Salah satu pertanyaan yang masih aku ingat saat diinterview oleh bapak-ibu HRD di Sidoarjo. Aku mudah saja menjawabnya, moment terbaik itu adalah saat saya bisa ‘menaklukkan’ puncak gunung Ungaran.

Gunung Ungaran waktu itu adalah tantangan yang sama sekali baru buatku dan insya Allah terjadi Cuma sekali dalam seumur hidup. Ya sih, Gunung Ungaran juga oleh sebagian teman yang suka mendaki gunung belum ‘diitung’ sebagai gunung, but buatku, sekali gunung tetap gunung.

Aku ingat, sore hari sebelum pendakian, aku yang sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk mendaki dan modal pokoknya cuma semangat daneasy going. Sore-sore ada teman yang mengajak, “An naik Gunung Ungaran Yuk…”. Aku mikir kuat-kuat, “Naik Gunung????”. Ya aku sama sekali belum pernah naik gunung, dasar-dasar naik gunung dan teori “kegunungan” aja belum tahu. Aku tanya balik, ”Sama siapa aja?”. Terus temanku yang mengajak tadi menjawab, “Rame-rame. Sama teman-teman Ikhwah MIPA”. Setelah tahu bahwa yang ikut naik gunung banyak dan rame-rame, lalu aku memutuskan untuk ikut.

Aku bergegas mempersiapkan diri. Bawa baju ganti, dua buah jaket, madu, syal, topi maling, tas, dan uang secukupnya. Dah pokmen berangkat. Sampai titik pendakian awal sudah waktu magrib. Kami melakukan shalat dan istirahat. Baru setelah kurang lebih pukul 02.00 pendakian dilanjutkan.

Dingin. Hal pertama yang aku rasakan. Dinginnya menusuk tulang. Aku sudah coba loncat-loncat, terus gerak-gerak badan masih juga dingin. Ternyata semakin ke atas, semakin dingin. Aku ingat betul, setelah perumasan dan sudah mendekati daerah yang jalurnya menanjak terjal serta di kanan-kiri banyak tumbuhan, aku pegang jaketku, basah banget. Ibarat diperas bisa keluar banyak air untuk cadangan minum.

Moment yang paling aku kenang adalah saat moment saat aku sudah benar-benar capek berjalan, ingin duduk saja di pos terakhir sampai teman-teman yang lain turun dari puncak, kedinginan, lapar, terasa ingin pingsan,tetapi tekad kuat ku mencapai puncak gunung mengalahkan segala tantangan itu. “Aku harus sampai puncak, aku harus sampai puncak”, kataku dalam hati. Aku ucapkan terus menerus, aku ulang-ulang setiap langkah mencapai puncak. Alhamdulillah dengan izin Allah saya bisa sampai puncak bersama-sama rekan satu tim. “Allahu Akbar!!”, teriakan kemenanganku.

Ibroh yang bisa kita ambil…

Mengenang moment keberhasilan sangat bermanfaat bagi diri kita. Moment keberhasilan bisa menjadi doping kala diri kita lemah ataupun saat diri kita sangat membutuhkan energi untuk menaklukkan berbagai tantangan dalam hidup. Cobalah untuk mengenang, rasakan tiba-tiba semangat dan daya juang kita akan meningkat dengan drastis.

Sebab, seringkali ketika kita sedang menghadapi masalah. Justru yang hadir dalam bayangan kita adalah berbagai ketakutan-ketakutan akan apa yang akan terjadi. Tidak kita sadari, ketakutan demi ketakutan justru menciutkan semangat juang diri kita. Tidak jarang hasilnya adalah kegagalan kita. Kita gagal menghadapi masalah-masalah hanya disebabkan kita keliru memilih focus pemikiran.

Sekarang cobalah, kita fikir moment kemenangan saat kita menghadapi masalah. Jadikan moment kemenangan sebagai spirit perjuangan. Niscaya muncul energy yang tidak pernah padam dalam diri kita. Lebih baik lagi bukan satu moment kemenangan yang kita ingat, hadirkan moment kemenangan lain agar nyala api energy bisa berkobar dengan kuat. Ya ibarat kita memasak air, tentunya jika kita memasaknya hanya dengan nyala satu lilin akan cenderung lebih lama, dibandingkan saat kita menggunakan nyala lima atau sepuluh lilin.

Aplikasinya, ketika pas saya merasa futur, saya ingat-ingat kembali kemenangan-kemenangan kita. beberapa di antaranya:

1.kemenangan saat bisa menaklukan gunung ungaran,

2.kemenangan selalu berada di peringkat 1-3 selama di sekolah dasar,

3.kemenangan sebagai siswa teladan,

4.kemenangan menjadi pemenang lomba cerdas cermat,

5.kemenangan menjadi bagian tim juara pesta siaga,

6.kemenangan juara III lomba baca puisi tingkat kecamatan prembun,

7.kemenangan memiliki peringkat jumlah NEM tertinggi di SD,

8.kemenangan bisa masuk SMP favorite di kabupaten kebumen,

9.kemenangan terpilih sebagai ketua PMR,

10.kemenangan bisa merebut ‘sosok wanita idaman’ waktu SMA dari ‘saingan’,

11.kemenangan diterima menjadi mahasiswa di kampus negeri,

12.kemenangan bisa lulus memenuhi target yang telah aku tekadkan, dll.

Kenang moment kemenangan anda, jadikan sebagai bara penggelora nafas perjuangan dalam hidup ini. Niscaya kemenangan-kemenangan besar di masa yang akan datang bisa segera kita raih. Ingatlah pula, kemenangan-kemenangan besar tidak lain tersusun dari kemenangan-kemenangan kecil. So, Rayakanlah ‘Kemenangan-kemenagan kecil’ kita!

Semoga bermanfaat.

Mas Aan. Prembun, 30 Desember 2009.