Liar. Ya, kadang jiwa mudaku mendorongku bepikir sedikit liar terhadap apa yang aku lihat dan aku rasakan dari lingkungan tempat ku berada. Banyak dilingkunganku (lingkungan masyarakat pada umumnya dan begitu pula yang sudah mengenal dakwah islam) yang mengambil pacaran sebagai langkah awal sebelum menikah. Sekalipun ada juga yang pacaran untuk iseng dan aneka alasan pragmatis lainnya.

Ya ini juga berkaitan dengan curhat-curhat dari pengurus ROHIS SMAku yang gerah melihat teman-temannya telah salah “cara bergaulnya”. Hingga pada waktu yang dekat ini aku berkonsultasi via SMS dengan salah seorang ustadz tempat rujukanku bertanya dan meminta nasehat. Keilmuan beliau dalam agama islam ini insya Allah sangat bisa dipertanggung jawabkan, meningat beliau juga salah satu lulusan dari Madinah. Dengan tetap menghargai keyakinan masing-maisng, ijinkan saya berbagai sesuatu yang benar (insya Allah menurut tuntunan syari’at islam yang shahih) kepada saudara-saudaraku semua.

Aku mengawali SMS ( di note ini, SMSnya sudah saya edit dan saya pakai bahasa yang mudah saja, so, kurang lebihnya begini), “Ustadz, ngapain sih kita yang ngaji-ngaji ini perlu mengekang diri dan tidak menggunakan sarana pacaran untuk menikah? Padahal kita bisa lihat bahwa orang yang berpacaran dan tidak berpacaran sebelum menikah toh tidak ada bedanya. Mereka yang berpacaran terus menikah juga bahagia, bisa punya anak, kehidupan rumah tangga mereka juga baik-baik saja? Tidak perlu mengekang diri (tidak berpacaran) semacam ini?”

Ustadz, “Bedane: Sing nikah pacaran dulu berarti sudah maksiat duluan sebelum menikah, jadi pondasi nikahnya adalah maksiat. Kalo tanpa pacaran pondasi nikahnya taat, rak yo bedo tenan to??”.

Aan membalas SMS, “Ehm ya ya betul Tadz. Tetapi kan begini tadz, pas nanti udah nikah kan bisa tobat. Orang yang berpacaran tadi, terus menikah. Lalu setelah menikah mereka sadar, dulu mereka telah melakukan dosa sebab berproses menuju nikah dengan cara berpacaran. Terus mereka taubat. Berarti enakkan orang yang pacaran (sebelum menikah) dong, kan kata Allah, kalau orang itu mau bertaubat, dosanya akan di ampuni?”

Ustadz, ”Kalo thole bisa menjamin taubat kita bisa diterima ana setuju dengan thole, atau bisa menjamin kita sempat bertaubat sebelum sekarat, dan coba lihat (berilah) beberapa contoh orang yang pacaran lalu bertaubat?”

Aan, “Wah jika diminta mencari contoh, bukan hal yang mudah Tadz. Malah mungkin ndak ada orang yang melakukan taubat dari peristiwa pacaran. Kan mereka pikir pacaran hal yang sah-sah saja. Jadi ya, setelah mereka pacaran lancar, terus nikah, ya sudah gitu aja. Berarti mending kita sekarang tetap menjaga diri (tidak usah berpacaran) ya. Dan pastinya untuk perjuangan yang berat ini pasti Allah kasih banyak pahala buat kita. Bener kan Tadz?

Ustadz, “Yes-Yes, Kowe Saiki wes nalar le”.

Aan,” Iya Tadz, matur nuwun. Eh, satu pertanyaan lagi Tadz. La kalo ada yang berpikir begini, ya sekarang okelah kami paham bahwa berpacaran ini termasuk maksiat. Kami tahu lah, ntar kami tobatnya dalam bentuk pernikahan. Pernikahan itu sebagai wujud taubat kami. Nek gini gimana Tadz?

Ustadz, “He he.. aku ra mudeng nalare cah nom! Ya kalo tahu dosa, maka kewajiban kita segera tobat sebelum sekarat! Jangan sampe dah masuk akhirat belum taubat! Apalagi cari nikmat kog pake maksiat! He he”.

Aan, “Iya benar. Terima kasih tadz. Selamat malam”.

Apa pelajaran yang bisa kita dapat dari SMSan saya di atas? Kalau aku sih..

1. Apa Pondasi pernikahan kita? Taat atau Maksiat?

Saya yakin semua orang memahami makna kata pondasi. Kata pondasi merujuk pada suatu makna yang menjadi dasar pokok dari segala sesuatu. Pondasi merupakan asas pokok yang wajib ada sebelum hal lain dilanjutkan setelahnya. Orang mau membangun rumah, kita bicarakan pondasi dulu. Mau bangun jembatan, jalan raya, sampai gedung pencakar langit hal pertama yang dibicarakan adalah PONDASI.

Sebab pondasi adalah asal muasal yang menjamin kokoh atau tidaknya sebuah konstruksi yang kita mau bangun. Pondasi yang berkualitas jelas akan mampu menopang tegaknya bagian dari bangunan yang diletakkan di atasnya. Sebaliknya, pondasi yang buruk, lemah, asal jadi, dan bukan dibentuk dari semua hasil yang terbaik jelas tidak akan mampu mempertahankan bentuk bangunan yang akan diletakkan di atasnya. Pada lingkup ini pondasi yang dimaksud, adalah pondasi pernikahan.

Alangkah indahnya jika pondasi pernikahan kita, yang mungkin pernikahan satu-satunya kita dalam seumur hidup ini adalah berpondasikan kesucian diri dan ketaatan kepada Allah dalam segala prosesnya. Keberkahan, bimbingan taufiq dan kasih sayang Allah meliputi kita. Ya tentu setelah kita berproses dengan ketaatan, maka isilah pernikahan itu sendiri dengan ketaatan kepada Allah swt. Naudzubillahi mindzalik apa jadinya bila pernikahan kita berpondasikan perkara yang amat dibenci oleh Allah swt (pondasi maksiat)? Belum lagi, tiada jaminan kita sempat bertaubat. Parahnya lagi, lebih tidak ada jaminan lagi Allah mau menerima taubat kita (bagi yang sadar dan mau tobat tentunya).

2. Mulia dan besarnya pahala bagi kita yang berjuang untuk menjaga kesucian diri

Allah Swt berfirman, “Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya” (QS. An Nur: 33).

3. Kebutuhan untuk segera bertaubat sebelum segala sesuatunya terlambat.

Allah Swt berfirman, “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nur: 31).

Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mu’min yang bersama dia. sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At Tahrim: 8).

4. Salah satu bukti kesempurnaan islam yang mampu menuntun segala detail perikehidupan manusia dengan cara-cara terbaik, berkualitas, serta menjadi kebahagiaan visioner ke alam akhirat. Islam telah menuntun secara detail bagaimana proses menikah yang berpahala dan diridhoi olehNya. Karena sesungguhnya segala proses hidup kita adalah ibadah, begitu juga proses menuju pernikahan. Jadikan ia berpahala serta mendapatkan ridhoNya.

Kurang lebihnya mohon maaf. Semoga bisa menjadi nasehat dan memberi manfaat bagi umat.