Dhen @njRAH

Bulusan, 20 November 2008

Hari ini mau tidak mau kosku harus membayar listrik. Ya itu kalau tidak mau kena denda. Biasanya pembayaran listrik melebihi tanggal 20 akan dikenai denda. Ya semoga teman-teman ada duit. By the way, aku masih merasa kesal. Ya kesal terhadap salah seorang saudaraku yang meminjam salah satu CD. Semula dia berkata ingin meminta salah satu file tugas kuliah yang aku punya, lalu ku katakan datanya ada di CD. CD tersebut kemudian aku ambilkan lalu ku berikan kepadanya.

Beberapa menit berselang ia lalu mengembalikan CD tersebut. Ia katakan ia sudah mengambil filenya. Akan tetapi pada waktu mengambilkan CD ia mengeluarkan komentar negatif terhadapku yang dengan itu aku berkesimpulan bahwa dia telah membuka file-file lain yang ada di dalam CD tersebut (tanpa seijinku). Bahkan ia lupa mengucapkan terima kasih. Sekali lagi bukan faktor ucapan terima kasih atau saya jadi tidak ikhlash dalam memberikan materi kuliah saya. Bukan itu. Cuma sikap amanahnya.

Sudah jelas sejak awal konteks yang diakadkan walaupun tidak secara nyata dilakukan adalah file kuliah. Maka bukalah hanya yang berhubungan dengan file kuliah tersebut atau bahkan hanya file kuliah tersebut saja. Secara konvensi seharusnya ia bisa paham bahwa dirinya tidak diberikan licence untuk membuka file yang selain itu. Untuk lebih jelasnya saya akan ceritakan sebuah kisah terkait grundelan saya ini.

Pada suatu hari ada seorang ahli kunci yang akan melakukan pengijazahan ilmu kepada muridnya. Sekaligus dengan pengijazahan ilmu tersebut maka sang murid yang mendapatkannya akan dipercaya olehnya untuk melanjutkan tugasnya sebagai seorang guru ahli kunci. Kebetulan Sang Guru sudah berusia tua sehingga sudah waktunya ‘disegarkan’ oleh yang lebih muda dan tentunya telah teruji kapabilitasnya.

Maka Sang Guru melakukan sayembara kepada dua murid terakhirnya. Sayembara ini cukup sederhana, yakni sayembara membuka gembok kunci sebuah peti yang terletak di tempat yang sudah ditentukan oleh Sang Guru. Maka sayembara yang hakikatnya adalah ujian tersebut pun berjalan. Murid pertama masuk ke rumah yang ditentukan. Waktu terus berjalan. Akan tetapi tidak lama sudah keluar murid pertama dan berhasil membuka gembok kunci. Lalu masuk murid ke dua, murid kedua dengan waktu yang tidak begitu lama akhirnya berhasil pula.

Setelah sang murid berhasil memecahakan kombinasi kunci yang diujikan oleh gurunya, Sang Guru mengajukan satu pertanyaan kepada keduanya. Sang guru bertanya, ”Apa yang ada di dalam peti tersebut?”. Murid pertama menjawab tidak tahu, ia katakan, ia adalah seorang ahli kunci, maka tugasnya ya membuka kunci saja”. Pertanyaan yang sama diajukan kepada murid yang ke dua, dia menjawab, ”Wahai guru, saya melihat di dalamnya perhiasan-perhiasan yang menyejukkan mata. Ada berbagai bentuk dan rupa di dalamnya”. Gurunya mengatakan,”Benar, itulah isinya”.

