Aku renungkan secara mendalam apa sih yang menjadi akar dari pilihan seseorang untuk berpacaran? Apakah benar semata-mata bawaan alamiah sebab ia mengalami perkembangan psikologis dan hormonal yang bekerja sejak memasuki masa remaja? Apakah semata-mata karena pengaruh teman bermainnya? Apa factor didikan orangtua yang kurang baik? Apa factor personality dari tiap orang itu sendiri? Atau salah para ustadz yang sekarang kurang berani katakana pacaran itu haram? Atau karena saking culunnya sehingga dia direkayasa sehingga berstatus pacar dari seseorang?

Ehm,,,, apa ya?
Aku pikir, kita perlu mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Mengapa? Karena ketika kita setiap hari hanya melarang dan melarang seseorang berpacaran tanpa kita obati akar yang menjadi penyebab dia memutuskan berpacaran, larangan-larangan itu jadinya cuman sekedar sambil lalu dari telinga kanan masuk langsung keluar lewat telinga kiri. Padahal kita tahu, ketika kita mau mengobati sesuatu atau memperbaiki sesuatu,kan lebih efektif manakala kita bisa menemukan akar masalahnya lalu kita perbaiki. Pengobatan atau perbaikan pada akar masalah juga daya sembuhnya lebih ‘permanen’ dari pada kita cuma sekedar mengobati tepi-tepi atau kulit permasalahannya saja.
Lalu apa akar masalah yang mendorong seseorang berpacaran? Terutama pada kelompok manusia yang dia sudah mengerti bahwa pacaran adalah termasuk bentuk perzinaan. Dan bagi dirinya Sudah paham sekali perbuatan zina itu diharamkan oleh Allah dan RasulNya? Mereka paham benar ayat-ayat Allah sebagai berikut:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk“. (QS. Al Israa:32)

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar “. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya)”. (QS. Al-An’am: 151)

Ehm,, Alhamdulillah akhirnya Allah jumpakan saya denan keterangan dari Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah, beliau rahimahullah berkata “Tidaklah seseorang melakukan perkara yang diharamkan atas dirinya melainkan karena dua sisi. Pertama, ia berburuk sangka kepada Allah. (Ia menyangka) bahwa apabila ia mentaati Allah dan mengutamakan ridhaNya maka Allah tidak akan memberikan yang lebih baik dan halal bagi dirinya. Kedua, ia mengetahui hal itu –bahwa barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah niscaya allah akan memberikan ganti yang lebih baik- akan tetapi syahwatnya mengalahkan kesabarannya dan nafsunya mengalahkan akalnya. Sebab yang pertama karena kelemahan ilmunya, dan sebab yang kedua terjadi karena kelemahan akalnya”.

Aku tidak bermaksud mensyarah pendapat Imam Ibnu Qayyim, hanya mencoba mengambil beberapa masukan yang bisa aku resapi dari untaian simpulannya tentang dua sebab yang menjadi akar maksiat. Ya jelas, itu juga menjadi akar seseorang melakukan pacaran.

Akar pertama, Pertama, ia berburuk sangka kepada Allah. (Ia menyangka) bahwa apabila ia mentaati Allah dan mengutamakan ridhaNya maka Allah tidak akan memberikan yang lebih baik dan halal bagi dirinya. Ini bentuk persangkaan yang sangat bodoh dalam hati kita dan jelas ada peran setan yang menebar berbagai tipuannya disini. Allah mustahil menjadikan apa-apa dari yang disyariatkanNya memberikan dampak buruk bagi hamba-hambaNya. Jalan,cara,tuntunan dari Allah yang diwujudkan dalam perintah dan larangan, sekalipun berat kita untuk menempuhnya, itu sudah guaranteed memberikan kita kebaikan di dunia dan akhirat.

Aisyah radhiyallahu’anha menasehatkan kepada kita, “Barangsiapa yang ingin mengungguli orang-orang yang senantiasa bersungguh-sungguh dalam ibadah, maka hendaklah ia menahan diri dari perbuatan dosa”. Al Hasan juga berkata, “Tidaklah ahli ibadah beribadah dengan suatu perkara yang lebih afdhal daripada meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah”. Kita jaga persangkaan Allah kepada kita, bahwa apa yang dilarangnya itu adalah lebih utama dan jelas Allah juga membuka jalan yang lebih baik serta halal bagi dirinya.

Akar kedua, Kedua, ia mengetahui hal itu –bahwa barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah niscaya Allah akan memberikan ganti yang lebih baik- akan tetapi syahwatnya mengalahkan kesabarannya dan nafsunya mengalahkan akalnya. Tabiat maksiat menggoda syahwat dan nafsu kita memang dengan sarana yang tampak indah, lezat, serta menyenangkan. Ketika hati berpenyakit dan ilmu kita kurang, akan sangat berat bagi kita bisa menghindari godaan-godaan tersebut.

Hanya saja, sebuah godaan syahwat (baca: peluang berpacaran atau berpacaran) sudah pasti Allah turunkan kita sesuai kadar kemampuan kita. Kita diberikan akal oleh Allah untuk memilih dan mengambil jalan yang mau ditempuh ketika mengahadapi ‘godaan’ tersebut. Kita bisa kog memilih tergoda sehingga ujungnya adalah dosa dan maksiat atau kita menampik godaan karena rasa takut kepada Allah sehingga Allah kasih kita surgaNya dan penggantinya yang lebih baik.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,
“dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya)”. (An-Naazi’aat: 40-41).
“dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (Al-Kahfi: 28)
“dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Tuhan mereka”. (Al-An’aam: 150).

Semoga momentum ramadhan ini bisa menjadi motivasi dan semangat bagi kita untuk lebih menuruti apa yang ‘dimaui’ oleh Allah daripada nafsu kita. Sehingga akar masalah timbulnya pacaran bisa kita hadapi dengan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam.

By. Anjrah2006. Wisma KKN, Kramas, Tembalang, 7 September 2010 alias 26 Ramadhan 1431 H.

Sumber Buku: An Nuri, Abu Faris. Sepercik Hikmah di Balik Larangan dalam Syariat Islam. Media Tarbiyah. Hal 16.