Aku mulakan diskusi kita pada hari ini dengan sebuah kisah ‘protesnya’ salah seorang sahabat nabi bernama Adi bin Hatim Radhiyallahu’an kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam. Diriwayatkan dari ‘Ady bin Hatim bahwa ia mendengar Rasulullah s.a.w. membaca firman Allah s.w.t., “Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah…” (QS. Al Taubah: 31). Maka saya (‘Ady bin Hatim) berkata kepada beliau, “Sungguh kami tidaklah menyembah mereka”, beliau bersabda,”Tidakkah mereka mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, lalu kalian pun mengaharamkanya, dan tidakkah mereka itu menghalalkan apa yang diharamkan Allah, lalu kalian menghalalkannya?”, Aku menjawab, “ya”. Maka beliau bersabda, “itulah bentuk penyembahan kepada mereka.” (HR. Imam Ahmad dan At Tirmidzi dengan menyatakan hasan)

Asbabul wurudnya (sebab-sebab keluarnya hadist) adalah pada hari itu ‘Ady bin Hatim mendatangi Rasulullah saw atas rekomendasi saudara perempuannya yang telah terlebih dahulu masuk islam. Rasulullah saw melihat ‘Ady bin Hatim  yang ketika datang masih beragama nasrani dan masih menggunakan kalung salib di dadanya, kemudian beliau membacakan QS. Al Taubah: 31 di atas.

Ketika ‘Ady bin Hatim  mendengar bacaan ayat qur’an, dia paham bahwa bacaan ayat Qur’an yang mulia itu ditujukan kepadanya. Kontan ‘Ady bin Hatim  pun protes dengan keterangan yang disampaikan oleh Rasulullah saw sebab dalam cara berpikir dia, dia selama ini dalam agamanya (nasrani) tidak pernah menyembah orang alim atau rahib-rahib mereka. Pada hadist  di atas ‘Ady bin Hatim   mengatakan, “Sungguh kami tidaklah menyembah mereka”.

Rasulullah saw kemudian dengan tenang, santun, dan menggunakan metodologi pembelajaran terbaik (memberikan pembelajaran dengan bertanya balik) menjelaskan, bahwa makna penyembahan ternyata lebih luas. Bukan dimaknai dalam bentuk seperti kita menggunakna posisi sujud dalam shalat saja menyembah Allah sang Rabbul ‘alamin saja, namun ada bentuk-bentuk penyembahan lainnya.  Dikatakan oleh Rasulullah saw, ,”Tidakkah mereka mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, lalu kalian pun mengaharamkanya, dan tidakkah mereka itu menghalalkan apa yang diharamkan Allah, lalu kalian menghalalkannya?”, lalu sahabat  Adi bin Hatim menjawab, “Ya”. Rasulullah lalu menclosing dengan mantap bahwa “itulah bentuk penyembahan kepada mereka”.

Kemudian, Apa maksud perkataan orang alim dan rahib-rahib menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal?

Kita temukan dalam agama nasrani, sesuatu yang sedari awal Allah sudah haramkan bagi mereka, namun para rahib ataupun orang-orang alim diantara mereka menghalalkannya atau yang sebaliknya. Contoh, masalah BABI, Allah melarang umat kristiani memakan BABI melalui nabinya Isa alaihi salam/ Yesus. Dalilnya ada pada Imamat pasal 11 ayat 7-8 yang berbunyi “Jangan makan babi. Binatang itu haram, karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak. Dagingnya tak boleh dimakan dan bangkainya pun tak boleh disentuh karena binatang itu haram.” Larangan serupa juga tercantum di kitab Ulangan 14:8, Yesaya 65:2-4 dan Yesaya 66:17.  Namun, apa yang terjadi? Orang-orang kristen sekarang memakan babi. Apa dalil yang mereka pakai? Dalil yang mereka pakai adalah perkataan orang alim diantara mereka bernama St. Paul bahwa segala makanan adalah suci (Roma 14:20). Mereka tinggalkan perkataan Yesus yang bersumber dari hukum Allah dan memilih hukum ‘baru’ karya St. Paul.

Padahal dalam kajian Tauhid, kita mengenal sifat rububiyah Allah Subhanahuwata’ala. Sifat rububiyah mengatakan bahwa Allah lah yang membuat syariat/hukum-hukum, termasuk hukum halal dan haram. Ketika Allah sudah mengatakan itu haram, haram ya haram, so, jangan dilakukan. Ketika itu halal, ya halal, ambil yang halal itu dengan penuh syukur kepadaNya.  Jadi tidak seorangpun atau apapun yang layak boleh mengambil ‘hak prerogatif ketuhanan’ berupa penentuan halal dan haram kecuali hanya Allah subhanahu wata’ala semata.

