Jum’at, 31 Oktober 2008

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita berbagai nikmat yang tidak pernah kita mampu menghitungnya. Shalawat dan salam bagi rasulullah . ‘Amma ba’du.

Pada kesempatan yang baik ini, penulis bermaksud mengupas sebuah perkara negatif yang sudah mengejala dalam keseharian kita tidak terkecuali pada para aktivis da’wah. Perkara negatif ini sudah dilakukan secara pribadi maupun secara kolektif dalam wadah organisasi. Mengapa penting saya membahasnya? Pertama, sebab perkara ini mengandung dosa yang besar, akan tetapi seakan sudah menjadi tidak berdosa lagi serta cenderung di pandang remeh dan terus dilakukan. Padahal sehubungan dengan perkara tersebut Allah langsung kaitkan dengan azab yang sangat keras (neraka). Kedua, sehubungan dengan citra da’wah islam secara keseluruhan. Apa perkara tersebut? Sifat munafik dan perilaku kemunafikan. Semoga Allah menjaga diri kita dari perkara buruk ini. Sebelumnya kita lanjutkan perhatikan firman Allah ,

Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela’nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal” (At Taubah:68).

Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali” (QS. Al Fath:6).

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka (QS.An Nisa 145).

Saya tidak bermaksud mengupas secara jauh tentang munafik dengan berbagai dalil dari Al Kitab maupun Sunnah, karena hal tersebut bukan kapabilitas saya. Hanya saya, saya ingin mengingatkan diri saya dan saudara-saudaraku sekalian dari sifat munafik dengan tulisan reflektif yang sederhana ini.

Kembali ke topik, ikhwah fillah, nifaq secara bahasa berasal dari kata naafiqaa’ yang artinya adalah salah satu lobang tempat keluarnya yarbu (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, dimana jika ia dicari dari lobang yang satu maka akan keluar dari lobang yang lain. Nifaq dikatakan pula, ia berasal dari kata nafaq yaitu lobang tempat sembunyi. Menurut syara’ nifaq berarti menampakkan islam dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan.

Dilihat dari jenisnya, nifaq ada dua jenis, yaitu

  1. nifaq I’tiqadi (keyakinan)

disebut juga dengan nifaq besar. Pelakunya menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran. Nifaq besar menjadikan seseorang keluar dari agama dan pelakunya kekal berada di kerak neraka. Orang-orang munafik jenis ini selalu ada disetiap jaman. Lebih-lebih ketika tampak kekuatan islam dan mereka tidak mempu membendungnya secara lahiriah. Mereka akan masuk ke dalam islam untuk melakukan tipu daya terhadap agama dan pemeluknya secara sembunyi-sembunyi. Mereka bisa hidup bersama umat islam dalam hal jiwa dan hartanya. Mereka menampakkan keimanannya kepada Allah, MalaikatNya, Rasul-rasulNya, kitab-kitabNya, dan hari akhir. Padahal batin mereka berlepas dari semua itu dan mendustakannya. Bentuk nifaq jenis besar ada empat macam:

    • mendustakan rasulullah atau mendustakan sebagian dari apa yang beliau bawa

    • membenci rasulullah atau membenci sebagian apa yang beliau bawa

    • gembira dengan kemunduran agama rasulullah

    • tidak senang dengan kemenangan agama rasulullah .

  1. nifaq ‘Amali (perbuatan)

yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang munafiq, tetapi masih tetap ada iman di dalam hati. Nifaq jenis ini tidak mengeluarkan seseorang dari agama, tetapi merupakan wasilah (perantara) kepada yang demikian. Pelakunya berada dalam iman dan nifaq. Jika perbuatan nifaqnya banyak, maka akan menjadi sebab terjerumus ke dalam nifaq yang sesungguhnya. Rasulullah bersabda,”Ada empat hal, yakng jika ada pada seseorang maka ia menjadi munafik sesungguhnya, dan jika orang memiliki kebiasaan salah satu daripadanya, berarti ia memiliki kebiasaan (ciri) nifaq sampai ia meninggalkannya. Bila dipercaya ia berkhianat, bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ia memungkiri dan bila bertengkar, ia berucap kotor (HR. Muttafa’Alaih). Dalam hadist lain nabi bersabda,” tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ingkar, dan apabila dipercaya ia berkhianat”. (HR. Muttafaq’ Alaihi).

Sebenarnya ada banyak bentuk perilaku nifaq dalam keseharian kita, misalkan bagi seorang ikhwan yang malas shalat berjamaah di masjid, ada pula perilaku mengadu domba, lempar batu sembunyi tangan, melakukan provokasi, dan sebagainya. Pada artikel sederhana ini saya akan menyoroti yang sederhana saja.

