Aku merasa aneh dengan pola pikir sebagian orang yang bersikap diskriminatif dengan style-style orang yang belajar lebih religius dalam mengamalkan ajaran agama islam. Adasebagian yang beranggapan style-style religius seperti orang yang memiliki jenggot, menggunakan celana panjang cungklang, tidak berkumis, berkerudung besar, bercadar, menggunakan gamis, dan tidak mau bersentuh dengan non mahram identik sebagai style teroris.

Padahal kalau kita mu cermati secara lebih jeli, akuilah bahwa style gembong teroris nomor satu Indonesia, Pak Noordin M. Top, malah tidak berpenampilan seperti demikian. Penampilannya biasa-biasa saja. Pelaku-pelaku lain yang dituduh membantu terornya Noordin juga bertampang biasa-biasa saja, contohnya si Boim alias Ibrohim, seorang floweris hotel J. W Marriot yang dituduh menjadi bagian jaringan teroris oleh polisi.

Sekalipun aku juga tidak menutup mata bahwa ADA SEBAGIAN oknum yang dituduh sebagai bagian jaringan Noordin yang memiliki style-style religiusseperti saya telah uraikan di atas. Tetapi mbok yao kita belajar secara objektif memandang manusia. Logika kita pasti menerima bahwa manusia memiliki banyak keanekaragamaan sifat dan perilaku. Jangan sampai perilaku dan sifat sebagian individu yang memiliki style tertentu secara gebyah uyah digeneralisasikan terhadap orang lain.

Ya seperti permasalahan style religius di atas. Sampai-sampai ada orangtua menyarankan kepada anaknya ketika akan berangkat melamar pekerjaan untuk menghilangkan style religius yang tampak padanya. Saya pikir, “Emangnya kenapa harus dihilangkan? Bukankah seharusnya para pemilik pabrik dan manajer senior lebih memilih mereka yang religius?”.

Logika berpikir saya begini. Style-style religius diterapkan dalam diri seseorang bukan tanpa alasan. Justru mereka memiliki alasan yang sangat kuat sebagai landasan pilihan mereka berpenampilan seperti itu. Mereka paham benar bahwa penampilan seperti itu merupakan wujud upaya kerasnya menaati aturan-aturan (disebut: syariat islam) yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.

Mereka menjadikan syariat islam sebagai barometer dari segala sisi kehidupannya. Tidak sekedar pada permasalahan transendental antaraindividu dengan Penciptanya, tetapi juga norma kehidupan bermasyarakat dan tata cara menjaga kebersihan diri di WC. Para ulama menjelaskan bahwa bagi mereka yang menjalankan syariat akan mendapatkan pahala dan berkesempatan untuk masuk surga, sedangkan bagi yang melanggar syariat akan memperoleh dosa dan baginya tempat di neraka.

Cermatilah. Terhadap sebuah aturan yang notabene reward dan punishment-nya relatif tidak langsung dirasakan dan tidak terlihat saja tetap berusaha untuk taat serta patuh. Mereka tetap shalat lima waktu, berpuasa pada bulan ramadhan, menggunakan jilbab, jujur, amanah, menepati janji saat ada atau tidak ada atasan yang melihat. Mereka meyakini ada Allah subhanahu wata’ala Yang Mahamelihat setiap detail perbuatannya.

Saya yakin tentunya tugas para manager perusahaan nantinya jadi lebih ringan manakala para karyawannya menjadikan syariat islam menjadi barometer dirinya. Para manager sebatas perlu menjelaskan bahwa jobdesk dan standar operasional prosedur (SOP) merupakan suatu amanah bagi dirinya. Sehubungan dengan topik amanah saya jadi teringat dengan tokoh Bang Acip dalam Sinetron Para Pencari Tuhan jilid 3 yang ditayangkan oleh salah satu televisi swasta di Indonesia. Di kisahkan pada salah satu episodenya bahwa Bang Acip diperintahkan oleh atasannya (Bu Aya) untuk mengantarkan barang. Bang Acip diberi bekal uang oleh kantor untuk membayar jasa ojek yang digunakannya. Ketika barang telah diantar, ternyata uang bekal dari kantor masih tersisa. Kalau saja tukang ojek tidak membawa kabur uang kembaliannya, Bang Acip yang ditokohkan sebagai tuna netra dalam sinetron tersebut, niscaya mengembalikan sisanya ke kantor. Bang Acip hanya mampu beristighfar dan merasa sangat bersalah sebab maksud mengembalikan uang sisa menjadi terhalang. Uang sisa tersebut dibawa pergi oleh si tukang ojek yang mengantarnya.

Karyawan disadarkan bahwa kontrak kerja tidak lain adalah salah satu akad perjanjian, Allah subhanahu wata’ala dan RasulNya perintahkan untuk menepati setiap janji yang telah disepakati. Karyawan menepati janji dengan bekerja sesuai dengan akad yang telah disepakati. Di sisi lain, pihak perusahaan juga harus menepati janji-janji yang telah ditulis di kontrak kerja dengan karyawan.

Banyak benefit lain dari memperkerjakan karyawan-karyawan yang shalih dan taat beragama. Mereka jadikan kerja sebagai bentuk ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala yang harus dijalankan sesuai dengan syariat-Nya. Mereka berusaha dengan keras menjauhi perilaku-perilaku secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan yang menjadikan Allah subhanahu wata’ala tidak ridho kepadanya. Sekalipun memang kita tetap tidak menutup mata, ada sebagian individu yang menjadikan style-style religius untuk tujuan negatif. Sikap terbaik untuk menanggapinya secara pertengahan. Sebab memang sudah dipahami bersama bahwa setiap manusia lahir dengan potensi baik dan buruk.

Demikian tulisan ini susun dengan harapan bisa menjadi masukan kepada berbagai pihak agar bisa mencermati permasalahan style-style religius dari para pencari kerjasecara objektif dan proporsional. Bukan hal yang tidak mungkin, formulasi nilai keagamaan yang telah terinternalisasi dan tampak dalam penampilan mereka dikembangkan ke arah budaya kerja yang produktif dan profesional. Kurang lebihnya mohon maaf. Terima kasih.

By. Anjrah Ari S, 24 September 2009 at my home, prembun city.