Ya Allah hari gini aku belum juga bisa menentukan siapa dosen
pembimbing 2 ku. Alhamdulillah sih, untuk pembimbing pertamanya aku
sudah mantap. Tapi…. gimana ya Allah untuk yang keduanya. Aku
Sungguh berharap engkau segera menunjukkannya pada Hamba… Amin.

Ah, jangan larut pada keterbingungan. Aku harus bangkit. Aku harus
tegar dan optimis. Enaknya ngapain ya?….

Nulis aja. Ehm… Tentang tema keluarga. Tema Keluarga merupakan visi
Kampus psikologi UNDIP tahun 2020, yang entah serius apa gak dalam
menggapainya. Karena tahun 2008 ini juga masih gini-gini aja, padahal
sejak saya masuk (tahun 2004) aku juga sudah baca visi tersebut
diruang-ruang kelas.

Aku kepikiran tengan figur ibu dalam sebuah rumah tangga. Aku atau
mungkin kebanyakkan dari kita sering kali menemui sosok ibu yang
tidak didengarkan oleh anak-anaknya. Anak-anak hanya mau menurut
kepada ayahnya. Kerika sang ibu memberikan arahan tertentu kepada
buah hatinya, mereka menganggapnya sebagai angin lalu. Namun, ketika
sang ayah yang memberikan instruksi kepada mereka for do or do not
something
anak-anak tersebut akan menurutinya. What wrong?


Keluarga adalah tim

Aku pikir ada beberapa yang belum dipahami oleh keluarga-keluarga
yang mempunyai masalah di atas. Pertama, di keluarga tersebut
belum terbangun semangat team work yang kuat.  Sadar atau
tidak sadar, dalam keluarga paling tidak terdiri atas tiga komponen
yaitu ayah, ibu, dan anak. Ketiganya akan berjalan harmonis dan
efektif jika didasari kesadaran bahwa ketiganya adalah bagian dari
tim. Jika kesadaran ini tidak terbangun, bukan hal yang tidak mungkin
akan terjadi ketidak seimbangan didalamnya.

Lebih spesifik pada masalah parenting (pengasuhan anak) maka
sosok ayah dan ibulah tim intinnya. Ayah dan ibu harus kompak. Mereka
harus memiliki tujuan dan visi pengasuhan yang sama yang kemudian
dijabarkan dalam jobdesk-jobdesk yang konkret dan terukur. Masalah
seorang ibu yang ‘tidak didengarkan’ oleh anak-anaknya bisa jadi
bermula dari pembagian jobdesk yang tidak jelas.

Komponen ayah terlalu mendominasi atau bahkan melemahkan jobdesk atau
peranan yang bisa dilakukan oleh sang ibu. Contohnya, ketika salah
seorang anaknya bermain benda-benda yang dinilai berbahaya oleh ibu
lalu ibu melarangnya. Akan tetapi disaat yang sama, sang ayah justru
membela sang anak dan mengatakan kepada sang anak untuk tidak usah
mendengarkan perkataan ibunya. Sang ayah berkata.”Teruskan saja,
tidak usah kamu dengarkan perkataan ibumu”
.

Jelas sekali pada ilustrasi diatas sang ayah mempunyai saham jika
nantinya anak tersebut tidak mematuhi ibunya. Ayah mengajarkan kepada
anaknya untuk tidak menghiraukan perkataan ibu yang melarangnya.
Semestinya tidak demikian. Ayah harus menyadari bahwa ibu adalah
mitra satu timnya saat mendidik anak. Namanya tim harus saling
mendukung.

Bukan perkara yang mustahil jika ketidakkompakan tersebut terus
berlangsung menjadikan sang anak tidak patuh pada ibunya. Selain itu,
dapat pula menjadikan sang anak memiliki sikap yang ambivalen
terhadap kedua orang tuanya. Sang anak bisa saja nanti berpikir,
Aduh, aku harus nurut sama siapa nih? Bapak? atau ibu?”.


Faktor internal ibu

Kedua, faktor yang
dapat menjadikan seorang anak tidak menurut pada ibunya bisa bermula
dari faktor internal ibu. Kondisi keluarga yang sudah terbangun
semangat timnya, peran ayah yang sudah supportif pada ibu,
akan tetapi ibunya tidak memiliki ketegasan dalam mendidik atau
melakukan pengasuhan bisa saja menyebabkan anak tidak respek terhadap
peran ibu.

Ibu hendaknya bisa untuk bertindak tegas terhadap anaknya. Tetapi
bukan terus jadi sering marah-marah, namun bertindak tegas disini
dalam konteks memberikan pendidikan kepada anak. Ibu harus berani
menasihati anaknya yang melakukan tindakan yang melanggar norma.
Tunjukan rasa sayang dengan memperbaiki perilaku menyimpang tersebut
ke arah perlaku yang lebih baik dengan bahasa yang bisa dipahami oleh
anak.

Anehnya, beberapa ibu selain menasihatinya dengan bahasa langit
(tidak bisa dipahami anak) tetapi juga nasihat tersebut tidak
diiringi tuntunan seperti apakah seharusnya yang dilakukan anak
selanjutnya. Idealnya, oreintasi orang tua seharusnya bukan melarang
atau memperbolehkan saja. Namun, anak perlu tahu mengapa sesuatu itu
dilarang dan diperbolehkan. Anak perlu tahu alasannya.

Aduh… udah adzan nih… shalat magrib dulu ah. Ya pada intinya,
sadarilah bahwa keluarga adalah satu tim. Harus saling support.
Perankan ayah sebagai ketua pelatih dan ibu sebagai asisten
pelatihnya. Keduanya harus sinergis agar tujuan-tujuan keluarga bisa
tercapai. Disisi lain, jika bermula dari permasalahan internal ibu.
Ibu harus belajar bagaimana mengatasi permasalahan internal tersebut.
Insya Allah. Wallahu a’lam bish shawab.

13 April 2008