Saya heran dengan beberapa kelakuan para suami yang muncul pada abad ini. mereka pulang ke rumah sedangkan di rumah banyak pekerjaan tetapi sedikitpun ia tidak tergerak membantu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Seakan dia telah menggolongkan bahwa pekerjaan rumah itu ya jobdesknya istri. Suami pulang kerja sudah capek.Suami menutup mata, tidak mau memahami kerepotan istri, dan tidak mau mengerti betapa capeknya istri menjaga amanah-amanahnya.

Ada pula suami yang mungkin berpikir bahwa dirinya adalah seorang yang terpandang, memiliki jabatan tinggi, kekuasaan yang besar di tempat-tempat kerjanya. Maka ia takut harga dirinya jatuh ketika membantu istrinya di rumah. Suami gengsi, barangkali ada anak buahnya yang meilhatnya bekerja di rumah membantu istrinya. Takut harga dirinya jatuh.

Ada pula yang lantas mencarikan istri seorang pembantu. Suami berpikir bahwa pembantu akan menjadi solusi atas kerepotan-kerepotan yang dialami istri. Ya, memang tidak bermasalah dengan menghadirkan pembantu di rumah tangga kita, akan tetapi patut juga direnungkan beberapa efek “lain” atas kehadiran seorang pembantu. Sudah tampak kerusakan-kerusakan rumah tangga bermula dari permasalahan pembantu, entah suami yang selingkuh dengannya, istri yang berkhalwat dengan non mahram yang berujung dengan perzinaan, bisa juga anaknya yang terpengaruh akhlaq buruk pembantu, atau sekedar faktor pengasuhan anak yang jadinya justru lebih lekat kepada pembantu dari pada sang ibu yang melahirkannya. Saya bukan bermaksud mengatakan bahwa memiliki pembantu itu buruk adanya, akan tetapi saya memandang dengan perpektif berbeda tentang kehadiran pembantu di rumah tangga.

Sadarilah, ada potret nyata kehidupan rumah tangga yang sangat perlu jadi barometer dalam bahtera yang kita tengah bangun. sebuah potret rumah tangga yang suaminya mempunyai amanah yang sangat besar. Sang suami tidak sekedar memimpin 100 atau 100 karyawan dikantornya saja, akan tetapi lebih dari itu. amanahnya juga tidak sekedar mengurusi segolongan orang yang kaya-kaya atau yang miskin-miskin saja, akan tetapi sang suami mengurusi mulai dari miskin yang papa, yang lemah, sampai yang kaya. Bahkan sang suami ini menjamin terpenuhinya hak-hak mereka dengan adil. Suami ini juga seorang kepala negara yang kekuasaannya bukan satu kota atau propinsi saja. Tetapi penguasa yang kekuasaannya sangat luas dan terus melakukan ekspansi-ekspansi militer. Sang suami jugalah seorang pemimpin perang.Pemimpin revolusi berpikir, ideologi, dan segalanya.

Uniknya,segudang amanah di atas dan amanah lain yang belum disebutkan amatlah sangat banyak, sang suami ini masih mau membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah. Ia ringankan beratnya amanah istri mengelola rumah. sang suami menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya sendiri rusak. Ia bantu qurrotu a’ininya dengan penuh rasa ketawadhu’an. dan beliaulah RAsulullah saw. cermati hadist berikut:

1. Dari ‘Aisyah Radiyallahu’anha bahwa rasulullah saw beliau biasa menjahit pakaiannya, menambal sandalnya,dan mengerjakan pekerjaan rumah tangganya (HR.Ahmad).

2. Dan dari Ibrahim bin Al Aswad berkata,”Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah: Apa yang dikerjakan Nabi di rumahnya?” Dia menjawab: “Beliau dalam pekerjaan istrinya -artinya biasa membantu keluarganya- jika tiba waktu shalat, beliau segera keluar untuk shalat”. (HR. Bukhori No 5579).

Para suami, tulisan ini juga tidak berarti saya lantas menyuruh para suami berlebihan bersikap terhadap istri. Karena para istri pun memiliki lahan ibadah yang sangat afdhol ia tunaikan sebaik-baiknya sebagai bekalnya menghadap Allah swt. Begitupun bagi para istri, agar tidak menggunakan tulisan ini sebagai pembenaran untuk menuntut hal yang berlebihan terhadap suami. Tetapi yang pertengahan bagi keduanya. Kiranya suami bisa lebih mengerti keadaan istri, yakni membantu pekerjaan-pekerjaan rumahnya. Karena seperti itulah yang dicontohkan oleh rasulullah saw kepada kita semuanya. Apabila sampai pada waktu shalat, maka tinggalkanlah pekerjaan itu untuk berjamaah shalat lima waktu di masjid.Salah satu hikmah yang dapat dipetik, bermula dari sikap pengertian suami terhadap kerepotan dan tugas-tugas istri, insya Allah akan menguatkan ikatan cinta diantara keduanya. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.
October 27, 2008 at 7:05 pm