Stasiun Tawang, Semarang, 6 Juli 2009, kurang lebih pukul 20.20 WIB. Aku sedang berada di dalam Kereta Senja Utama yang seharusnya pukul 20.00 WIB tadi berangkat menuju Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Ehm…tadi sayup-sayup terdengar bahwa lokomotif kereta sedang mengalami permasalahan teknis. It’s oke, yang penting sekarang aku dah dapat tempat duduk.

Aku amati dari jendela kereta berbagai aktivitas yang dilakukan orang-orang di Stasiun Tawang. Aku lihat ada bapak-bapak yang sedang terdiam dengan tangan kanannya disandarkan ke tembok. Ada seorang ibu yang sedang merokok bersama bapak-bapak di tempat tunggu. Ada yang sibuk berbelanja bekal perjalanan, ada yang sedang makan, dan tidak lupa lalu lalang pedagang yang menawarkan aneka jenis dagangan. “Pop Mie, Pop Mie…. Mizone…Mizone… Kacang Rebus..”, ramai sekali suasananya.

Kereta tidak juga berjalan, tiba-tiba aku jatuh dalam renungan. Pikirku menerawang jauh ke masa depan. Aku rasakan bahwa perjalananku tidak lagi ke Jakarta, tetapi perjalan akhiratku menuju akhirat. Aku rasakan gerbong kereta yang aku naiki ini nantinya akan berjalan menuju Allah Subhanahu wata’ala. Aku dan orang-orang yang di dalam kereta ‘kebetulan’ menjadi orang-orang yang terpilih untuk lebih dulu menghadap Allah subhanahu wata’ala untuk mempertanggungjawabkan segala perilaku yang telah saya perbuat. Kamilah orang-orang yang amalnya akan dihisab (akan dihitung) kemudian ditimbang oleh timbangan amal yang sangat adil dan tepat takarannya. Orang-orang yang masih di stasiun, mereka masih menunggu gerbong yang akan membawa mereka. Ya Allah, hamba takut… Allahumaghfirli.

Bersamaan dengan itu terbayang banyak perbuatan-perbuatan maksiat yang telah aku lakukan. Ya Allah, Allahumaghfirli. Begitu banyak perilaku durhaka kepadaMu, begitu banyak kesombongan, dan keangkuhanku dalam melanggar syariat’Mu. Ya Allah…

Rel kereta ini tidak lagi sekedar aku lihat sebagai baja sejajar yang digunakan kereta sebagai jalan. Aku rasakan inilah shirath…jembatan shirath yang nantinya akan dilewati setiap manusia di akhirat. Sesiapa yang berhasil melewatinya akan masuk surga, dan sesiapa yang gagal melewatinya nerakalah tempat berakhirnya. Ya Allah, hamba mohon pertolonganMu…

Yang jelas aku jadi ingat hari akhirat. Aku juga ingat bahwa mati bisa terjadi setiap saat tanpa kita dikasih tahu terlebih dahulu. Maut akan datang seketika pas pada waktunya. Ya Allah… hamba memohon ridho dan surgamu, serta berlindung kepadaMu dari neraka dan murkaMu. Allahuma ini as aluka ridhoka wa jannah, wa’udzubika min sakhotika wa nar… Jadikankanlah hamba termasuk hambamu yang kau mudahkan melewati shirath dan aman dari kait-kaitanya yang menakutkan.

Ya demikian perenunganku saat melihat situasi di Stasiun Tawang, Semarang. Sesaat sebelum jalan menuju Pasar Senen. Ya, ke Jakarta dalam edisi interview di PT Swakarsa Sinar Sentosa. Sekian.