Aku sadar hati ini mungkin sudah tertawan dengannya

Satu perhiasan dunia yang demikian beda

 

Walau pertama jumpa dan

hanya sekali pandang

Cerah paras wajahnya saat tersenyum

Kuat karakter saat berargumen

Dan lucu salah tingkahnya malu-malu

Selalu terngiang di kepala

 

“Oh , inikah kiranya bidadariku?”.

 

Waktu terus berjalan,

Hatiku terpecah.

Separuh hatiku berkata, “lupakan!”

Separuh yang lain, “Awas, tar dia terlepas, tak bisa kau dapatkan”.

Aduh.. apa yang harus kuperbuat?

 

Sekian tahun berjalan

‘Bidadariku’ sudah tumbuh lebih dewasa

Bukan kakak-kanak lagi,

tetapi juga memang tidak hilang sempurna.

kekanak-kanakannya aku lihat adalah “special one’s” darinya.

 

Kini ia jalani amanah  untuk kemandirian dirinya

Menukar apa yang ia bisa agar bisa dapatkan sarana penggapai cita-cita

Ya bekerja, belajar, sangat keras. Tapi aku tau, dia menyukainya.

 

Deuh.. tetapi mengapa aku merasa begini

Ya aku tahu, Dia belum menjadi milikku

Aku pun bukan miliknya

 

Hanya rasa hati ini tak rela

Aku ingin berkata, “Aku cemburu”

Tetapi pantaskah?

Siapa aku?

Siapa dia?

 

“Ya Allah, Jagalah hatinya hanya untukku”

Izinkanlah hatinya tetap jernih

Dan tidak ada “kotoran” yang datang padanya

Persiapkanlah semata hanya untukku.

 

Jadikanlah ketika nanti kami bersatu

Di hatinya hanya ada aku, Dihatiku hanya ada dia

Sehingga ketika bersamaku, dia bersamaku seutuhnya

Dan ketika aku bersamanya, aku bersamanya seutuhnya

 

Meski aku tahu, ketentuanMu telah kering Kau tulis

“Ya Rabb, Aku tau inilah yang disebut cemburu”

Sebuah Rasa syak dihati, yang sebenarnya belum halal hadirnya

Hanya secara nyata, betul-betul aku rasa

 

“Ya Allah, Jagalah hatinya hanya untukku”

[Just. lintasan hati, nemu di diary, Sabtu Pagi , 16 Januari 2010, 08.30 WIBB]