Lalu apa kaitannya dengan pacaran? Kenapa saya katakan berganti tuhan?

Allah memang tidak secara benar-benar leterlek menyatakan dalam kitabnya bahwa pacaran adalah haram. Namun Allah yang maha cerdas sudah menerangkan dengan banyak kategori bahwa tindakan-tindakan, pola pikir, dan masalah hati yang berkutat pada orang yang berpacaran pada dasarnya adalah HARAM MENURUT HUKUM ALLAH subhanahu wata’ala. Mari kita diskusikan beberapa dalilnya:

a.    Allah Haramkan Zina dan segala jalan yang ke arahnya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al Isra: 32). Para ulama menerangkan bahwa mendekati saja sudah dilarang oleh Allah subhanahu wata’ala, apalagi sampai benar-benar melakukan zina berbentuk hubungan seksual/intercourse.

Rasulullah pun menerangkan secara detail definisi Zina, Abu Hurairah dari Nabi saw., “Allah telah menentukan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang pasti dia lakukan. Zinanya mata adalah melihat (sesuatu), zinanya lidah adalah mengucapkan (sesuatu), zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan (sesuatu), kemudian kemaluan yang membenarkan atau menolak itu semua (HR Bukhari dan Muslim)” dan “Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya. (HR Bukhari)”.

b.    Allah haramkan berdua-duan (Khalwat) dengan non mahram tanpa adanya wali

Rasulullah shalalahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Janganlah salah seorang lelaki diantara kamu berkhalwat dengan perempuan kecuali dengan mahramnya”. (HR Bukhari dan Muslim)

c.    Haramnya ikhtilath (campur baur lelaki dan perempuan)

Dalilnya adalah berasal dari hikmah firman Allah, “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu”(QS. Al-Ahzab ayat 53).

d.    Allah haramkan saling pandang dengan non mahram

Firman Allah, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka…” (Qs. An Nur 30).

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…” (QS. An Nur 31).

Hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang pandangan tak sengaja, lantas beliau memerintahkanku agar menundukan pandangan.” (HR.Muslim)

e.    Allah haramkan berpegangan tangan apalagi sampai ‘menyentuh’ lebih dalam non mahram

Rasululah saw bersabda, “Andaikan ditusukkan ke kepala salah seorang diantara kalian dengan jarum besi, yang demikian itu lebih baik daripada dia harus menyentuh wanita yang tidak dibolehkan baginya” (HR. Imam Thabrani).

f.     Allah haramkan bermesra-mesraan meski lewat suara

Allah berfirman “..Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan  ucapkanlah Perkataan yang baik,.. (QS. Al Ahzab: 32)

g.    Larangan untuk membuka aurat selain di depan orang yang halal baginya

Allah berfirman, “Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:  “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59).

h.    Peringatan untuk membelanjakan rizki,umur, waktu hanya pada jalur yang dihalalkan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan bergerak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya pada apa dia habiskan, tentang masa mudanya pada apa dia luangkan, tentang hartanya darimana dia dapatkan dan untuk apa dia pergunakan, dan tentang ilmunya apa yang dia amalkan padanya” (HR. Tirmidzi).

Nah sekarang ketika kita sudah tahu bahwa Allah sang Rabbul ‘alamin menggariskan bahwa bentuk-bentuk yang berkategorikan a –  h itu adalah diharamkan, kenapa kita masih tetap melakukan (bagi yang berpacaran tentunya, atau yang ga pake label pacaran tapi melanggar rule-rule di atas)?  Siapa yang bolehkan dan ‘menghalalkan’ kita pacaran? Siapa yang nuntun dan menjadikan kita ‘menghalalkan’ saling pandang, sentuhan tangan, gandengan tangan, pelukan-pelukan, cium-ciuman, raba-rabaan, saling kasih stimulasi seksual satu sama lain, sampai lakukan langganan berhubungan seks dengan sang pacar?

Nafsu?

Uang?

‘Cinta’?

Ideologi kebebasan Kita?

Pacar Kita?

Teman Kita?

Orang tua Kita?

Calon Mertua?

Lingkungan Kita?

Atau, Otak dan Logika Kita sendiri?

Siapa?

