English: A green version of http://commons.wik...
(Photo credit: Wikipedia)

Tidak semua ilmu itu bermanfaat secara hakiki bagi kita. Maka doa masyhur yang rasulullah ajarkan adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّـي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يـَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah puas/cukup, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim, Ahmad dan An-Nasa’i dari Zaid bin Arqam)

Karena jelas, umut kita pendek, gak selama umur umat nabi nabi sebelumnya yang sampae ratusan sampai ribuan tahun. So, perlu bener-bener selektif mempelajari sesuatu sehingga hendaknya bisa semata-mata mendapatkan ilmu yang benar-benar manfaat bagi kita dunia akhirat.

lalu apa makna ilmu yang bermanfaat itu menurut para ulama:

Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menjelaskan tentang ilmu yang bermanfaat. Beliau mengatakan, pokok segala ilmu adalah mengenal Allah I yang akan menumbuhkan rasa takut kepada-Nya, cinta kepada-Nya, dekat dengan-Nya, tenang dengan-Nya, dan rindu pada-Nya. Kemudian setelah itu berilmu tentang hukum-hukum Allah I, apa yang dicintai dan diridhai-Nya dari perbuatan, perkataan, keadaan atau keyakinan hamba.

Orang yang mewujudkan dua ilmu ini, maka ilmunya adalah ilmu yang bermanfaat. Ia, dengan itu, akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyu’, jiwa yang puas dan doa yang mustajab. Sebaliknya yang tidak mewujudkan dua ilmu yang bermanfaat itu, ia akan terjatuh ke dalam empat perkara yang Nabi r berlindung darinya. Bahkan ilmunya menjadi bencana buatnya, ia tidak bisa mengambil manfaat darinya karena hatinya tidak khusyu’ kepada Allah I, jiwanya tidak merasa puas dengan dunia, bahkan semakin berambisi terhadapnya. Doanya pun tidak didengar oleh Allah I karena ia tidak merealisasikan perintah-Nya serta tidak menjauhi larangan dan apa yang dibenci-Nya.

Lebih-lebih apabila ilmu tersebut bukan diambil dari Al Qur‘an dan As Sunnah, maka ilmu itu tidak bermanfaat atau tidak ada manfaatnya sama sekali. Yang terjadi, kejelekannya lebih besar dari manfaatnya.
Ibnu Rajab juga menjelaskan, ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan benar ayat-ayat Al-Qur‘an dan hadits Nabi r serta memahami maknanya sesuai dengan yang ditafsirkan para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Lalu mempelajari apa yang berasal dari mereka tentang halal dan haram, zuhud dan semacamnya, serta berusaha mempelajari mana yang shahih dan mana yang tidak dari apa yang telah disebutkan. Kemudian berusaha untuk mengetahui makna-maknanya dan memahaminya.

So, singkatnya ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan benar ayat-ayat Al-Qur‘an dan hadits Nabi r serta memahami maknanya sesuai dengan yang ditafsirkan para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Lalu mempelajari apa yang berasal dari mereka tentang halal dan haram, zuhud dan semacamnya, serta berusaha mempelajari mana yang shahih dan mana yang tidak dari apa yang telah disebutkan. Kemudian berusaha untuk mengetahui makna-maknanya dan memahaminya.

Pertanyaannya, sudahkah kita mempelajari ilmu bermanfaat sesuai kemauan tafsir hadist di atas? wah, jangan -jangan bab urusan mandi wajib saja rukun rukunnya belum benar… he he,, masih ada waktu kog,, Sip ya, Always stay tune With Penggemar Susu Kedelai Organik Paling Enak.