By dhen Anjrah

26 maret 2008, pukul 09.00, in Wisma Cah Ganteng.

Iri dengan ibu-ibu yang hamil? Ya, jujur saya ngiri. Sekaligus takjub dengan ke Mahaadillan Allah Subhanahu wata’ala terhadap hamba-hambaNya. Irinya, disebabkan penulis berasal dari kaum Adam yang secara fitrah tidak mungkin hamil. Sekalipun ntah nanti di abad ke 40 (mungkin) bisa hamil, aku pikir justru akan menjadi madharat yang besar bagi diri maupun jabang bayinya.

Tentang keadilan Allah Subhanahu wata’ala, secuil hikmah yang kita petik, kita dapat memahami bahwa Allah sangat sayang kepada hamba-hambanya. Para calon ibu mengandung dengan penuh keasabaran, perjuangan, dan pengorbanan dari hari ke hari kian berat dan lemah. Sedikit kita bisa mendapatkan gamabaran keadaan tersebut dalam firman Allah, “ Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”(QS. Luqman:14). Pengorbanan tersebut dengan rahmatNya kemudian ‘dibayar’ mahal. Dalam salah satu hadist, dari Ibnu Umar  Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam bersabda,”Wanita yang sedang hamil dan menyusui sampai habis masa menyusuinya, seperti pejuang di garis depan fisabilillah. Dan jika ia meninggal diantara waktu tersebut, maka sesungguhnya baginya pahala mati syahid”. (HR. Thabrani). Subhanallah…

                Pernah saya menonton sebuah film dokumenter yang merekam peran dan perjuangan para akhowat yang ada di Palestina. Digambarkan dalam film tersebut bagaimana semangat para akhowat selain mendukung suaminya untuk maju ke front jihad, tetapi juga melalui madarasah-madrasahnya ia didik mujahid-mujahid yang cinta kematian. Ia mendidik Khalid bin Walidnya abad ini. Mereka mendidiknya penuh cinta dengan bimbingan Al Qur’an dan Sunnah. Mereka betul-betul persiapkan ‘bingkisan’ untuk Allah Subhanahu wata’ala ini dengan sebaik-baiknya.

            Bukan pujian yang mereka harapkan. Bukan popularitas yang mereka inginkan. Bukan pula harta atau perhiasan dunia yang menyilaukan mata sebagai motivasi mereka. Hanyalah wajahNya dan ridhoNya yang menjadi cita-cita. Imam Ibnu Jauzi dalam Shifatus Shofwah dan Ibnun Nahhas dalam Masyariqul ‘Asywaq mengisahkan orang shalih yang bernama Abu Qudamah asy Syami.

            Abu Qudamah ini adalah orang yang hatinya dipenuhi kecintaan akan jihad fisabilillah. Tak pernah ia mendengar akan jihad fi sabilillah, atau adanya perang antara kaum muslimin dengan orang kafir, kecuali ia ambil bagian bertempur dipihak kaum muslimin. Ringkasnya, di saat Abu Qudamah sedang duduk-duduk di Masjidil Haram ada seseorang yang menghampirinya seraya bertanya,”Hai Abu Qudamah, Anda adalah orang yang gemar berjihad di jalan Allah, maka ceritakanlah peristiwa paling ajaib yang pernah kau alami dalam berjihad”.

            Kemudian Abu Qudamah bercerita ketika beliau berada pada salah satu medan jihad, beliau dipanggil-panggil oleh seorang penunggang kuda. Si Penunggang Kuda tersebut kemudian menyatakan keinginannya untuk ikut berjihad bersamanya. Akan tetapi setelah Abu Qudamah melihatnya, ternyata ia adalah seorang pemuda yang baru berumur 17 tahun. Abu Qudamah mengatakan bahwa dirinya masih terlalu muda untuk ikut serta berjihad, beliau menyarankan kepada pemuda ini agar pulang ke rumah.

