Aku dapat kisah inspiratif dari seorang relasiku. Dia cerita kepada saya bahwa suatu hari saat dia berjalan-jalan di suatu kampung, dia berjumpa dengan seorang kakek yang usianya kira-kira sudah berkepala tujuh. Kakek itu tampak sedang menanam sebuah pohon jati.

Di dorong oleh rasa penasaran dan rasa heran, relasi saya itupun bertanya kepadanya, “pak, untuk apa Anda menanam pohon jati? Pohon jati kan membutuhkan waktu yang sangat lama agar bisa dinikmati hasilnya?”. Bapak tersebut tersenyum dan menjawab, “ya kalau mau menanam, tanam saja. Kalo toh apa yang kita tanam baru memberikan hasil 10 tahun yang akan datang dan bisa jadi kita sendiri tidak dapat menikmatnya, saya berharap dengan buah kebaikan yang siapapun nantinya akan memetik hasil tanaman saya ini di 10 atau 20 tahun yang akan datang, Allah berikan kepada kakek banyak kemudahan dan kemurahan riski pada kakek di masa sekarang”. Subhanallah, Relasi saya itu kemudian terdiam, takjub dengan jawaban yang sarat makna tersebut.

Pembaca yang budiman,

Sering kali kita mau berbuat baik kepada diri kita sendiri maupun ke orang lain, kita dihentikan oleh hitungan matematis akal pikir kita atau prasangka berlebihan yang bisa jadi sangat tidak berdasar. Niat baik itu akhirnya pun pupus, bahkan dalam tataran kita belum sempat mencobanya walaupun dalam skala kecil.

Saat datang seorang pengamen kepada kita saat kita naik bus kota maupun di rumah, kita dengan prasangka buruk berpikir bahwa si pengamen itu adalah seorang penipu atau pasti menggunakan uang yang kita nantinya beri pasti untuk mabuk-mabukkan. Kita mengusirnya bahkan dengan tidak segan-segan kita menurunkan derajat diri kita disisi Allah dengan berbohong kepadanya bahwa kita tidak punya uang. Mengapa tidak, diri kita tetap memberinya tentu dengan hati ikhlash sambil berharap bahwa pemberian kita itu dia bisa gunakan hanya semata-mata untuk kebaikan. Sibuklah pada perbaikan niatan kita saat memberi. Ketika tidak ikhlash, mending tidak usah memberi saja.  sebab efek tidak ikhlash tidak saja menjadi ‘energi negatif’ bagi diri, juga bagi orang yang mnenerimanya. Ya sekalipun pada beberapa waktu kita harus memaksa diri kita untuk berbuat ikhlash.

Aku teringat akan sebuah hadist, Dalam hadits itu dikisahkan tentang seorang lelaki yang berkata: “Saya akan mengeluarkan sedekah!” Kemudian dia keluar pada malam hari dengan membawa sedekahnya itu. Ternyata sedekahnya itu jatuh ke tangan seorang yang kaya. Keesokan harinya orang-orang pada membicarakan peristiwa itu. Mereka berkata: “Seorang kaya telah diberi sedekah!”.

Lelaki itu hanya berdoa: “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekahku jatuh ke tangan orang kaya.” Ia berkata lagi: “Saya akan mengeluarkan sedekah!” Kemudian dia keluar pada malam kedua dengan membawa sedekahnya itu. Ternyata sedekahnya itu jatuh ke tangan seorang pencuri. Keesokan harinya orang-orang pada membicarakan peristiwa itu. Mereka berkata: “Seorang pencuri telah diberi sedekah!” Lelaki itu hanya berdoa: “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sede-kahku jatuh ke tangan orang kaya dan seorang pencuri.”

Ia berkata lagi: “Saya akan mengeluarkan sedekah!” Kemudian dia keluar pada malam hari dengan membawa sedekahnya itu. Ternyata sedekahnya itu jatuh ke tangan seorang pelacur. Keesokan harinya orang-orang pada membicarakan peristiwa itu. Mereka berkata: “Seorang pelacur telah diberi sedekah!” Lelaki itu hanya berdoa: “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekahku jatuh ke tangan orang kaya, seorang pencuri dan pelacur.”

Kemudian ditanyakan kepadanya perihal tersebut, ia pun berkata: “Semoga orang kaya itu dapat memetik pelajaran hingga bersedia mengeluarkan kewajiban zakatnya, semoga si pencuri itu dapat menjaga kehormatan dirinya dengan harta itu, dan semoga si pelacur dapat menjaga kehor-matan dirinya dengan harta itu hingga dapat meninggal-kan perbuatan zina.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Kisah luar biasa di atas memberikan pelajaran kepada kita untuk sekali lagi berpemahaman bahwa ketika mau member, fokuskan pada diri kita sendiri. Perbaiki niat kita dalam memberi juga ke ikhlasannya. Setelah itu, yakin saja, Allah pasti menghitungnya dan memberikan balasan bagi kita, bahkan balasan yang berlipat ganda. Tidak kah kau perhatikan Allah subhanahu wata’ala telah banyak menyebutkan dalam firmanNya, Allah subhanahu wata’alaberfirman:

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (Qs. Al Baqarah: 261).

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan (QS. Al Baqarah: 245).

Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak (QS. Al Hadiid: 11).

So, ketika kita mau menanam kebaikan, tanam, tanamkan saja. Luruskan dan ikhlaskan niat kita semoga kebaikan yang kita tanam itu bisa berbuah sebagaimana yang kita harapkan. Lalu kita lihat, keajaiban apa yang akan muncul. Wallahu a’lam.

Anjrah2006@WCG 27 Oktober 2010.