Jual Tirai Jendela Kamar Anak – Mencuatnya kasus vonis penjara terhadap dokter Dewa Ayu Sasiary Prawan, 38 tahun, beserta dua koleganya menyedot perhatian masyarakat. Banyak yang bertanya-tanya argumen siapa yang benar? Apakah argumen keluarga korban yang dikabulkan oleh Mahkamah Agung atau argumen para dokter, pengurus Ikatan Dokter Indonesia, yang juga diamini oleh Pengadilan Negeri Manado.

Kasus dokter Ayu dan kawan-kawan berawal dari mening­galnya pasien yang mereka tangani, Julia Fransiska Maketey, di Rumah Sakit R.D. Kandou Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, pada 10 April 2010. Keluarga Julia menggugat ke pengadilan negeri. Hasilnya, Ayu dan kedua rekannya dinyatakan tidak bersalah. Namun, di tingkat kasasi, ketiga dokter itu divonis 10 bulan penjara.

Majelis hakim kasasi memvonis Dewa Ayu Sasiary serta dua rekannya, Hendy Siagian dan Hendry Simanjuntak, bersalah saat menangani Julia Fransiska Maketey. Julia akhirnya meninggal saat melahirkan. Berikut ini pertimbangan majelis kasasi seperti yang tercantum dalam putusan yang dirumuskan dalam sidang 18 September 2012.

Berikut ini beberapa poin penting yang menjadi perdebatan soal ada atau tidak malpraktek dalam kasus dokter Ayu:

1. Pemeriksaan jantung baru dilakukan setelah operasi.
Menurut dr. Januar, pengurus Ikatan Dokter Indonesia, operasi yang dilakukan terhadap Siska, tak memerlukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan jantung.

“Operasinya bersifat darurat, cepat, dan segera. Karena jika tidak dilakukan, bayi dan pasien pasti meninggal,” ucap dokter kandungan ini.

2. Penyebab kematian masuknya udara ke bilik kanan jantung.Ini karena saat pemberian obat atau infus karena komplikasi persalinan.

Menurut O.C. Kaligis, pengacara Ayu, putusan Mahkamah Agung tak berdasar. Dalam persidangan di pengadilan negeri, kata Kaligis, sudah dihadirkan saksi ahli kedokteran yang menyatakan Ayu dan dua rekannya tak melakukan kesalahan prosedural.

Para saksi itu antara lain Reggy ­Lefran, dokter kepala bagian jantung Rumah Sakit Profesor Kandou Malalayang; Murhady Saleh, dokter spesialis obygin Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta; dan dokter forensik Johanis.

Dalam sidang itu, misalnya, dokter forensik Johanis menyatakan hasil visum et repertum emboli yang menyebabkan pasien meninggal BUKAN karena hasil operasi. Kasus itu, kata dia, jarang terjadi dan tidak dapat diantisipasi.

Para ahli itu juga menyebutkan Ayu, Hendry, dan Hendy telah menjalani sidang Majelis Kehormatan Etik Kedokteran pada 24 Februari 2011. Hasil sidang menyatakan ketiganya telah melakukan operasi sesuai dengan prosedur.

3. Terdakwa tidak punya kompetensi operasikarena hanya residence atau mahasiswa dokter spesialis dan tak punya surat izin praktek (SIP) Ketua Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) dr. Nurdadi, SPOG dalam wawancara dengan sebuah stasiun televisi mengatakan tidak benar mereka tidak memiliki kompetensi.

“Mereka memiiki kompetensi. Pendidikan kedokteran adalah pendidikan berjenjang. Bukan orang yang tak bisa operasi dibiarkan melakukan operasi,” katanya.

Soal surat izin praktek juga dibantah. Semua mahasiswa kedokteran spesialis yang berpraktek di rumah sakit memiliki izin. Kalau tidak, mana mungkin rumah sakit pendidikan seperti di RS Cipto Mangunkusumo mau mempekerjakan para dokter itu.

4. Terjadi pembiaran pasien selama delapan jam.
Menurut Januar, pengurus Ikatan Dokter Indonesia, saat menerima pasien Siska, Ayu telah memeriksa dan memperkirakan pasien tersebut bisa melahirkan secara normal. Namun, hingga pukul 18.00, ternyata hal itu tak terjadi. “Sehingga diputuskan operasi,” ujar Januar.

Sesuai prosedur kedokteran saat air ketuban pecah, biasanya dokter akan menunggu pembukaan leher rahim lengkap sebelum bayi dilahirkan secara normal. Untuk mencapai pembukaan lengkap, pembukaan 10, butuh waktu yang berbeda-beda untuk tiap pasien. Bisa cepat bisa berjam-jam. Menunggu pembukaan lengkap itulah yang dilakukan dokter Ayu.

Mana yang benar-sebenar benarnya? Mari kita kembalikan ke proses persidangan resmi yang sedang berlangsung.  permenungan saya:

Ya .. Lagi rame dokter ‘vs’ pasiennya … tidak dalam posisi sampaikan benar dan salahnya, karena urusan benar dan salah kembali ke proses peradilannya bagaimana nanti..

Bahasa Awam saja,
Ketika ada dokter yang mengalami ‘ketidakadilan’,
mereka ramai berdemo ‘menyampaikan suaranya’
‘suara dokter’ harus di dengar…

Bahasa dewanya ‘Ini sudah sesuai prosedur’
‘tidak ada malpraktek’ .. serta bahasa lain yang sebagian
pasien atau mantan pasien hafal benar dengan istilah semua itu…

Kalau memang segala sesuatu ditarik keluar dari dalam dirinya,
diri memang tidak pernah salah. Orang lain yang salah, orang lain yang tak pernah ‘ngerti ilmu benarnya’…

Wong kalau kita jadi pasien, bisanya ‘pasrah aja’, itu prosedur benar benar benar, atau keliru, wong kita tidak pernah tau mana yang benar benar itu benar mana yang itu dibenar benarkan…

Pasien taunya cuman pengen sembuh, keluhannya teratasi..

Aku sendiri sih cenderung mendudukan diri dari sisi pasien, mungkin kulminasi mewakili beberapa pasien yang ‘sudah tidak mendapatkan banyak keadilan’ dari perawatan dari dokter di bangsal bangsal ‘kelas ekonomi’.

Pasien pasien ‘kelas ekonomi’ ini kalaupun memang mampu bisa jadi mereka yang lebih layak mendemo balik para dokter itu.

Ya memang, selalu tetap ada dokter yang baik, yang profesional, membantu para pasiennya. Namun lebih dibutuhkan lagi dokter jujur yang jantan di hari hari kedepan ketika menemui masalah yang memang kesalahan dirinya, mau mengakui serta mau menempuh jalur solusi yang bagus juga bagi pasiennya.

Biar pada momen begini ini, pasien pasien yang akan mendemo pemerintah / pemberi kebijakan. Bukan dokter-dokternya sendiri. Ini suara rakyat kecil… unek unek aja… kurang lebihnya mohon maaf.