            Akan tetapi pemuda ini terus bersikeras supaya diijinkan ikut berjihad. Ia bercerita kepada Abu Qudamah bahwa ibunya telah berkata padanya,”Wahai anakku, jika kamu telah berhadapan dengan musuh, maka janganlah kamu melarikan diri. persembahkanlah jiwamu untuk Allah. Mintalah kedudukan disisiNya, dan mintalah agar engkau ditempatkan bersama ayah dan paman-pamanmu di Jannah. Jika Allah mengaruniaimu mati syahid, maka mintalah syafa’at bagiku”. Kemudian ibu memelukku, lalu menengadahkan kepalanya ke langit seraya berkata,”Ya Allah… ya Ilahi… inilah puteraku, buah hati dan belahan jiwaku, kupersembahkan ia untukmu, maka dekatkanlah ia dengan ayahnya”.

            Abu Qudamah setelah mendengar cerita tersebut lalu berkata,”Aku benar-benar takjub dengan anak ini”. pemuda ini kembali menyela, ia mengatakan,” Karenanya, ku mohon atas nama Allah, janganlah kau halangi aku untuk berjihad bersamamu. Insya Allah akulah asy syahid putra asy syahid. Aku telah hafal Al Qur’an. Aku juga jago menunggang kuda dan memanah. Maka janganlah meremehkanku hanya karena usiaku yang masih belia”. Akhirnya, Abu Qudamah tak kuasa melarangnya, ia sertakan pemuda ini bersamanya.

            Di medan jihad, Abu Qudamah melanjutkan ceritanya, demi Allah ternyata tidak pernah kulihat  orang yang lebih cekatan darinya. Ketika pasukan bergerak, dialah yang tercepat, ketika kami singgah untuk beristirahat, dialah yang paling sibuk mengurusi kami, sedang lisannya tak pernah berhenti dari dzikrullah sama sekali. Pemuda ini memang mengambil peran sebagai pelayan bagi seluruh pejuang yang berjihad.

            Saat kedua pasukan sudah berhadapan, Abu Qudamah melihatnya berada pada barisan yang terdepan. Padahal pertempuran ini adalah pertempuran yang pertama baginya. Abu Qudamah menyarankannya untuk mengambil posisi belakang. Namun kembali ia menolaknya, ingin memburu surga katanya. Ia juga membacakan sebuah surat, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, Maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, Maka Sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. dan Amat buruklah tempat kembalinya”. (QS. Al Anfal: 15-16).

            Perang semakin memuncak, terdengar derap kaki kuda yang diiringi gemerincing pedang dan hujan panah. Lalu mulailah kepala-kepala berjatuhan satu demi satu.  Bau anyir darah tercium dimana-mana. Tangan dan kaki bergelimpangan. Dan tubuh-tubuh tak bernyawa tergeletak bersimbah darah. Demi Allah, perang telah menyibukkan tiap orang akan dirinya sendiri dan melalaikan orang lain. Sabetan dan kilatan pedang diatas kepala tidak henti-hentinya, menjadikan suhu tubuh memuncak, seakan ada tungku tanur yang menyala di atas kami.

            Setelah pertempuran habis-habisan hingga matahari tergelincir dan masuk waktu dzuhur, Allah Subhanahu wata’ala berkenan menganugrahkan kemenangan bagi kaum muslimin, dan pasukan salib lari tunggang langgang. Abu Qudamah lalu teringat dengan pemuda tadi. Ia kemudian mencarinya ditengah para korban. Disaat itu, ia mendengar ada suara lirih dibelakangnya yang mengatakan,”saudara-saudara… tolong panggilkan pamanku Abu Qudamah kemari… panggilkan Abu Qudamah kemari”. Kemudian, Abu Qudamah mendekati sosok pemuda tersebut kini telah babak belur terinjak pasukan berkuda. Puluhan tombak telah menusuk tubuhnya. Dari mulutnya keluar darah segar. Dagingnya tercabik-cabik dan tulangnya remuk total. Selanjutnya pemuda itu menyampaikan wasiat untuk ibu dan adik perempuannya.

