sebuah taujih reflektif

Alhamdulillah, segala pujian baik hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala. Rabb yang menciptakan alam semesta ini beserta segala isinya. Shalawat serta salam kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam, uswah teladan bagi kita semua. Amma ba’du.

Kita awali tulisan sederhana ini dengan ucapan salah satu salah seorang tokoh dunia, Thomas Carlyle, ia pernah berkata, “Seseorang dengan tujuan yang jelas akan membuat kemajuan walaupun melewati jalan yang sulit. Seseorang yang tanpa tujuan, tidak akan membuat kemajuan walaupun ia berada di jalan yang mulus.” Sejenak kita renungi dua kalimat sederhana tersebut. Silahkan dibaca ulang.

Sering kali sebagian diantara kita melakukan berbagai aktivitas yang memeras segenap tenaga, pikiran, dana, dan waktu tentunya. Akan tetapi upaya-upaya tersebut tidak memberikan manfaat apapun bagi diri kita. Beberapa diantaranya justru hanya menjadikan penyesalan setelah waktu yang lama. Tidak jarang kita diujung waktu bertanya pada diri kita: mengapa kemarin saya tidak begini, kenapa saya kemarin tidak begitu. Serta mengapa saya malah melakukan yang seperti ini dan itu. Mari bersama kita pikirkan, bagaimana bisa terjadi yang demikian?

Ternyata, kita telah melupakan satu hal yang sangat penting. Satu kata saja, yakni TUJUAN. Seseorang yang tidak pernah mempunyai tujuan, maka dia tidak akan pernah sampai. Dan tanpa tujuan kita tidak akan pernah memperoleh kemajuan sedikitpun.

Teman-temanku yang berbahagia. Rasulullah yang kita cintai pernah bersabda, “Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung pada akhirnya” (HR. Bukhori dan Muslim). Dalam hadist lain, Ibnu Umar radiallahu’anhu bercerita bahwa da salah seorang laki-laki anshor bertanya pada rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam. Salah satu pertanyaannya dia menanyakan kepada Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling cerdas? Beliau menjawab, “Orang yang paling sering mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk menghadapi hari-hari sesudahnya, mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah dan Malik).

Salah satu pelajaran yang dapat kita ambil dari dua petunjuk Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam di atas adalah permasalahan tujuan. Bahasa ngetren-nya VISI.

Saya yakin, tiap kita bervisi untuk mendapatkan rahmat Allah dan ditempatkan di surgaNya. Dari hadist yang pertama kita belajar untuk selalu waspada terhadap segala tingkah dan perilaku kita. Kita tidak pernah tahu amal terakhir yang nanti kita lakukan. Apakah amal yang membawa kita ke dalam syurga ataukah amal-amal yang menjebloskan kita menjadi ahli neraka. Padahal setiap amal tergantung pada akhirnya. Belum lagi jika kita berpikir, diantara sekian banyak amal shalih yang kita lakukan dengan pertolongan Allah, berapa banyak yang diterima olehNya? Kita tidak pernah tahu.

Kemudian hadist yang ke dua. Ayolah kita menjadi hamba Allah yang cerdas. Kita mau mati dalam kondisi su’ul khatimah dan berujung dengan murka-Nya atau mati khusnul khatimah yang berujung dengan ksridhoanNya? Sekali lagi ini masalah VISI.

Seorang hamba Allah yang cerdas sudah memahami betul VISInya. Ia Bervisi Akhirat. Ia bervisi surga. Ia bervisi berjuang dan mati dijalan Allah. Ia bervisi untuk selalu berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia bervisi menjaga kesucian dirinya. Dan semua visi-visi lain yang tertuju pada visi utama yakni Surga Allah Subhanahu wata’ala.

Seorang hamba yang cerdas, ia memahami sepenuh hati. Visinya adalah surga. Dan visinya ini bukanlah barang yang murah, tetapi sangat amat mahal sekali. Ia harus membayarnya. Ya kita harus membayarnya. Sekalipun kita TIDAK akan pernah mampu membayarnya. Hanya karena rahmat Allahlah kita bisa “membelinya”.

Teman-temanku yang berbahagia. Implementasinya adalah sehubungan dengan beberapa hari ke depan. Insya allah kita akan menikmati libur panjang akhir semester. Saya yakin sebagian dari kita nantinya akan pulang ke rumah. Maka sejak detik ini cobalah kita pikirkan, apa yang saya lakukan selama liburan ini? tentunya kita harus melakukan perbuatan-perbuatan yang SESUAI dengan VISI SURGA kita. Buatlah target-targetnya, jadikan itu tujuanmu. Misalkan, “saya bertekad selama saya di rumah saya akan berwajah yang menyenangkan didepan orangtua saya. Saya sadar bahwa membahagiakan mereka termasuk birrul walidain. Dan birrul walidain merupakan jalan menuju VISI SURGA saya. Ya Allah berilah saya petunjuk dan keistiqomahan untuk mewujudkannya. Terus takbir 3X. Allahu akbar… Allahu Akbar…Allahu Akbar”. Atau misalkan target merampungkan tahfidz juz 30 yang sudah lama kita rintis dan lain sebagainya.

Sebagai catatan, visi tersebut harus jelas, spesifik, dan memang dapat dicapai. Artinya, kita paham bahwa kesuksesan itu merupakan sekumpulan dari pelbagai kesuksesan-kesuksesan kecil kita. Kita susun secara spesifik, terukur, jelas, lalu kita buat target-targetnya. Misalkan bagi kita yang mentargetkan menjadi ahli sadaqah, maka mulailah menjadwalkan diri selama liburan minimal dalam setiap hari ia bersedekah seratus rupiah. Kita ciptakan kebiasaan untuk bersedekah mulai dari yang kecil. Ingatlah kekuatan kebiasaan, Stephen R. Covey pernah mengatakan, “Pertama-tama bentuklah kebiasaan. Selanjutnya kebiasaan yang akan membentukmu”.

Demikian tulisan sederhana ini dibuat, semoga bisa menjadi tadzkiroh dan amal shalih bagi kita bersama. Hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala kita bermohon taufiq dan hidayah. Wallahu a’lam bishshawab.

by Dhèn @njrahas

Wisma Cah Ganteng,

16 Januari 2008,

pukul 11.06 WIB.