Bulusan,
21 April 2008

 

Di pagi yang cerah ini,
beberapa kali jiwaku ini berontak. Ia merasa terkekang dan ingin
melakukan segala sesuatu yang disenanginya. Ia tidak mau untuk terus
bersabar. Ia ingin segera menemukan kenikmatan-kenikmatan yang saat
ini sebenarnya masih terlarang baginya. Aku yakin, syahwat dan
syubhatlah yang telah mempengaruhinya.

 

Wahai jiwaku, sadarlah.
Syahwat dan syubhat tidak lain ingin menipumu. Kecuali syahwat yang
memang dirahmati oleh Allah. Yakni syahwat yang dalam tuntunan Al
Qur’an dan As Sunnah padanya. Tegarlah engkau untuk menetapi
kesabaran dalam ketaatan.

 

Wahai
jiwaku, ingatlah bersabar dalam menetapi ketaatan, segala rasa
derita, perjuangan yang berat, dan pedihnya bertahan kepadanya adalah
lebih ringan daripada sabarnya kita nanti merasakan azabNya.
Merasakan segala azab sebagai balasan dosa dan maksiat-maksiat yang
engkau lakukan.

 

Sadarilah
jiwaku, apakah engkau lebih memilih rasa sakit dan derita yang
berkepanjangan di akhirat nanti? Ingatkah engkau, akan azab teringan
sebagaimana yang telah kekasihmu (Rasulullah Shalallahu’alaihi
wasalam) sampaikan adalah azab bagi pamannya? Yakni sebuah siksa yang
mampu mendidihkan otak kita saat kita merasainya?

 

 Tegarlah jiwaku,
tetaplah engkau dalam petunjuk. Amal-amal yang telah dilakukan belum
tentu diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala. Tidak ada yang bisa
memastikan ibadah-ibadah tersebut diterima olehNya Yang Mahapengasih.
Maka bagaimana engkau merasa aman melakukan maksiat kepadanya?

 

Wahai jiwa, ingatkah
engkau akan nasihat Syaikh Al Jibrin? Cermati baik-baik nasihat ini
untukmu:

Katakanlah
kepada si lengah agar bersiap

Menyongsong
datangnya kematian yang pasti.

Zaman
telah mengusangkan masa muda

Dan
bila ia telah berlalu tak mungkin kembali.

Tidakkah
para pelaku maksiat takut

Kepada
Dzat yang memiliki saiksaan yang paling pedih.

Di
hari ketika segalanya diperiksa

Yang
disitu kata-kata tak berbatas lagi.

Sampai
kapan para pemuda terus sibuk dalam kesia-siaan

Sementara
persoalan besar telah menantinya.

Yang
dijanjikan zaman kepada orang-orang

Hanya
melulu kelelahan dan kesusahan.

Wahai
yang berangan-angan diabadikan oleh kenikmatannya

Sementara
lari dari kematian yang justru membuntutinya.

Kenikmatan
akan selalu datang kepada siapa yang mengangankannya

Juga
akan selalu pergi.

Kenikmatan
hanya semiasal baju untuk mengelabui

Yang
sejati hanyalah ke liang kubur dan lahat.

Umur
selalu memendek setiap hari

Hanya
pada angan ia memanjang tanpa henti.

 

 Jiwaku yang
semoga tetap dalam petunjuk Allah Subhanahu wata’ala ingatlah selalu
nasihat-nasihat ini. Jagalah ketaqwaanmu kepada Allah, kuatkan sabar
atas dirimu, dan jauhi ketergesaan. Aku berharap, engkau akan selamat
dari segala tipuan-tipuan yang menjerumuskan ke dalam kebinasaan.
Karena sungguh Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam telah
bersabda,”Sungguh Allah Subhanahu wata’ala cemburu (membenci),
dan kecemburuan Allah yaitu dengan datangnya seorang mukmin terhadap
apa yang diharamkan oleh Allah kepadanya. Sesungguhnya seseorang
tidak akan memasuki surga kecuali dengan jiwa yang selamat”
(HR.
Bukhori-Muslim).

 

              Wahai jiwaku jagalah
taubatmu dan penuhilah panggilan Rabbmu,” Hai jiwa yang tenang.
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam
syurga-Ku
.” (QS. Al Fajr: 27-30).

 

Ma’roji:

Al
Jibrin, Abdullah bin Ibnu Abdurrahman. Sampai Kapan Bermaksiat?.
Solo:Pustaka Arofah