Dhen Anjrah

Ehm aku sedang teringat salah satu kolom dalam CV yang kadang disodorkan ke saya sebelum mengisi materi. Kebetulan bulan November ini beberpa kali aku ditanggap untuk berbagi pengalaman diberbagai forum. Mulai dari acara-acara anak BEM sampai acara Rohis. Salah satu kolom tersebut adalah kolom pertanyaan “pekerjaan”.

Secara pribadi aku akan membedakan dengan pemahamanku sendiri mengenai beda kata “pekerjaan” dengan “mata pencaharian”. Menurutku tidak selamanya pekerjaan itu bermakna juga mata pencaharian yang notabene berarti melakukan aktivitas tertentu yang tujuannya mendapatkan uang yang dipergunakan untuk memenuhi berbagai maslahat kehidupannya. Sedang mata pencaharian sudah barang tentu itu sebuah pekerjaan, entah bekerja dengan dirinya sendiri atau bekerja pada orang lain. Tapi itu definisiku. Boleh ngikut, boleh bikin sendiri. Monggoh…

Back to topic, terus apa pekerjaanku? Aku seringnya menulis, pekerjaanku adalah mahasiswa, herbalis, pengusaha, dan seorang trainer. Sampai aku lupa bahwa sebagai seorang muslim, sejatinya pekerjaan utamanya adalah berdakwah. Sempat aku malu membaca salah satu hadist dalam kitab Bulughul Mahram tentang Khalifah Utsman bin ‘Affan radiyallahu’anhu sebagai seorang kepala negara (jaman sekarang presiden) tetap mendakwahkan wudhu. Karena memang, beliau sadar bahwa dakwahlah yang menjadi pekerjaan utamanya tiap diri muslim. Untuk lebih jelasnya simak hadist tersebut:

Dari Humran bahwa Utsman meminta air wudlu. Ia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, lalu berkumur dan menghisap air dengan hidung dan menghembuskannya keluar, kemudian membasuh wajahnya tiga kali. Lalu membasuh tangan kanannya hingga siku-siku tiga kali dan tangan kirinya pun begitu pula. Kemudian mengusap kepalanya, lalu membasuh kaki kanannya hingga kedua mata kaki tiga kali dan kaki kirinya pun begitu pula. Kemudian ia berkata: Saya melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berwudlu seperti wudlu-ku ini. (HR. Muttafaq Alaihi).

Khalifah ke tiga ini tidak malu menyampaikan dakwah sedangkan kekuasaan negara islam pada waktu itu adalah di tangan beliau. Ya ini juga saah satu cermin sikap ketawadhuan beliau. Apalagi bagi sebagian orang, hal yang diajarkan oleh Khalifah Utsman merupakan perkara yang ‘remeh’, yakni mengajari wudhu. Akan tetapi secara hakiki tidak ada perkara yang remeh dalam hal berdakwah atau mendakwahkan sesuatu yang haq berasal dari Allah dan rasulnya .

Lebih spesifik masalah wudhu, banyak sekali kita dapati disekeliling kita manusia-manusia yang berwudhu belum sesuai dengan wudhunya nabi . Wudhunya masih belum benar. Bagaimana shalatnya akan diterima oleh Allah sedangkan wudhunya belum mengikuti kaidah-kaidah yang dituntunkan didalam Al Qur’an dan Sunnah. Sebagian lagi berwudhu tanpa ilmu, atau sudah tahu ilmunya akan tetapi dia malah lebih memilih pendapat si fulan atau si fulanah yang pernah didapatkannya. Mengajarkan wudhu yang sesuai dengan sunah nabi adalah suatu hal yang utama dan sangat utama. Lebih baik kita mengajari yang sedikit tetapi itu sunnah, daripada suatu hal yang nayak dan besar akan tetapi itu adalah suatu hal yang diada-adakan (bid’ah).

So, ingatlah selalu dimanapun kita berada, apapun pekerjaan kita, dakwahlah pekerjaan utama kita. Jia Yo!.