Pagi tadi aku menonton diTV berita tentang sidak (inspeksi mendadak) tiga orang menteri kabinetIndonesia bersatu jilid 2 ke lapas anak tangerang. Artisnya pak Patrialis Akbar (Mentri Hukum dan HAM), Pak M. Nuh (Mentri Pendidikan), dan Bu “…” (Menteri Pemberdayaan Wanita). Menteri yang ke-3, sengaja aku tulis dengan “….” Karena memang aku belum berhasil mengingat namanya. Ya pokoknya bu mentri itu lah.

Tanggapanku sebagai warga masyarakat sehubungan dengan sidak para mentri ya seneng lah. Saya berikan apresiasi sebaik-baiknya. Itung-itung dengan mengadakan sidak yang demikian itu para menteri bisa lihat secara langsung realita yang terjadi di masyarakat. Tidak sekedar yang seperti terjadi sebelum-sebelumnya dimana para menteri hanya menerima laporan saja dari para kacung-kacungnya.

Kacungnya melaporkan apa, pak menterinya langsung percaya saja. Ya kalo laporannya jujur dan amanah dengan sebenar-benarnya. La payahnya, beberapa dari kacung yang melaporkan biasanya juga nakal. Bersemangatkan slogan ABS (asal bapak senang) dia melaporkan bahwa segala sesuatunya berjalan lancar dan sukses. Di setiap hierarkhi pelaporan laporannya lancer dan sukses sampai hierarkhi jabatan paling atas.

Lah logikanya sih, kalau pihak yang mendapatkan laporan juga menggunakan akal sehatnya dan mau sedikit capek, orang yang mendapatkan laporan juga sepatutnya curiga. Lah moso iyo dalam pekerjaan yang melibatkan orang banyak dan berjenjang-jenjang birokrasinya bisa begitu saja berjalan sukses dan lancar? Wong dalam lingkup kecil kerja sama juga pasti ada pertentangan dan konflik?

Nah dengan adanya sidak-sidak begini kan semuanya jelas. Mana yang manusia-manusia model ABS atau mana yang jujur bisa sedikit nampak. Tidak lupa saya berikan apresiasi yang tinggi kepada bapak Fredy Numberi (Pak Menhub) yang belum lama ini sidak, dan hasil sidaknya sekaligus mencopot kepala stasiun Jakartakota. Cepat, tanggap atasi situasi. Anak buah yang ledha-ledhe terus kurang amanah dengan tugasnya, copot, lembiru (lempar ganti yang baru). Sepakat saya dengan ‘gaya’ Pak Fredy.

Ya tentunya tidak ada gading yang tidak retak. Aku melalui tulisan ini juga mau rasan. Sakjane sidak-sidaknya yo ojo mung sing cedhak-cedhak thok pak. Seperti pak Menkumham, sidaknya mbok yao sampai ke LAPAS yang lebih jauh. LAPAS irian jaya apa LAPAS Anak Kutoarjo sini yang dekat rumahku. Pengambilan sampelnya ben lebih sedikit representative dengan bentuk LAPAS yang sederhana di Indonesia. Sadarilah pak, la LAPAS yang dekat ibukota aja dah begitu, bagaimana LAPAS yang Jauh atau ‘agak’ jauh?

Terus juga pak Fredy Numberi (Men Hub), mbok yao panjengengan mengeceknya tidak cuma stasiun, ceklah armada kereta apinya. Apa silakan bapak menyamar mencoba jadi penumpang biasa naik kereta jurusan Jakarta-cikampek saja. Apa yang lebih gaul lagi naik kereta gaya baru malam yang takeoff dari pasar senen. Wis nek panjenengan krasan, pollempat jempol aku kasih buat bapak deh.

Masih tergores benar di hati saya kenangan naik kereta ekonomi Gaya Baru Malam pada tanggal 1 November 2009. Pada hari itu saya terpaksa harus pulang dari Jakarta ke Prembun sebab ada agenda penting yang harus saya selesaikan. Selepas shalat Dhuhur yang saya Jama’ Qashar dengan shalat Ashar keretanya pun datang. Kebetulan saya dapat tiket tanpa tempat duduk. Di kereta api sambil berdiri menjadi konsekuensi yang wajar di alami.

Saya berdiri di kereta sejak stasiun pasar senen sampai daerah cirebon. Kebetulan ketika keretanya sampai di sekitar area cirebon, bapak yang duduk tepat di depan lokasi saya berdiri turun, Alhamdulillah saya dapat tempat duduk. Suasana kereta pada hari itu sangat penuh. Konon sih kereta gaya baru malam merupakan kereta yang selalu penuh, baik pada hari-hari libur maupun hari biasa. Bagaimana tidak selalu penuh, tarifnya sangat murah. Saya yang turun di prembun mendapatkan tiket yang tertulis ongkos untuk sampai yogyakarta dengan harga Rp 26.000,00 atau Rp 28.000,00 saja. Jadi perkiraan saya, tarif Jakarta-Surabaya dengan kereta ini tidak sampai Rp 50.000.

