Bulusan, 9 April 2008

Berhati-hati dalam menyampaikan ilmu (agama)

Ketika datang kepadanya seseorang yang meminta suatu hadist, maka
jiwanya akan merasa terbebani sekali untuk memberikannya. Fudhail
berkata,”Seandainya kamu meminta kepadaku beberapa dinar, maka itu
akan lebih mudah bagiku untuk memberikannya daripada kamu meinta
kepadaku hadist”. Dijawab oleh yang datang kepadanya,”Barangkali
kamu memberikan kepadaku hadist-hadist yang berisi faedah-faedah yang
tidak aku miliki, maka itu lebih membuatku senang daripada kamu
memberikan beberapa dinar”.

Fudhail kembali menjawab,”Sesungguhnya kamu telah terkena fitnah.
Ketahuilah aku bersumpah demi Allah, seandainya kamu mempraktikkan
hadist-hadist yang telah kamu dengar dan peroleh, maka itu sudah
cukup membuatmu sibuk dari yang belum kamu dengar. Engkau telah
mendengar Sulaiman bin Mihran berkata,’Jika dihadapanmu terdapat
makanan yang ingin kamu makan, lalu kamu mengambilnya segenggam demi
segenggam untuk kamu buang kebelakangmu, kapan kamu merasakan
kenyang!?’”.

Sedih dan takut

Fudhail berkata, “Kosongkan hatimu untuk sedih dan takut sampai
keduanya dapat bersarang. Apabila sedih dan takut bersarang pada
hatimu, maka keduanya akan membentengimu dari melakukan maksiat dan
menjauhkan dirimu dari api neraka”.

Efek dosa dan maksiat

Fudhail berkata,”Jika kamu tidak mampu menunaikan qiyamul lail
dan puasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu
terhalangi dan terbelenggu oleh dosa dan kesalahan yang kamu
perbuat”.

Jenis-jenis manusia

Dari Ibrahim bin Al Asy’ats, dia berkata, “aku teah mendengar Al
Fudhail bin Iyadh berkata,”Manusia yang paling berdusta adalah
manusia yang mengulangi perbuatan dosa yang pernah dilakukannya.
Manusi paling bodoh adalah manusia yang menunjukkan amal kebaikannya.
Manusia yang paling mengetahui Allah adalah manusia yang paling takut
kepadaNya. Manusia tidak akan sempurna sehingga agamanya mampu
mengalahkan nafsunya, dan manusia tidak akan binasa sehingga nafsunya
mengalahkan agamanya”.

Sedih dan gembira

Fudhail berkata,”Sedih di dunia menhilangkan keresahan di akhirat,
dan gembira di dunia menghilangkan manisnya beribadah”. 

Taken from: Farid, Ahmad. 60 Biografi Ulama Salaf. Jakarta:
Pustaka Al Kautsar