Allah Yang Maha Sempurna menciptakan segala sesuatunya penuh dengan hikmah dan pelajaran. begitu pula pada dua makhluk ciptaan Nya, yakni Ulat dan Ular.

Belum lama kita lepas dari madrasah ramadhan. selama berada dimadrasah ramadhan ini kita wajib berpuasa. tentunya berpuasa dengan sebenar-benarnya. agar nantinya kita menjadi seorang yang bertaqwa.

Saudaraku, ternyata fenomena puasa tidak hanya dilakukan oleh manusia. Makhluk Allah yang lain juga ada yang berpuasa. mari kita perhatikan ular. pada periode tertentu ia pun berpuasa. Begitu pula ulat, ia berpuasa.

Puasa ular dan ulat ternyata berbeda. Ular berpuasa menjelang ia berganti kulit (mbrungsungi-jawa). Jika periodenya telah sampai, ular akan mencari mangsa. ia makan mangsa-mangsa tersebut sampai cukup. cukup dalam ukuran yang Allah ajarkan kepada si Ular ini. kemudian ia mencari lokasi tertentu untuk berpuasa. berlalu sekian waktu, kemudian kita dapati ular mempunyai "baju" yang baru. ia telah berganti kulit dengan yang kulit yang baru, yang lebih baik dari sebelumnya.

Kemudian puasanya ulat. ulat dalam fase awal hidupnya masih berbentuk larva. ia mempunyai sifat rakus dan gemar makan. tidak heran bapak tani dan pecinta tanaman sangat waspada kalo-kalo ada larva yang mampir ke tanamannya. periode awalnya ini ia akan terus makan. sampai pada periode tertentu ia berpuasa. kita akan perhatikan ia seakan ular ini bertapa. semisal kita perhatikan lebih detil, ular menjadikan tubuhnya menjadi lebih keras. dan hanya nampak dari luar, sesuatu yang bergerak-gerak bila kita pegang. waktu kemudian berlalu, sang pertapa ini berubah dan mempunyai wujud yang baru. ia telah menjadi kupu-kupu yang sangat indah. tidak lagi ia memakan daun secara rakus. sekarang ia memakan makanan yang baik. ia memakan sari bunga yang manis.

Demikianlah Allah jadikan perumpamaan bagi kita. mari kita bertanya, selama ramadhan kemarin kita berpuasa bak ular ataukah ulat?

Puasanya ular hanya berganti baju saja. lidahnya yang dulu bercabang, pasca berpuasa tetap saja masih bercabang. sifatnya yang liar, tetap saja ia liar. dengan kata lain, lidah kita yang sering maksiat tetap saja maksiat. lidah kita yang hobi ghibah dan fitnah, masih saja demikian. kita sekedar memakai baju baru saja selepas ramadhan ini. naudzubillahi mindzalik.

Ataukah puasa kita seperti puasanya ulat? ia semakin baik. ia bermetamorfosis dari keadaan diri  yang berbentuk ulat yang menggelikan menjadi kupu-kupu indah. makananannya pun berbeda, ia memilih makanan yang baik. ibarat manusia, sebelum berpuasa ia jauh dari Allah, ibadah masih bolong-bolong, mau berpuasa sunnah terasa berat, berinfaq terasa sulit, apalagi berjalan ke majelis-majelis ilmu. selepas ramadhan ini mari kita merenung. akankah diri kita sudah semakin baik? kita sudah bukan lagi larva namun sudah menjadi kupu-kupu yang indah nan barokah?

Salah seorang ulama mengatakan "bukanlah orang yang ‘Id orang yang berpakaian baru. tetapi orang yang ‘Id adalah orang yang ketaatannya bertambah". Kiranya renungan ini bisa bermanfaat bagi kita bersama. Jagalah terus ramadhan di hati kita. manfaatkan terus waktu-waktu yang masih Allah karuniakan kepada kita sebesar-besarnya untuk berbuat taat kepadaNya. Sehingga dibulan kemenangan ini kita tetap terus menang. karena pada hakikatnya menurut Imam Ibn Jauzi mempertahankan kemenangan jauh lebih sulit dibandingkan upaya keras kita untuk mencapainya. Wallahu a’lam.

NB: terima kasih kepada Ust. Solikhin Abu Izzudin, penulis buku best seller Zero to Hero, yang telah menginspirasi penulisan renungan ini.