Bulusan, 14 April 2008

 

Tipuan mata

Ibnu Al Mubarak telah berkata,”Sesunggunya mata ditipu oleh empat
perkara, pertama; Dosa yang telah lewat, pandangan mata tidak
mengetahui apa yang Allah perbuat sebagai balasan doas tersebut.
Kedua; Umur yang telah berlalu, pandangan mata tidak mengetahui
bagaimana harus  mempertanggungjawabkan dosa yang telah diperbuat
selama itu. Ketiga; Kemulian yang telah diberikan, pandangan mata
tidak mengetahui apakah kemuliaan itu adalah tipuan atau tingkatan
yang sebenarnya telah didapat. Keempat; Keseasatan yang menghiasai
seseorang, sedangkan ia menganggapnya sebagai petunjuk. Barangsiapa
menyeleweng sedikit, maka dengan cepat matanya akan membohonginya,
dan agamanya akan rusak, sehingga dia tidak menyadarinya.”

Keutamaan Jihad

Dari Muhammad bin Ibrahim bin Abu Sakinah, ketika Abdullah bin
Mubarak berada di Tharsus, tahun 170 H, dia mendiktekan kepadaku
beberapa bait syair, lalu aku membawa syair-syair itu kepada Al
Fudhail bin Iyadh. Isi Syairnya adalah

Wahai
ahli ibadah di dua tanah haram, jika kamu melihat kami

Tentu
kamu mengetahui bahwa kamu dalam ibadah itu bermain-main

Barangsiapa
yang pipinya berlumuran dengan air matanya, maka leher-leher dan dada
kami berlumuran dengan darah kami

Atau
kuda-kudanya berlelah-lelah dalam kebatilan

Maka
kuda-kuda kami dalam perang berlelah-lelah

Angin
berbau harum adalah untukmu sedang bau harum kami adalah debu kaki
binatang dan debu yang suci

Sungguh
telah datang kepada kami diantara sabda nabi kami, perkataan yang
benar, jujur, dan tidak berdusta.

Tidak
sama debu kuda di jalan Allah, dalam hidung

seseorang
dengan asap api yang menyala-nyala.

Ini
adalah kitab Allah berbicara tanpa berdusta diantara kami

Orang syahid itu sesungguhynya mereka bukan mati


Ketika aku bertemu dengan Al Fudhail bin Iyyadh di dalam Masjidil
Haram sedang dia sibuk dengan bukunya, lalu aku memberikan
syair-syair yang ditulis Al Mubarak kepadanya, dan ketika ia membaca
syair-syair tersebut ia tak kuasa menahan air matanya, kemudian dia
berkata,”Benar Abu Abdirrahman (Al Mubarak), dia telah
menasihatiku”. Kemudian dia berkata,”Apakah kamu yang telah
menulis ini?” Aku berkata,”Benar wahai Abu Ali”. Dia berkata,
“Tulislah hadist ini sebagai balasan jerih payahmu yang telah
membawa tulisan Abu Abdirrahman kepada kami”. Kemudian Al Fudhail
mendiktekan bahwa dicerutakan dari Manshur bin Al Mu’tamir dari Abu
Shaleh, dari Abu Hurairah, dia berkata,”Seseorang bertanya kepada
Rasulullah, “Wahai Rasulullah, ajarkan padaku suatu ibadah yang
pahalanya bisa menyamai pahala orang-orang yang berjihad di jalan
Allah”.

Maka rasulullah menjawab,”Mampukah kamu menunaikan shalat
kemudian tidak berbohong, dan bisakah kamu berpuasa dan tidak
membatalkannya?”.
Orang itu menjawab,”Wahai Rasulullah, aku
lemah menjalankan semua itu”.

Kemudian, nabi bersabda,”Demi Dzat yang jiwaku berada di dalam
kekuasaanNya, seandainya kamu mampu menjalani hal diatas, sungguh
kamu tidak akan menyamai keutamaan orang-orang yang berjihad di jalan
Allah. Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kuda seorang mujahid yang
berlari dengan talinya, maka dicatat banyak kebaikan untuknya karena
jihad itu”.
(Bukhori-Muslim)

Antara sombong dan ‘ujub

Abu Wahab Al Marwazi berkata,”Aku pernah bertanya kepad Ibnu Al
Mubarak tentang kesombongan, dia menjawab,”Kesombongan adalah jika
kamu memandang rendah terhadap orang lain. Aku bertanya lagi tentang
sifat ‘ujub, dia menjawab,” Jika kamu memandang terhadap
apa yang kamu miliki tidak dimiliki orang lain”.

 

Taken from:

Farid, Ahmad. 60 Biografi Ulama Salaf. Jakarta: Pustaka Al
Kautsar

Alu Syaikh, Abdurrahman Hasan. 2002. Fathul Majid.
Jakarta:Pustaka Azzam