27 april 2009, At Grand Candi Hotel, Semarang

Bersyukur, ya, sebagai hamba yang tahu diri kita wajib bersyukur. Alhamdulillah ya Rabb, hamba telah melakukan wisuda sebagai sarjana psikologi. Semua bisa terjadi hanya karena limpahan petunjuk, karunia, dan nikmat dari Mu. Semoga Engkau menerima panjatan syukur dari hamba dan menambah nikmat yang Engkau berikan, sebagai mana Engkau berfirman, Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

Wisuda pertama kalinya dalam hidup ini tidak begitu istimewa. Bagi saya, wisuda disyukuri dengan tidak dilaksanakan dengan hura-hura. Sungguh bersyukur yang demikian merupakan cerminan dari hati-hati kita yang mungkin telah mulai keras membatu. Bagaimana bisa kita berhura-hura merayakan kelulusan sedangkan masih banyak saudara, adik, dan teman kita yang untuk kesulitan untuk bersekolah. Bagaimana kita bisa berhura-hura digedung hotel berbintang sementara keadaan sekolah-sekolah saudara kita sedang menunggu waktu kapan ambruknya. Bagaimana bisa berpesta pora dengan berbagai menu makanan sedangkan masih banyak saudara kita yang mencari sesuap nasi saja sehari belum tentu dapat, sedangkan disini nasi dan lauk banyak yang terbuang sebab tidak dihabiskan pada saat makan. Ya Allah dalam keramaian wisuda ini hamba justru takut kepadaMu. Takut ditanyakan pertanggung jawaban atas semua itu kepada hamba.

Ya Allah, hamba tidak suka dengan mekanisme syukur dengan cara yang mahal begini. Padahal uang yang dipakai untuk bayar wisuda bisa digunakan untuk modal usaha atau perkara lain yang lebih bermanfaat dari sekedar menyanyi dan menyayi lagi, menari, makan-makan, dan sepaket acara protokoler wisuda. Catatan untuk nyayi, aku piker juga tidak digarap serius. Saat ada space untuk nyanyi, sebenarnya akan lebih baik jika ditawakan kepada hadirin yang datang mungkin akan membagi suaranya. Bukan dimonopoli panitia. Selain itu juga perhatikan pemilihan lagunya, wong yang dateng usianya sudah sepuh atau umurannya Koes Plus, malah nyanyian dan atraksi-atraksinya anak muda banget. Secara manajemen EO masih perlu banyak perbaikan. Cobalah suatu kali wisuda, para peserta wisuda diberi presentasi tentang pentingnya berbagai kepada sesama, bangkitkan mereka terhadap rasa kepedulian terhadap pendidikan. Bagaimanapun, Saya tetap menghargai panitia yang telah dengan upaya keras menyiapkan acara wisuda ini dengan sebaik-baiknya. Terima kasih semua.

Pada saat dinyanyikan lagu Padamu Negeri, miris hati saya. Saya diingatkan untuk sadara bahwa saya adalah seorang warga Negara Indonesia. Saya harus tahu diri yakni menghargai jasa para mujahidin yang dulu memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tiap tetes darah mereka yang menetes, tiap rasa derita yang mereka rasakan, dan berbagai pengorbanan lain yang mereka ikhlaskan kepada Allah swt saat berjuang melawan penjajah dahulu. Saya tahu, saya harus melanjutkan perjuangan mereka. Saya harus amanah dengan bangsa ini. Sementara saya teringat dengan para koruptor dan pengkhianat bangsa, ya Allah jauhkan diri hamba dari perbuatan-perbuatan yang semacam itu serja jauhkan jangan sampai hamba tersentuh dalam perilaku haram tersebut. Sekedar catatan, saya secara pribadi tidak suka dengan kata-kata yang ada pada lagu Padamu Negeri. Pada baitnya terdapat ungkapan yang cenderung ke arah perilaku syirik kepada Allah swt.

Pada saat pidato salah satu wisudawan. Ya Allah, saya benar-benar berterima kasih kepada bapak-ibu dosen yang telah membimbing saya belajar. Share knowledge, share experience, share inspiration dengan kami. Jazakumullahu bi ahsanal jaza. Sekalipun masih terasa dongkol juga dengan oknum dosen yang terkadang dalam persepsi saya, mereka belum professional dalam mengajar. Belum begitu menguasai bahan materi atau mungkin memang pelit untuk membagi ilmunya. Ingatlah bapak ibu dosen, ilmu itu juga nantinya ditanya oleh Allah. So, lebih banyak lagi yang dibagi, lebih banyak lagi yang disharekan, atau kalau memang belum tahu, ya ga usah malu untuk belajar bersama. Toh sekarang iklim belajar dikampus sudah beralih ke sharing experience bukan mung transfer knowledge yang seperti biasanya panjenengan- panjenengan lakukan di kampus.

Saat melihat sejumlah anak kecil yang ikut hadir, saya teringat Heni. Heni adalah nama adik saya yang bungsu. Kebetulan dikarenakan alasan-alasan teknis pada hari Wisuda Fakultas tidak bisa datang. Ya Allah, aku ingin sekali dia datang, agar terinspirasi dengan banyak wisudawan yang hadir. Aku ingin sekali Heni kelak menjadi salah satu wisudawan di Kampus Negeri. Heni, semoga mas bisa menginspirasi kebaikan untukmu. Begitu pula bagi adik ke duaku, Wuri. Ya Allah, jadikan meraka sadar dan jujur akan pentingnya pendidikan untuk sarana beribadah kepadaMu.

Hal yang paling miris, aku belum bisa membagi moment ini dengan orang yang sangat special di hati. Ya Allah, aku lihat teman-teman wisudawanku membawa kekasihnya masing-masing. Memang jika masih pacar yang dibawa ke acara wisuda sih bagiku belum begitu membanggakan. Aku hanya berfikir, “Ya Allah aku ingin membagi moment ini dengan kekasih yang telah Kau kirimkan dan Kau halalkan untukku”. Ehm… ya sudahlah lawong keadaan sekarang memang begini. Ya Allah, hamba lebih bersyukur lagi manakala besok hamba bisa studi S2/ S3, lulus studi S2/ S3, dan ketika wisuda ada istri dan anak-anak hamba. Insya Allah terwujud.

Ehm, apa lagi ya… udah ah. Intinya syukur sudah wisuda. Sudah jadi Anjrah Ari Susanto, S.Psi.. Saya juga ucapkan barokallah kepada para wisudawan periode 114 Universitas Diponegoro. terutama teman-teman dari angkatan 2004 Fakultas Psikologi. By the way, setelah wisuda semoga bisa seperti harapan salah satu dosen yang saya hormati, ”Syukurlah, semoga akan disusul dengan keberhasilan-keberhasilan berikutnya. Amien…”. Insya Allah. TETAP SEMANGAT, Go SUKSES!!!