Beberapa
kali saya mengikuti seminar entrepreneur yang didalamnya ‘menghujat’
pekerjaan mulia mengabdi pada negara ini. Sepenangkapan saya, kog
dalam seminar-seminar tersebut profesi sebagai Pegawai Negeri Sipil
kog ya ‘nista’ amat. Apalagi sering dikaitkan dengan penghasilan
yang dihasilkan itu cenderung sedikit, identik dengan kemiskinan, dan
jiwa-jiwa yang kurang pemberani.

Gambaran
tersebut seakan menafikan partisipasi beliau-beliau (PNS) dalam
membangun bangsa dan negara ini. Termasuk kesuksesan para
entrepreneur petrodollar sekalipun tidak lepas dari manusia
yang terletak dikuadran kiri ini. Simpelnya, siapa sih yang membantu
mereka memasukkan dan mengeluarkan barang? Apa mereka tidak melewati
bea cukai? Aku Tanya, “Siapa yang ada dibea cukai? Siapa yang
menjadikan barang Anda menjadi laku diluar negeri secara legal dan
dipercaya para pelanggan?”. Di sana-sini banyak sentuhan tangan
dingin manusia yang dikelompokkan oleh Robert T. Kiyosaki dalam kelas
Employee ini.

Aku
juga kurang setuju, jika profesi mulia ini semata-mata dinilai dari
sisi penghasilan saja. Sebuah contoh luar biasa diteladankan oleh
Mbah Maridjan. Saya yakin setiap kita mengenal mbah Maridjan melalui
slogan “Rosa-rosanya”. Namun, mari kita teliti lebih jauh profil
beliau ditinjau dari beliau sebagai ‘pegawai negerinya’ Keraton
Yogyakarta.  Dijelaskan oleh Sri Sultan yang tidak lain adalah big
boss
-nya bahwa beliau sampai bangga punya pegawai berdedikasi
tinggi seperti Mbah Maridjan. Selanjutnya dikatakan oleh beliau, Mbah
Maridjan merupakan potret patriot dan negarawan yang patut ditiru.

 

Sri
Sultan mencontohkan betapa amanahnya beliau terhadap ‘tugas negara’
untuk menjadi kuncen gunung merapi, disaat semua orang
mengungsi, beliau tetap pada tugasnya. Disaat muncul instruksi untuk
mengungsi oleh bupati Sleman, beliau tetap pada tempatnya. Saat
ditanya perihal kenapa tidak ‘turun gunung’, kenapa tidak ikut
mengungsi, padahal keadaannya sudah sangat membahayakan? Sri Sultan
dengan penuh takdzim menjelaskan alasannya. Menurut Raja
Keraton  Yogyakarta ini, Mbah maridjan mengatakan bahwa dirinya
mengabdi pada Sultan. Sultanlah yang memberikan amanah kepadanya
untuk  menjaga gunung merapi. Sedangkan kanjeng sinuhun (Sri Sultan)
belum memerintahkan saya (Mbah Maridjan) untuk mengungsi.

 

Luar
biasa jawaban Mbah Maridjan ini. Beliau tidak bergeser dari tugasnya,
sampai pimpinan tertingginya memerintahkan beliau untuk berpindah.
Bagi saya, inilah profil Pegawai Negeri Sejati.  Entah berapa gaji
beliau menjaga gunung Merapi yang luasnya berhektar-hektar. Bukan
barang yang tidak mungkin, gaji beliau menjadi seorang kuncen
tidaklah lebih banyak jika dibandingkan gaji seorang kepala dusun di
tempat KKN saya.  Namun Allah subhanahu wata’ala Mahaadil.
Dedikasi, pengorbanan, tanggung jawab beliau terhadap amanah yang
diembannya ‘dibayar’ mahal. Yakni dengan terpilihnya beliau
menjadi bintang iklan sebuah minuman energi di Indonesia ini.

Singkatnya,
saya berpikir bahwa menjadi PNS juga merupakan pilihan yang baik.
Profil ‘PNS’ Unggulan seperti Mbah Maridjan hendaknya bisa kita
jadikan pelajaran yang berharga. Menjadi PNS bukan semata-mata faktor
materi. Bukan pula mengejar pretise, kekayaan, atau bahkan sebagai
ajang sebesar-besarnya untuk menjadi hamba nafsu dan perut. Akan
tetapi, lebih mulia dari itu, yakni kita menjadi PNS yang menjalankan
fungsi kita sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi ini.

In
other hand
, kritikan negative dari para entrepreneur dan image
negative dari masyarakat mengenai PNS juga hendaklah disikapi secara
terbuka. Masukan berharga ini sesegera mungkin dicerna, diserap, dan
dipahami. Kemudian dijadikan sebagai motivasi dan batu loncatan untuk
meningkatkan kinerja, profesionalitas, dan produktivitas dalam
menjalankan amanah-amanahnya.  Terakhir, jadilah PNS sejati yang
berjiwa  Entrepreneur, dan seorang entrepreneur yang berjiwa PNS
sejati. Why? Seorang Entrepreneur juga harus berjiwa PNS sejati agar
dia tidak lupa kepada rakyat, sehingga dengan mudahnya Ia jual tanah
airnya sendiri untuk dapatkan satu dua koin recehan. Wallahu
a’lam bish shawab.

dhen@njrah. Kalirejo metropolitan, 15/2/08. 06.02