Demikian penuhnya sampai betul-betul terasa panas sekali suasana di dalam gerbong. Lebih-lebih saat maghrib menjelang. Ups, ternyata kereta gaya baru malam ini system kelistrikannya rusak. Lampunya tidak menyala. Ketika suasana bertambah gelap, semakin banyaklah anak kecil yang menangis sebab gelap. Sudah begitu kipas angina gerbong juga sepertinya ikut mati, atau sekalipun hidup juga tidak sebanding dengan begitu berjubelnya penumpang yang ada di dalam satu gerbong.

Terutama saat kereta harus berhenti. Terasa semakin panas. Pengap. Uap bau badan penumpang yang luar biasa menusuk hidung. Lebih-lebih para perokok yang tidak punya empati saling mengepulkan ‘asap nerakanya’. Penderitaan yang sangat kompleks. Mulai banyak terdengar dari dalam gerbong teriakan-teriakan dan sumpah serapah yang intinya berharap agar listrik bisa menyala. Saya mengingat ada seorang bapak yang berteriak, ”Woi… lampunya nyalain. Kasian anak kecil ni!!”. Ada yang menggerutu, ”Woi, ni apa-apaan. Kami naek kreta bayar nih”. Ada pula yang kesal mengatakan, “Pak, kami ini manusia pak. Bukan hewan yang asal ditumpuk di kreta hantu begini!”.

Aku sendiri gimana?

Aku sih kesal sudah pasti. Baru juga dapat tempat duduk dah dapat cobaan baru. Mau protes sama siapa. Mau marah-marah sama siapa. Ya sudah nikmati sebisa mungkin keadaan yang ada. Aku sempatkan ngobrol-ngobrol agar bisa abaikan sejenak tekanan “kamar gas NAZI” versi kereta gaya baru malam ini.

Bapak-bapak berwajahkan cina keturunan disamping saya membuka obrolan. “Halah ini akal-akalan masinis sama orang kreta aja. Coba dipikir, berapa solar yang nantinya dijual dengan tidak menyalakan listrik begini. Solar gak dipakai buat nyalain listrik kan nyisa trus bisa dijual selepas ntar sampai Surabaya”. Obrolanpun terus berjalan sampai saya mendapat informasi bahwa kejadian kereta mati lampu ini bukan kali pertama, tetapi sudah lama terjadi dan pihak kreta diduga sengaja melakukannya untuk kepentingan tertentu.

Padahal dampak kreta tanpa lampu sangat banyak, pertama jelas faktor KENYAMANAN PENUMPANG. Penumpang merasa sangat tidak nyaman. Panas, pengap, berjejalan, berdesakkan, dan berbagai penderitaan lainnya. Kedua masalah KRIMINALITAS. Kondisi lampu yang tidak nyala jelas memberikan pintu yang lebar bagi para pelaku kejahatan menjalankan aksinya. Lebih-lebih pada saat saya naik kereta Gaya Baru malam tersebut, pada saat gelapnya gerbong malah tidak ada petugas keamanan yang berjaga. Rasa aman kami sebagai penumpang jadi tergadaikan. Seorang penumpang ada yang berkata, “Ini mati lampu gini para petugas gerbongnya malah pada kemana? Giliran narik duit mereka muncul?”. Padahal pada saat masih sore banyak petugas kereta yang bersliweran di dalam gerbong.

Ada juga yang menkritisi keprofesionalan awak kereta dan dephub secara umum, orang tersebut berkata, “la kreta kan sebelum diberangkatkan sudah dicek. Sudah dikatakan layak jalan. La kejadian kreta mati lampu begini kan kcrobohan yang fatal dilakukan. Apa yang ngecek nggak betul-betul ngecek? Apa ngeceknya Cuma main-main? Apa tidak dipersiapkan mekanik didalam gerbong sebagai langkah antisipasi kalau kreta begini-begitu? Memang gak niat ni nguruskreta”.Sampai ada yang berharap agar ada reformasi besar-besaran di tubuh PT KA agar bisa lebih professional dalam memberikan pelayanan kepada para pengguna jasa kreta api.

Sebagai informasi, sampai stasiun purwokerto sempat ada perbaikan system kelistrikan di kreta. Tadinya diagendakan Cuma 15 menit, tetapi sampai satu jam lebih baru kreta tersebut di nyatakan selesai. Alhamdulillah sempat nyala lampu gerbongnya. Kebahagiaan yang berjalan tidak sampai 5 menit kemudian mati lagi.

Sampai saya turun di stasiun kutowinangun (pukul 23an), keadaan kereta masih nampak gelap mencekam. Kondisi penumpang masih penuh bahkan sampai pintu-pintu kreta. Saya butuh perjuangan extra agar bisa keluar kreta. Padahal badan saya sudah kecil dan tidak begitu banyak membawa barang bawaan. Tak bisa saya ceritakan lebih jauh, penderitaan macam apa lagi yang harus teman duduk saya dikreta alami selepas stasiun kutowinangun hingga Surabaya. Huh.. cobalah pak Fredy Numbery ada bersama kami pada waktu itu. Kira-kira apa yang bakal beliau lakukan sebagai tanggung jawabnya kepada masyarakat Indonesia.

Ya.. gitu deh. Semoga bermanfaat. Dan LANJUTKAN SIDAK-SIDAKNYA. Lebih semangat lagi dan kerja lebih keras lagi perbaiki Negara Indonesia.

Prembun, 16 Desember 2009.

nb: suasana kretanyabisa dilihat dalam rekaman video amatir (saya yang ngrekam) disini