk berempati, merasakan kegembiraan atau kesedihan, dan bisa tahu mengapa ia sangat termotivasi melakukan sesuatu dan tidak pada sesuatu yang lain. Manusia sebagai makhluk sosial, ia akan cenderung untuk berkelompok, bermasyakat, dan bergabung dalam suatu komunitas tertentu. Ia akan kesulitan jika hidup sendiri. Selanjutnya, adalah konsep manusia sebagai makhluk spiritual. Konsep ini memang belum banyak dibicarakan. Di kampus kita, skripsi-skripsi berdasarkan konsep ini masih cukup jarang dan jika muncul, sering diperdebatkan. Bahkan muncul seloroh, ini skripsinya anak psikologi atau anak IAIN? Padahal fungsi spiritual menempati porsi yang cukup besar terhadap kehidupan manusia.

Para ahli psikologi, misalnya William James yang dikenal juga sebagai bapak psikologi agama telah menyatakan bahwa  “agama sebagai jalan menuju keunggulan manusia”. Demikian pula C. G Jung, beliau mengatakan bahwa penyebab sakit pasien-pasiennya adalah dikarenakan mereka telah kehilangan apa yang diberikan agama kepada penganutnya. Dan beliau juga menambahkan, bahwa tidak seorangpun dapat betul-betul disembuhkan sampai mereka memperoleh kembali pandangan keagamaanya (Rahmat, 2003, h. 208-212).

Menuju psikologi terbuka
Sudah selayaknya bagi kita untuk merenungkan apa yang telah dibahas pada paragraph di atas. Psikologi dalam pertanggungjawaban moralnya sebagai ilmu yang mempelajari manusia hendaklah bisa lebih terbuka. Terbuka terhadap masukkan-masukkan disiplin ilmu yang lain. Bahkan masukan dari agama dan studi-studi kebudayaan setempat. Jujur, saya berikan apresiasi yang mendalam atas dirilisnya Psikologi Jawa, sebuah cabang ilmu psikologi berbasis lokal Jawa (Indigenous Psychologi) oleh Fakultas Psikologi UNDIP.  Sebuah upaya cerdas dan revolusioner agar psikologi bisa lebih bermanfaat bagi kemaslahatan hidup manusia.

Sebagai penutup, Erich Fromm pernah berkata tentang psikologi modern saat ini, bahwa pada umumnya [psikologi] lebih difokuskan pada masalah-masalah ‘sepele’ yang sejalan dengan pendekatan ilmiah yang berdasarkan atas dugaan, ketimbang pada penyusunan metode baru untuk mengkaji masalah-masalah penting tentang manusia (Najati, 2005, h. xiv). Mari kita sambut pemikiran Erich From ini dengan terus mengembangkan keilmuan psikologi. Kita berikan ide-ide segar agar psikologi betul-betul sebagai ilmu yang mempelajari manusia. Sehingga, outputnya nanti misalkan saudara-saudari kita membutuhkan suatu rumusan terapi, maka psikologi dapat memberikan terapi yang holistik dan efektif. Chayoo Psiko!

Ma’roji:
Hawari, Dadang. 1997. Al Qur’an, Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan  Jiwa.Jakarta:Dana Bhakti Prima Yasa.
Irwanto. 2002. Psikologi Umum. Jakarta: PT. Prehallindo
Najati, Muhammad Usman. 2005. Al Qur’an dan Psikologi. Jakarta: Aras Pustaka
Rahmat, Jalaluddin. 2003. Psikologi Agama; Sebuah Pengantar. Bandung: PT. Mizan Pustaka.
Walgito, Bimo. 2004. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta:Penerbit Andi.
Suara Merdeka. Selasa, 18 September 2007. Menemukan Keunggulan Undip.