Aku belajar dari masjid baiturahim yang dia itu membuat skema ketakmiran yang cantik. Ketakmiran bukan semata-mata siapa orang yang mau ngurus masjid, namun patut ianya dijadikan pula sebagai bagian dari strategi dakwah kepada orang orang yang selama ini ‘jauh dari masjid’.

Apalah makna ketika yang dijadikan takmir semata mata ‘orang orang masjid saja’, dimana peran dakwahnya?

Kayak di masjid sebelah, dibuat saling silang antara orang masjid dan ‘orang orang yang jauh dari masjid’. Jadi setidaknya, diberikan beban amanah oleh struktur ketakmiran sebagai sarana memancing orang orang itu ‘mendekat ke masjid’.

 

Peluang dakwah yang bagus begitu, malah nggak dilihat. Karena emang nampaknya sampai di bela belain satu orang pegang beberapa jabatan, ya jelas jelas upaya ‘sebagian mereka’ mengukuhkan eksistensi bahwa ‘masjid milik kelompok’ mereka saja.

Padahal, masjid milik warga. Bukan ‘milik mereka’. warga ada yang nggak satu pemahaman dengan mereka, ya setidaknya tetap di libatkan dalam kepengurusan masjid, yang menjadi representasi milik bersama.

Misal maunya cuman adigang adigung adiguna begitu, ya selamat saja, Allah mahaadil, Dia yang maha tahu makar makar yang sudah dibuat.