Saya akan menuturkan sebuah kisah yang saya petik dari sebuah majelis ta’lim yang saya ikuti. Sebuah kisah yang sangat berkesan bagi saya. Lebih-lebih jika kita mau berempati kepada tokoh pelaku yang mengalaminya. Rasakan betul deritanya, rasakan betul segala akibat psikologis yang terlibat di dalamnya.

Kisah ini bermula saat ada seorang bapak yang menelpon pembicara (Ustadz). Bapak penelpon berkonsultasi kepada ustadz sehubungan dengan pernikahan anaknya. Bapak tersebut menceritakan bahwa anaknya pada besok pagi akan menikah dan meminta (bapak yang menelpon) untuk menjadi wali nikah. Kita tahu bersama bahwa dalam agama islam, untuk pihak wanita yang masih perawan yang menikah harus ada wali. Wali bisa bapaknya atau saudara laki-laki terdekat dari keluarga bapak atau ibunya yang terhitung masih dekat secara kekeluargaan dengan beberapa tambahan syarat tertentu.

Masalahnya, ternyata anak yang besok pagi menikah itu adalah anak yang lahir di luar pernikahan.Dahulu, orangtuanya berzina baru kemudian menikah. Ya, anak zina. Kita tahu pula bahwa bapak dari anak zina tersebut hukumnya tidak sah menjadi wali nikah bagi anak biologisnya.

Konflik pun terjadi. Ketika bapaknya besok tetap menjadi wali nikah bagi anak gadisnya, padahal tidak sah dia menjadi wali nikah baginya, maka pernikahan tersebut juga tidak sah. Konsekuensi bila pernikahan tidak sah sama artinya anaknya itu akan berstatus berzina dengan pasangan hidupnya. Cucu yang lahir nanti pun itu adalah cucu-cucu hasil zina.

Di sisi lain ketika dia harus mengakui bahwa anaknya adalah hasil zina, bapak penelpon tadi merasa berat. Berat sebab sang bapak bersama ibunya telah menyimpan rapat status anak zina selama 25 tahun. Dan besok pagi sang anak gadisnya akan menikah. Sang bapak membayangkan betapa sakit dan malunya sang anak jika harus mengetahui kenyataan itu. Anak gadisnya mengetahui kenyataan yang sangat memalukan pada hari besarnya.

Memang ada pilihan lain, bisa saja sang bapak akan mangkir. Dirinya tidak hadir saja dipernikahan anaknya agar bisa dipilih wali nikah lainnya. Tetapi apa hal itu perilaku yang baik di hari kebahagiaan bagi anak tercintanya? Terbayang di wajah sang ayah, betapa kecewa gadisnya mengetahui ayah yang sangat dicintai dan diharapkan menjadi wali nikahnya malah tidak datang. Ataukah sang bapak harus terus terang mengatakan status anak zina tersebut sehingga seluruh tetangga serta kerabat mengetahuinya. Betapa malu dirinya. Betapa malu anak gadisnya. Tegakah dia jadikan buah hati yang dia sayangi ikut menanggung getah perbuatan haram ayah ibunya dulu?

Luar biasa dampak buruk zina. Malu saja sebenarnya belum bisa mewakili konsekuensi syar’I dari dosa zina. Secara syar’I, seorang perjaka/perawan yang berzina kepadanya akan diberikan cambuk di depan umum sebanyak 100 kali oleh mahkamah syari’ah. Belum lagi azab pedih yang harus dihadapi nanti di akhirat.

Semoga kisah berharga di atas bisa menginspirasi diri kita. Kita jaga baik-baik diri dan keluarga kita untuk tidak mendekati perbuatan zina. Kita dijaga untuk tetap memelihara kesucian diri kita. Kita memohon kepada Allah agar kita dijauhkan dari perbuatan zina dan dimudahkan untuk bisa menempuh jalan halal (yakni dengan menikah). Tidak lupa, kita juga berharap kepadaNya, agar kita dikaruniai nikmat taubatan nasuhah atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Wallahu a’lam bishshawb.

Mas Aan. Prembun, 10 Januari 2010.

Baca juga:
Step by step mendakwahi orang yang memilih jalan maksiat (pacaran) untuk nikah