Blognya Anjrah – rumah mbah parto. Dia hidup sebatang kara. Suaminya menyusul meninggal  setelah anak satu  satunya yang masih berusia muda juga meninggal.

Baik suami maupun anaknya qadarullah mengalami  sakit  sakitan dimana mbah parto putri muda waktu itu dengan tekun merawat keduanya. Ntah  sakit apa, aku ndak berani lebih detail menelisiknya.

Hanya  saja, apa yang membuat aku angkat topi. Di usia mbah parto yang sudah demikian renta, Allah jadikan dia sebagai pribadi yang pantang meminta minta.

image
Tampak depan rumah mbah parto

Dalam keseharian, beliau pagi pagi cari kulit kayu di para juragan kayu yang mau menggergajikan kayunya. Habis itu kulit kayu dia jemur sampai kering.

Ia lalu menunggu ada ibu ibu penjual kayu lewat. Kalau  ada nanti bisa dia jual ke para customer ibu ibu penjual kayu itu dengan sistem bagi hasil.

Kadang, nggak ada kulit kayu ia  dapatkan. Kalau sudah begitu, dia tinggal berdoa  ada juragan kayu yang membeli kayu sehingga dia bisa menambah  stok kulit kayu kering. Kadang, walaupun kayunya ada.

Karena terbatas informasi, walau kadang ada kayu, namun mbah parto kalah gesit dengan pencari kulit kayu yang jauh lebih muda. Beliau  datang, eh kulit kayu semuanya  sudah habis terkelupas.

Ya inilah inspirasi bagi kita yg masih muda. Usia serenta itu namun sgt  mandiri. Apalagi kita yg masih punya  tenaga  dan pendidikan jauh di atas beliau yg SD aja tidak lulus.

image