Aku pernah mendengarkan ceramah pengajian yang dibawakan oleh Ust. Armen Halim Naro mengenai sebuah hadist yang menceritakan tentang seorang wanita yang dia mengkhususkan dalam kesehariannya untuk membersihkan masjid. Selengkapnya alhamdulillah saya telah saya dapatkan, berikut kutipannya:

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu tentang kisah seorang wanita yang biasa membersihkan masjid. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menanyakan wanita tersebut, lalu mereka menjawab: Ia telah meninggal. Maka beliau bersabda: “Mengapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?” Mereka seakan-akan meremehkan urusannya. Beliau lalu bersabda: “Tunjukkan aku makamnya.” Lalu mereka menunjukkannya, kemudian beliau menyolatkannya. (HR Muttafaq Alaihi).

Muslim menambahkan: Kemudian beliau bersabda: “Sungguh kuburan-kuburan ini penuh dengan kegelapan atas penghuninya dan sungguh Allah akan meneranginya untuk mereka dengan sholatku atas mereka”.

Dalam pandangan manusia secara umum, tentunya ‘profesi’ membersihkan masjid bukanlah termasuk ‘profesi’ yang bergengsi. Tidak sedikit bahkan diantaranya memandangnya remeh. Tetapi tidak demikian halnya dengan orang yang mengenal Allah subhanahu wata’ala dan negeri akhirat.

Sebagaimana pada hadist di atas dikatakan seakan-akan para sahabat meremehkan perihal wanita yang suka membersihkan masjid, tetapi tidak dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Beliau menanyakannya dan bahkan ketika beliau tahu bahwa wanita itu meninggal,beliau ikut menshalatkannya. Adakah manusia yang lebih beruntung dari manusia yang ketika meninggal dishalati oleh Rasulullah?

Dari hadist di atas kita juga paham bahwa dalam tidak ada amal yang dipandang kecil ataupun remeh dalam islam. Setiap orang dengan kemampuannya dapat memberikan perannya kepada islam. Sampai-sampai wanita yang digambarkan dalam hadist di atas, wanita ini memberikan perannya sebagai orang yang membersihkan masjid Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Dan lihatlah penghargaan beliau terhadapnya.

Ditambahkan oleh Ustadz Armen, beliau juga menyampaikan sebuah kisah tentang Abu Mihjan Ats Tsaqofi rahimahullah ta’ala. Dengan topik, maksiat tidak menghalangi seseorang untuk berbuat baik dan memberikan perannya bagi islam. Sebab dengan dirinya sadar bahwa dirinya seorang ahli maksiat, seharusnya maksiatnya menjadi pemicu dirinya untuk lebih banyak beramal.

Dikisahkan bahwa Abu Mihjan Ats Tsaqofi rahimahullah ta’ala adalah seorang yang banyak meminum khamer. Ia seseorang yang selalu dihukum oleh amir oleh gubernur karena banyaknya dia minum khamer. Ia tidak pernah berhenti menerima hukuman dari minum khamer. Akan tetapi dia memiliki kebaikan yang tidak dimiliki kebanyakan kaum muslimin. Ia tidak rela islam dilecehkan dan dikalahkan.

Pada sebuah peperangan yang terjadi di Qadhisiyah. Ketika itu ‘Amr bin ‘Ash memenjara beliau. Ketika itu beliau (Abu Mihjan) mendengarpasukan romawi memukul pasukan muslimin. Ya mereka terpukul mundur, kemudian terdengarlah syairnya (syair dair Abu Mihjan-ed) yang masyhur bahwa permintaanya kepada istri ‘Amr bin ‘Ash untuk dirinya dilepaskan. Itu sebuah keutamaan yang dimiliki oleh seorang muslim yang maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala tetapi dia tidak berputus asa dia memiliki kelebihan yang dipunyai dirinya.

Untuk itulah semoga uraian sedikit tentang hadist di atas bisa menjadi penyemangat bagi kita untuk memperbanyak amal kebaikan dan peran kita untuk islam. Sebagai penutup saya sampaikan kutipan perkataan Imam Malik yang disampaikan oleh ustad Armen, bahwabeliau (Imam Malik) mengatakan “Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala membagi amal sebagaimana Allah membagi rizki. Innallaha qosamma at tho’at kama qosamamla arzaq, sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala memberikan ketaatan kepada seseorang sebagaimana Allah memberikan rizqi. Allah lebihkan, Allah kurangkan begitu seterusnya. Ketaatan begitu. Dan berapa banyak Allah bukakan, Kata Imam Malik, berapa banyak Allah bukakan pada puasa, tidak dibukakan pada shalat. Dan berapa banyak orang Allah bukakan untuk dimudahkan di dalam shalat tidak Allah bukakan di dalam pintu sedekah”. Maka hendaknya kita berusaha semaksimal mungkin pada ibadah-ibadah dan potensi-potensi amal yang telah Allah mudahkan untuk diri kita masing-masing. Ingatlah pula bahwa Allah subhanahu wata’ala tidak mempertanyakan hasil, Allah akan mempertanyakan perjuangan seorang hamba di dalam islam. Walalahu a’lam bishawab.

Pembahasan lengkap mengenai pembahasan di atas, bisa di download pada KIsah Juraij 1-3 . Pemateri Ustadz Armen Halim Naro, judul ceramahnya KIsah Juraij 1-3. Semoga bermanfaat.