Sang guru terdiam dan mengangguk-angguk mendengar jawaban ke dua muridnya tersebut. Tidak lama berselang, ia berkata, ”Wahai murid pertamaku, engkaulah yang lulus ujian dan yang berhak mewarisiku sebagai guru ahli kunci di padepokan ini”. Dengan tetap menghargai keputusan gurunya tersebut, murid ke dua yang keheranan dengan keputusan akhir gurunya ini kemudian bertanya,”Ya guru, sayakan yang bisa menjawab pertanyaan ke dua, dan gurupun membenarkannya. Tetapi saya masih belum mengerti mengapa murid pertama yang lulus dan mewarisi padepokan ini?”. Sang Guru kembali tersenyum terhadap ke dua muridnya, Sang Guru berkata,”Tugas seorang ahli kunci adalah memberikan bantuan kepada orang lain yang mengalami masalah terhadap berbagai kunci yang ada padanya. Tugasnya adalah sekedar membuka gembok atau kunci yang bermasalah tadi. Hanya itu”. Jawaban yang singkat oleh Sang Guru langsung dapat dimengerti oleh ke dua muridnya. Sang Guru ternyata telah mengajarkan ilmu yang sangat penting melebihi berbagai taktik menaklukan kunci dan gembok yang telah beliau ajarkan, yakni ilmu tentang menjaga amanah.

Melalui ilustrasi kisah ahli kunci di atas saya yakin pembaca sudah mengerti apa sebab murid yan pertama yang lulus dan berhak mewarisi padepokan ahli kunci. Padahal ia tidak dapat menjawab pertanyaan ke dua yang disampaikan Sang Guru. Dari kisah tersebut saya pun jadi semakin paham terhadap sikap salah seorang teman saya yang membuka jasa servis computer. Suatu ketika saya datang ke ‘kantornya’, teman saya ini sedang sibuk menservis komputer dan mencari dimanakah virus komputer tersebut bersarang. Saya mengamati dengan seksama apa yang dia lakukan. Sampai pada suatu saat saya melihat ada file-file lagu yang sudah lama saya cari-cari ada di dalam komputer yang sedang diservis oleh teman saya ini. Dengan rasa tanpa sungkan-sungkan saya berkata kepadanya yang intinya minta ijin untuk mengcopy file lagu tersebut dari dalam komputer yang tengah diservisnya. Namun dia tidak mengijinkannya. Dia katakan saya bahwa tugas saya adalah menservis komputer ini. Sang pemilik telah mempercayakan komputer ini kepada saya. Saya tidak diamanatkan untuk yang selain apa yang telah sang pemilik amanahkan kepada saya. Dia memohon maaf kepada saya, dan dia katakan tetap tidak bisa. Sekalipun saya sudah mencoba melakukan serangkaian rasionalisasi untuk memuluskan maksud saya mengcopy file tersebut.

Pada akhirnya saya tetap tidak dapat mengcopy file tersebut, sedikit sedih sih. Akan tetapi saya sangat berbahagia, saya telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga mengenai menjaga amanah dari teman saya tersebut. Alhamdulillah. Sehubungan dengan amanah aku jadi teringat dengan firman Allah ,”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (QS. Al Anfaal: 27). Dan dalam hadist telah disebutkan mengenai warning tentang sifat-sifat orang munafik, rasul bersabda,” Ada empat hal, yang jika ada pada seseorang maka ia menjadi munafik sesungguhnya, dan jika orang memiliki kebiasaan salah satu daripadanya, berarti ia memiliki kebiasaan (ciri) nifaq sampai ia meninggalkannya. Bila dipercaya ia berkhianat, bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ia memungkiri dan bila bertengkar, ia berucap kotor (HR. Muttafa’Alaih). Dalam hadist lain nabi bersabda,”Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ingkar, dan apabila dipercaya ia berkhianat” (HR. Muttafaq’ Alaihi). Bahkan ancaman sangat keras Allah tujukan kepada orang munafik, Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka” (QS.An Nisa 145).

Ya Allah tambahlah ilmu untuk hamba, pahamkan hamba atas islmu yang telah engkau karuniakan. Jadikan hamba terhindar dari sifat-sifat orang munafik. Jadikanlah hamba bisa mengemban amanah dengan sebaik-baiknya sekecil amanah apapun itu. Ampunilah dosa-dosa hamba. Engkaulah Yang Mahapengampun”.