            Wasiat kepada ibunya, ia ingin Abu Qudamah berkata,”Paman… berjanjilah bahwa sepeninggalannku nanti kau kembali ke Raqqah, dan memberikan kabar gembira bagi ibuku bahwa Allah telah menerima hadiahnya, dan bahwa anaknya telah gugur di jalan Allah dalam keadaan maju dan pantang mundur. Sampaikan padanya jikalau Allah menakdirkanku sebagai syuhada, akan kusampaikan salamnya untuk ayah dan paman-pamanku di jannah (surga)”.  Kemudian pemuda ini menyampaikan wasiat untuk adiknya dan mengatakan bahwa dirinya telah melihat bidadari surga dan telah mencim wanginya, ia pun sekarat. Nafasnya mulai tersengal-sengal dan wafat dipangkuan Abu Qudamah.

            Sekembalinya dari medan jihad, Abu Qudamah menemui ibunya. Sang ibupun menemui dengan wajah yang tertutup gaunnya. Ia lalu bertanya, “Hai Abu Qudamah, engkau datang hendak berbela sungkawa atau memberi kabar gembira?”. Maka Abu Qudamah bertanya,”Semoga Allah merahmatimu. Jelaskan kepadaku apa yang kau maksud dengan bela sungkawa dan kabar gembira itu?”. Ibu pemuda itu menjawab,”Jika kau hendak mengatakan bahwa anakku telah gugur di jalan Allah, dalam kedaaan maju dan pantang mundur berarti engkau datang membawa kabar gembira untukku, karena Allah telah menerima hadiahku yang telah kusiapkan untukNya sejak tujuh belas tahun silam. Namun jika engkau hendak mengatakan bahwa anakku kemabli dengan selamat dan membawa ghanimah, berarti engkau datang untuk berbela sungkawa kepadaku, karena Allah belum berkenan menerima hadiah yang kupersembahkan untukNya”.

            

Lalu Abu Qudamah menceritakan apa yang telah terjadi pada anak tersebut dengan membawa serta bukti gamis dan surban yang dikenakan oleh ibu tersebut sewaktu berangkat jihad. Adapun gadis kecil, adik pemuda tadi, berteriak histeris lalu jatuh terkulai tak sadarkan diri. keadaan tersebut semakin parah sehingga menghantarnya menuju Allah Subhanahu wata’ala. Kemudian sayup-sayup Abu Qudamah mendengra sang Ibu bermunajat,”Ya Allah, aku telah merelakan kepergian suamiku, saudaraku, dan anakku di jalanMu. Ya Allah kuberharap engkau meridhaiku dan mengumpulkanku berasama mereka di JannahMu”.

Allahu Akbar. Bukan sekedar kisah perjuangan yang sangat berani yang ditunjukkan oleh pemuda berusia 17 tahun tersebut yang menakjubkan. Namun, sungguh teladan figur seorang ibu yang luar biasa yang menyiapkannya dengan sebaik-baik persiapan. Sang ibu mendidik anaknya menjadi seorang mujahid yang tak gentar saat berhadapan dengan lawan, yang basah lidahnya dengan dzikrullah, dan yang cinta untuk mati fisabilillah.

Semoga banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dari diskusi kita kali ini. Terutama bagi para akhowat yang berencana hamil, sedang hamil, ataupun yang sudah diamanahi anak, sudah sepatutnya untuk sebanyak mungkin belajar dan menuntut ilmu. Siapkanlah putra-putri kita menjadi shalih dan shalihah hingga karenanya dien islam ini tegak serta menjadi rahmat bagi semesta alam.

Jangan hanya melihat kecerdasan Imam Asy Syafi’i,

Atau kejeniusan Hasan al Bashri,

Atau kepandaian Urwah,

Tapi lihat… Siapa dulu ibunya?

            Wallahu a’lam.

Ma’roji:

Baswedan, Sufyan bin Fuad. 2006. Ibunda Para Ulama. Klaten: Wafa Press

http://www.alquran-digital.com

Suara Hidayatullah. Edisi 09 (XX). Januari 2008/  Dzulhijah 1428.