Oleh
Abu Ubaidah (MS SKRIPSI 06-07)

 

Kita awali diskusi
ini dengan memperhatikan sikap seorang muslim yang beriman kepada
Allah dan RasulNya, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

 

 


kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika
kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang
demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An
Nisaa’:59)


 


apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang
dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya. (QS. Al Hasyr: 7)


 

sikap
seorang muslim apabila ia berhadapan pada permasalahan entah itu
permasalahan yang bersifat keduniaan lebih-lebih permasalahan akhirat
adalah mengembalikannya kepada petunjuk Allah (Al Qur’an) dan
Rasul-Nya (As Sunnah). Karena hanya dengan mengikuti petunjuk dari
dua sumber rujukan utama kita ini kita akan mendapatkan penjelasan
yang lengkap, komprehensif, dan solutif. Tiada sumber rujukan lain
yang lebih utama selain keduanya. Kemudian, setelah kita mendapatkan
penjelasan tentang permasalahan-permasalahan yang kita hadapi, kita
harus menerima lalu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah sikap seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.


Sehubungan
dengan paragraf di atas, beberapa waktu ini mahasiswa psikologi
disibukkan dengan rangkaian peristiwa pencurian yang menyebabkan
keresahan sekaligus tanda tanya. Memang sudah bawaan lahir manusia
untuk mencari jawaban atas misteri-misteri yang ditemuinya. Sayang
sekali, kecenderungan ini kurang diarahkan maksimal sehingga ada
sebagian mahasiswa yang mencari jawaban atas berbagai kasus pencurian
tersebut dengan cara yang kurang tepat.  Terus terang saja, yakni
dengan bertanya pada paranormal atau dukun.


Agar
tidak melebar mari kita batasi dulu pengertian dukun pada konteks
pembicaraan kita. Secara umum pengertian dukun adalah sebutan bagi
mereka yang mengetahui sesuatu yang ghaib dengan metode yang
bermacam-macam. Semisal mengetahui tentang masa depan, masalah jodoh,
nasib beruntung atau celakanya, dan rejeki. Padahal, pada hakekatnya
hanya Allah Subhanahu wata’ala semata yang mengetahuinya.
Beberapa metode yang dipakai dijelaskan oleh Al Khudhairiy (2002, h.
69) sebagai berikut:


  1. a’araf
    (peramal): orang yang mengambil (berita ghaib-pen) dari pencuri
    berita (syetan-pen) lalu mengabarkan sesuatu yang ghaib tentang masa
    depan. Pendapat lain mengatakan bahwa al a’araf  adalah
    orang yang mengabarkan apa yang ada di dalam hati, ada pula orang
    yang mengaku mengetahui sesuatu yang dicuri, tempat kehilangan dan
    lain sebagainya.

  2. rammal:
    orang yang mengaku mengetahui yang ghoib dengan jalan memukul
    sesuatu dengan menggunakan batu atau membuat garis di pasir.

  3. kahin:
    (dukun) yaitu orang yang mengaku mengetahui ilmu ghoib.

  4. munajjim:
    orang yang mengaitkan kejadian-kejadian di bumi berdasarkan keadaan
    bintang. Sebagaimana yang sering dijumpai di koran-koran dalam
    bentuk ramalan bintang.


Rasulullah
Shalallahu’alaihi wasalam telah memberikan peringatan kepada
kita mengenai mendatangi, bertanya, atau bahkan meminta pertolongan
kepada mereka dengan ancaman yang sangat keras. Simak hadist-hadist
berikut ini:


Rasulullah
bersabda, ”Barangsiapa mendatangi tukang ramal dan menanyakan
kepadanya tentang sesuatu, lalu ia membenarkan apa yang dikatakannya,
maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari”. 
(HR.
Muslim)

 

Rasulullah
bersabda, “barangsiapa mendatangi dukun lalu membenarkan apa
yang dikatakannya, maka ia benar-benar kafir terhadap apa yang
diturunkan kepada Muhammad Shalallahu’alaihi wasalam (Al Qur’an dan
As Sunnah)”.
(HR. Ke empat periwayat As Sunan, Al Hakim) 

 

Dari
Imran bin Husain radhiallahu’anhu secara mar’fu’,
“Tidak termasuk golongan kami orang yang meramal atau meminta
diramal, dan orang yang melakukan praktek perdukunan atau orang yang
meminta ditangani dukun (meramal atau diramal), menyihir atau minta
disihirkan. Barangsiapa yang mendatangi dukun lalu mempercayai apa
yang dikatakannnya, maka ia benar-benar kafir terhadap wahyu yang
diturunkan kepada Muhammad Shalallahu’alaihi wasalam”.
(HR. Al
Bazzar)


Maka sudah
sepatutnya kita sebagai seorang Muslim memahami permasalahan ini dan
mengambil sikap yang tepat sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan As
Sunah. Secara umum, melalui hadist-hadist di atas, pertama, kita
paham akan kafirnya dukun, tukang ramal, dan sebagainya yang
mengaku-ngaku mengetahui hal-hal yang ghaib padahal hakikatnya itu
adalah kekhususan bagi Allah, haramnya mendatangi. Ke dua, keharaman
untuk mendatangi, bertanya, mempercayai dukun dan semacamnya serta
ancaman besar akan perbuatan tersebut. Ke tiga, kafirnya orang yang
mendatangi dan mempercayai mereka. Ke empat, tidak mungkin terkumpul
antara mempercayai dukun dengan iman kepada Al Qur’an (Al
Khudhairiy, 2002, h. 68).


Oleh karena itu,
kami mengajak segenap rekan di Psikologi untuk mengembangkan nalar
ilmiah dalam menyikapi ujian ini (berbagai kasus pencurian). Di
Psikologi kita telah diajarkan untuk berpikir ilmiah melalui berbagai
metode yang dapat kita tempuh. Kita berharap, cara berpikir dan
metode ilmiah tersebutlah yang digunakan pula dalam merespon
kasus-kasus pencurian ini.


Sadarilah, Allah
memberikan ujian tiada lain agar kita semakin mendekat kepada-Nya.
Maka sikapilah ujian ini dengan perilaku yang menghantarkan kita
kepada keridhoannya. Mungkin sudah ada yang terlanjur percaya apalagi
sampai mem-publis-kan berita-berita dari dukun tersebut, maka
bertaubat segera. Setan sangat suka melihat kaum muslimin bercerai
berai, saling berprasangka negatif satu sama lain, dan hidup dalam
perasaan saling curiga akibat sebuah berita yang belum jelas
kebenarannya. wallahu a’lam bishshawab. 7/12/07

 

Referensi:

Al
Khudhairiy, Ibrahim bin Sholeh.  2002. Tanya Jawab Tauhid.
Syifa: Kantor Kerjasama Da’wah, Bimbingan,  dan Penyuluhan
Orang-Orang Asing.

Alu
Syaikh, Abdurrahman Hasan. 2003. Fathul Majid; Syarah Kitab
Tauhid. Edisi Revisi.
Jakarta: Pustaka Azzam