(diaryku, 7 Mei 2009 at Prembun City, Kebumen Metropolitan)
Awal mei 2009 saya melakukan liburan pasca wisuda di kota kelahiran saya di Prembun, Kebumen, Jawa Tengah. Kembali ke prembun menghadirkan banyak nostalgia pengalaman masa kecil bersama teman-teman. Salah satunya berlatih beladiri di Kantor Polsek Prembun (lama). Masih terbayang semangat membara melakukan jurus-jurus silat yang diajarkan oleh guru-guru padepokan sampai rasa panas sebab latihan diadakan di halaman polres yang langsung ‘menantang’ matahari. Ehm… singkat cerita ada banyak kenangan baik suka maupun duka di bangunan yang sekarang ini difungsikan sebagai Asrama Polisi Prembun.
Kantor Polsek Prembun yang lama ini menurut masyarakat dibangun oleh Belanda. Dilihat dari bentuk konstruksi bangunannya saja sudah nampak kekhas londonya (Belandanya) seperti desain pintu, desain jendela yang tinggi, kerangka atapnya, dan bentuk bangunannya demikian tinggi serta luas.
Dahulu sebelum kantor polisi belum dipindahkan ke lokasi yang baru, kantor ini ramai dengan berbagai kesibukan polisi yang bertugas. Berbeda dengan sekarang, suasananya terlihat sepi serta terkesan angker pada malam hari. Ehm, tetapi kadang-kadang di waktu sore hari halamannya dipakai sepak bola oleh para pemuda desa prembun.
By the way, aku sedikit kaget dengan kondisinya yang sekarang. Kantor polisi tersebut tampak berantakan. Di sana sini terdapat pasir, semen, kayu-kayu, dan matrial bekas tembok. Ehm, ternyata sedang direnovasi.
What? Direnovasi?
Ya. Ternyata bangunan khas konstruksi belanda tersebut sedang direnovasi. Atapnya aja sekarang sudah mulai berubah, tadinya beratapkan ganteng, sekarang sudah berubah menjadi seng berwarna biru. Yang jadi pemikiran saya, “Waduh… tu mbongkar-mbongkar pake tenaga ahli yang tahu bangunan bersejarah apa tidak ya? Kan eman-eman banget jika bangunan bersejara tersebut dirubah sana-sini tanpa mempertimbangkan aspek historisnya!!!”.
Saya kemudian teringat dengan permasalahan bangunan bersejarah di kota Semarang (pasar johar dan lawang sewu). Rencana renovasi dua tempat bersejarah tersebut pernah menjadi perbincangan yang cukup menegangkan. Ya sih,setahu saya keduanya sudah menjadi Benda Cagar Budaya harus berhati-hati ketika mau melakukan renovasi. Renovasi dilakukan harus mempertimbangkan berbagai norma yang ada pada Undang-Undang No.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.
Terus Kantor Polsek Prembun yang lama bagaimana?
Nah itu yang jadi keresahan saya selaku warga Negara Prembun. Sekalipun, setahu saya, Kantor Polsek Prembun belum disahkan menurut undang-undang sebagai benda cagar budaya. Ya setidaknya kan tetap memiliki nilai sejarah terutama bagi kota Prembun. Semestinya tetap perlu dilestarikan keberadaannya. Pelestarian tersebut mencangkup konsep, ya dilestarikan dengan bentuk aslinya. Tanpa diadakan perubahan-perubahan.
Saat saya kemarin (7 Mei 2009, pukul: 10.26) main ke kantor polsek prembun lama, saya sudah melihat bahwa atapnya akan dirubah (lihat foto). Aku berkata dalam hati, “Waduh, yang benar aja Pak Polisi, mosok atapnya dirubah begitu… atap dan gentengnya juga bernilai sejarah lho pak!”. Belum lagi bangunan dalamnya, sudah berubah banyak. Sepertinya tembok asli dari kantor tersebut dikelupas dan dipasang tembok baru.

Aku terus mengecek bangunan disekeliling kantor utama polsek prembun yang lama tersebut. Aku masih sedikit bersyukur bahwa bangunan disebelah kiri gedung utama yang konon dulu digunakan sebagai tempat menahan penjahat masih utuh. Temboknya masih original dengan lumutnya sebagai riasan yang menegaskan kesan sebagai bangunan kuno. Aku terus berpikir juga, “Syukurlah masih ada yang original. Tetapi, sampai beberapa hari ke depan paling-paling juga ‘tidak perawan’ lagi”.
Ya itu lah sedikit nostalgia saya dengan Polsek Prembun yang lama. Diprembun masih ada satu bekas bangunan kuno yang berlokasi dekat dengan Polsek Prembun Lama ini. Ada bangunan kuno yang mbah buyut saya sebelum wafat, seingat saya, pernah bercerita bahwa bangunan tersebut dulu adalah pabrik tebu dan masyarakat prembun dulu disuruh kerja paksa di situ.
Tulisan ini saya harapkan bias menjadi inspirasi bagi para pengambil kebijakan dan sesiapa yang peduli dengan bangunan bersejarah disekitarnya. Benda-benda bersejarah, sebagaimana amanat UU No. 5 tahun 1992, merupakan kekayaan budaya bangsa yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan demi pemupukan kesadaran jatidiri bangsa dan kepentingan nasional.
Demikian salah satu hasil jalan-jalan di Prembun. Saya harus segera kembali lagi ke Semarang.