Ketika Nafsu, uang, ‘cinta’ (aku sengaja kasih tanda petik, sebab cinta hanya ada setelah menikah [Qs. Ar Rum: 21]), Ideologi, Pacar, Teman, Orang tua, Lingkungan, Otak dan Logika, atau yang lainnya menjadikan diri kita berani menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah terutama konteks pacaran DIALAH TUHANNYA. DIALAH SESEMBAHANNYA.  Konstruk-konstruk itu fungsinya sama bak para rahib dan orang alim yang telah saya sebutkan dalam hadist di awal tadi.

Konkretnya,

1.      Allah katakan, hai jangan saling pandang, karena memandang sesuatu yang tidak halal karena itu zina mata. Eh nafsu katakan, ya ndak papa, pandang aja. Asyik kog, cantik kog, ‘menentramkan kog’, dan kita memilih menuruti nafsu sehingga terus memandang. Maka nafsulah tuhannya.

2.      Setelah lama tidak berjumpa dengan pacar, rasa kangen demikian menusuk. Eh, syahwat mengatakan, dipeluk pacar bakal lebih cepet sembuh kangennya. Padahal Allah melarang bersentuhan. Tetapi tetap aja berpelukan, so syahwatlah tuhannya.

3.      Allah katakan jangan berkhalwat, karena itu haram. Eh pacara datang ngajak ngedate di warung penyet atau yang semacamnya, ia tahu khalwat haram, disini Pacar sebagai tuhannya. Dan seterusnya..

Heeem… Astagfirullah, aku rasa, aku cukupkan dulu deh diskusinya. Simpelnya aku mau katakan juga bahwa hukum-hukum Allah di atas tidak bermaksud menyulitkan kita semua duhai saudara-saudaraku yang dirahmati Allah. Allah ciptakan syari’at yang mudah dan berkah bagi kita. Kesulitan hanya datang ketika kita berupaya menempuh jalan-jalan yang memang telah Allah dan rasulNya larang. Bukankah Allah telah berfirman,

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (Qs. Al Baqarah: 185).

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya” (QS Ath Thalaq: 6).

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyrah: 5-6).

Dan Allah sudah menetapkan segala ukuran dalam syariatnya dengan kaedah terbaik dan Allah tidak melupakan sedikitpun hal baik melainkan Ia tuntunkan kepada Kita. Dan ketika itu adalah hal buruk sekecil apapun -Allah Mahamengetahui-, pasti Allah sudah larang kita dan Allah subhanahu wata’ala kasih rambu-rambu agar kita tidak mendekatinya.

“dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (QS. Al-Furqaan: 2).

“Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat” (QS. Asy-Syuura: 27).

“Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu” (QS. Al-Hijr: 21).

“Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya” (QS. Al-Mukminuun: 62).

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya” (QS. Al-Baqarah: 286).

Bertaubatlah dari melakukan pacaran. PUTUSLAH KARENA MENGHARAP ridho Allah. Kita tidak pernah tahu umur kita sampai kapan. Demikian mulia orang-orang yang terus menjaga kesuciannya karena taat dan mengharap keridhoan Allah. Cukuplah apa yang kita dengar, apa yang kita saksikan sebagai dampak-dampak buruk pacaran di dunia menjadi pelajarn bagi kita. Itu belum dampak akhiratnya. Kemudian, apa jadinya ketika Allah panggil kita, ternyata kita sedang dalam menaati tuhan yang lain selain Dia, betapa buruk mutu kematian dalam kondisi yang demikian itu. Bagi yang sudah menikah melalui pacaran, ingatlah pula bahwa Anda pun sepatutnya terus beristigfar memohon ampun kepada Allah sebab sampai detik ini mungkin belum pernah mentaubatkan pacarannya dulu. Walallahu a’lam.

Best regards,

Anjrah Ari Susanto

Artikel setema yang perlu dibaca:

Akar Ideologi Orang berpacaran.

Sumber:

—- http://obrolanislam.wordpress.com/2008/05/04/status-haramnya-daging-babi-dalam-bible/

http://blog.re.or.id/taaruf-syari-solusi-pengganti-pacaran.htm

http://wppi.wordpress.com/2008/08/28/pengertian-zina-hati-dan-mendekati-zina-lainnya/

http://www.bahantarbiyyah.com/v1/albums/userpics/10001/syaikh%20ash-shabag%20-%20Larangan%20Khalwat%20dan%20Ikhtilath.pdf

http://blog.re.or.id/larangan-bersalaman-dengan-laki-laki-yang-bukan-muhrim.htm