Ikhwah fillah, tidak satu dua kali terjadi kita telah melakukan perbuatan nifaq bahkan pada acara-acara da’wah. Misalkan masalah undangan dan hasil pelaksanaan acara di lapangan. Sebagian kita (menjadi panitia) sering mengundang rekanan, teman, kolega, guru atau siapapun pada jam dan menit tertentu. Akan tetapi pada hari H pelaksanaan, acara tersebut tidak tepat waktu. Sebagian panitia berfikir hal tersebut adalah hal yang wajar tentunya dengan berusaha mencari segudang alasan pemakluman. Akan tetapi ya ikhwah perhatikanlah, bukankah kalimat yang kita tulis dalam undangan sebenarnya merupakan ikrar (jika tidak dikatakan janji) antara panitia dan hadirin yang diundang. Ketika kita (panitia) mengundang saudaranya pukul 08.00 WIB bukankah -dalam perpektif yang sedikit berbeda- juga bermakna bahwa Saya (panitia) berjanji kepada saudara (yang panitia undang) bahwa acara akan dimulai pukul 08.00 WIB. Ternyata panitia tidak menepati janjinya dan memulai acaranya pukul 09.00 WIB bahkan pukul 10.00 WIB. Kata apa yang tepat untuk mengkategorikan perbuatan seseorang/kelompok yang berjanji kemudian ia mengingkarinya? Belum lagi jika kita memperhatikan efek ‘kemunafikan’ kita pada yang kita undang.

Tidak sekedar itu, pada suatu syuro telah ditetapkan pembagian amanah (jobdesk) tentang survey tempat, membuat sertifikat pelatihan, menghubungi pembicara, atau sekedar ngetake warung untuk pesan konsumsi. Sebagian mengatakan, “Ya insya Allah minggu depan sudah beres”. Akan tetapi yang muncul adalah kalimat áfwan ini, ‘afwan itu, alasan gini, alasan gitu. Yang pada esensinya adalah IA KHIANAT terhadap amanah tersebut1. Maka kata apa yang lebih tepat untuk menyebut seseorang yang sudah diberikan amanah lalu ia mengkhianatinya? Belum lagi efek kerusakan sebab pengkhianatannya ‘kecilnya’ ini. Padahal ia juga telah mengatakan Insya Allah, yang bermakna pula bahwa ia telah membawa asma Allah dalam komitmen atau janjinya. Tentulah harus lebih kuat kita untuk menepatinya.

Dalam konteks studi, atau di dalam perkuliahan. Ia berkata bahwa tugasnya dikerjakan sendiri. Padahal berdusta, ia mencontek atau sekedar memplagiat karya makalah atau pekerjaan temannya. Atau perilaku munafik tampak sedikit samar, misalkan ketika seseorang dipercaya oleh dosennya untuk melakukan suatu penelitian dengan suatu metode ilmiah yang disepakati. Akan tetapi seseorang tersebut dengan berbagai alasan mengkhianati satu atau beberapa dari metode ilmiah yang telah disepakati bersama dosennya itu. Kata apa yang tepat untuk melabeli perilaku dusta dan pengkhianatan yang dilakukannya?

Pada tiga pertanyaan retoris dijawab, penulis yakin, akan dijawab dengan kata “MUNAFIK”. Sadar ataupun tidak sadar kita telah melakukannya ya ikhwah. Kita, pribadi ataupun organisasi yang membawa bendera islam dan keharuman cita-cita dakwah yang melakukan perilaku nifaq di atas. Kita, yang dipersepsikan oleh sebagian orang sebagai komunitas yang shalih, agamis, dan tahu agama menganggap remeh, sepele, kemunafikan yang kita lakukan. Seharusnya kita menjadi leading dalam hal kebenaran apa-apa yang diucapkan, keamanahan dalam amanah-amah yang dipegang, dan ketepatan untuk menepati janji dari komitmen serta janji yang sudah dibuat. Wa’iyyadu billah

Oleh karena itu saudaraku, marilah kita beristighfar, bertaubat kepada Allah . Kita perbaiki diri kita. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari perbuatan-perbuatan nifaq. Kita jauhi perilaku-perilaku nifaq yang tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga citra dakwah secara luasnya. Dan jadikan prinsip kejujuran, menepati janji, profesional dalam mengemban amanah bagi JIWA dan ORGANISASI kita. Semoga Allah menjaga kita dari kemunafiqan, yang kecil lebih-lebih yang besar. Wabillahi taufiq, Wallahu a’lam.

1 Bisa dicek ke artikel “Ketika Afwan Tidak Lagi Dimaafkan”.