By. Anjrah

Heehm… hari ini (4 Oktober 2009, pukul: 12.49 WIB) aku membaca buku diaryku. Kayaknya buku diary waktu aku awal-awal kuliah di Fakultas PSikologi UNiversitas DIPonegoro. Ada beberapa yang membuatku tersenyum sendiri membaca apa yang aku rasakan pada beberapa segmen hidup di waktu hidup tetapi ada juga yang memberiku tambahan energi dan semangat hidup.

Aku nulis waktu itu,”Ketika kita melakukan hal yang berbeda dengan orang lainuntuk mencapai impian kita, pasti orang banyak akan membicarakan kita. Bahkan ada yang terang-terangan mempengaruhi kita. Tetapi kalau kita MENDENGARKAN MEREKA sehingga MENGURUNGKAN tindakan kita untuk mencapai sukses, KITA AKAN BERAKHIR SEPERTI MEREKA. Seperti orang kebanyakkan, yaitu orang yang biasa-biasa saja”.

“Aha”, kataku dalam hati. Ya, aku memang sedang membutuhkan suntikan-suntikan motivasi. Alhamdulillah aku dapat dari buku diaryku sendiri. Ya, terkadang memang kita perlu tuli atau mengabaikan cas-cis-cus perkataan orang lain terhadap aktivitas kita mencapai sukses. Jangan sampai cas-cis-cus melemahkan diri kita bahkan sampai mengurungkan niat kita menuju sukses.

Prinsip tuli terhadap hal negatif ini juga diajarkan secara popular melalui cerita perlombaan katak. Pada suatu hari ada perlombaan memanjat menara. Perlombaan menghadirkan katak-katak yang berasal dari seluruh penjuru negeri. Berbagai model katak turut serta untuk mencapai puncak menara. Setelah peluit tanda mulai ditiup, katak-katak terus bergegas melompat menaiki tangga demi tangga menara. Semakin lama semakin tinggi para penonton di bawah berteriak-teriak, “woi para katak, kamu sudah naik tinggi sekali”. Ada juga yang mengatakan,“awas jatuh” dan sebagainya. Sebagian kontestan mendengarkan teriakan-teriakan penonton, dia menyadari bahwa dirinya telah naik menara terlalu tinggi sehingga dirinya hilang konsentrasi lalu terjatuh. Tidak satu dua katak yang terjatuh, semua kontestan akhirnya terjatuh sampai tertinggal satu katak. Satu-satunya katak yang tersisa ini terus melompat dan akhirnya sampai puncak menara. Para penonton terpukau dengan katak tersebut. Para penonton dan kontestan lain merasa heran bagaimana bisa katak tersebut bisa mencapai kesuksesan yang demikian gemilang (bisa mencapai puncak menara). Setelah turun, katak ini diwawancarai, tetapi diam saja. Ternyata setelah diteliti, katak ini tuli alias tidak bisa mendengar.

Oke, ya memang saya tidak mengatakan dari cerita katak yang telah saya utarakan bahwa agar bisa sukses anda secara fisiologis harus menjadi orang tuli. Tetapi yangs aya maksudkan, ketika kita ingin sukses fokuslah ke target sukses yang ingin anda capai. Tak perlu kita hiraukan suara-suara sumbang yang bermaksud melemahkan bahkan menghalangi kitamencapai apa yang kita ingin capai. Bersikap tulilah terhadap suara-suara yang semacam itu. Peracaya diri, komitmen, dan teruslah bekerja keras untuk sukses. Ya seperti katak tuli tadi. Dia hanya ingin mencapai puncak menara sementara banyak kontestan lain yang berjatuhan sebab terpegaruh kata-kata negatif dari penonton maupun sesame kontestan lainnya.

Oke, semoga bisa menginspirasi. Sebagai penutup, di diary ini ada kutipan kata-kata mantan juara tinju dunia, “TOBE A CHAMPION, YOU HAVE TO BELIEVE IN YOUR SELF, WHEN NO BODY ELSE WILL”. Plus minusnya, mohon maaf…