Alhamdulillah, tepatnya kemarin, pada 19 Februari 2017 telah diterbitkan fatwa resmi dari Guru Besar kami, Dr. Erwandi Tarmizi, MA yang berjudul TAKYIIF FIQHIY Deposit Uang di GO-PAY yang sebelumnya telah dibahas pada 2 artikel kami sebelumnya yaitu Hakikat Riba Pada Ojek Online yang cukup banyak mendapatkan antusias netizen muslim yang sama-sama ingin menjadi muslim yang bertakwa, terutama pada hukum riba di era modern ini.
Berikut ini adalah bahasan mengenai GO-PAY yang telah diterbitkan pada website resmi Dr. Erwandi dan akan ditambahkan pada buku Harta Haram Muamalat Kontemporer (HHMK) cetakan ke-15.
Sebelum menjelaskan hukum boleh atau tidaknya, halal atau haramnya transaksi GO-PAY perlu dijelaskan hakikat deposit uang di GO-PAY menurut tinjauan fiqh.
Wallahu A’lam, menurut hemat penulis deposit ini dapat disamakan hukumnya dengan transaksi nitip uang pada toko sembako yang dekat dari rumah dengan tujuan dapat diambil barang setiap dibutuhkan dan pada saat itu pembayaran harga barang dapat didebet langsung dari saldo uang yang dititipkan.
Ibnu Abidin (Ulama mazhab Hanafi, wafat 1836M) memasukkan kasus ini ke dalam salah satu bentuk bai’ istijrar, ia berkata,
وَلَوْ أَعْطَاهُ الدَّرَاهِمَ، وَجَعَلَ یَأْخُذُ مِنْهُ كُلَّ یَوْمٍ خَمْسَةَ أَمْنَانٍ وَلَمْ یَقُلْ فِي الِابْتِدَاءِ

… اشْتَرَیْتُ مِنْكَ

قُلْت: … وَهَذَا ظَاهِرٌ فِیمَا كَانَ ثَمَنُهُ مَعْلُومًا وَقْتَ الْأَخْذِ مِثْلَ الْخُبْزِ وَاللَّحْمِ أَمَّا إذَا كَانَ

ثَمَنُهُ مَجْهُولًا فَإِنَّهُ وَقْتَ الْأَخْذِ لَا یَنْعَقِدُ بَیْعًا بِالتَّعَاطِي لِجَهَالَةِ الثَّمَنِ، فَإِذَا تَصَرَّفَ فِیهِ

الْآخِذُ وَقَدْ دَفَعَهُ الْبَیَّاعُ بِرِضَاهُ بِالدَّفْعِ وَبِالتَّصَرُّفِ فِیهِ عَلَى وَجْهِ التَّعْوِیضِ عَنْهُ لَمْ

یَنْعَقِدْ بَیْعًا، وَإِنْ كَانَ عَلَى نِیَّةِ الْبَیْعِ لِمَا عَلِمْتَ مِنْ أَنَّ الْبَیْعَ لَا یَنْعَقِدُ بِالنِّیَّةِ، فَیَكُونُ

شَبِیهَ الْقَرْضِ الْمَضْمُونِ بِمِثْلِهِ أَوْ بِقِیمَتِهِ فَإِذَا تَوَافَقَا عَلَى شَيْءٍ بَدَلَ الْمِثْلِ أَوْ الْقِیمَةِ

بَرِئَتْ ذِمَّةُ الْآخِذِ
 
“Bila seseorang menyerahkan sejumlah uang kepada penjual, setiap harinya dia mengambil barang sebanyak 5 item dan pada saat menyerahkan uang dia tidak mengatakan, “saya beli darimu, 5 item setiap harinya”
Aku berkata, ”Hukumnya boleh jika harga 5 item tersebut telah jelas sebelumnya seperti roti dan daging. Adapun jika harganya tidak diketahui pada saat mengambil barang maka akad jual-belinya tidak sah karena harga pada saat transaksi tidak jelas. Maka apabila barang telah digunakan oleh pihak penitip uang dan sungguh penjual telah menyerahkannya dengan ridha dan dengan tujuan mendapat uang maka sesungguhnya akad jual-beli belum terjadi. Walaupun niat kedua belah pihak untuk melakukan akad jual-beli, hal ini dikarenakan akad jual beli tidak sah dengan niat saja. Maka sesungguhnya yang terjadi hampir serupa dengan akad Qardh (dimana penitip uang meminjamkan uangnya dan penjual meminjamkan barangnya) yang dia menjamin uang atau barang dengan semisalnya atau senilainya 1 .
Berdasarkan takyiif yang dijelaskan oleh Ibnu Abidin bahwa akadnya dapat disamakan dengan qardh maka dalam kasus GO-PAY bahwa khusus pengguna jasa GO-JEK yang membayar jasa dengan GO-PAY mendapat potongan harga maka ini adalah manfaat yang diberikan muqtaridh (penerima pinjaman) kepada muqridh (pemberi pinjaman) dan dan setiap pinjaman yang mendatangkan manfaat bagi pemberi pinjaman hukumnya adalah Riba.
Materi terdapat dalam buku Harta Haram Muamalat Kontemporer (HHMK) cetakan ke-15

Halaman 279 – 281. PDF Version, Klik disini.
1 .Hasyiyah Ibnu Abidin, jilid IV, hal 516.
— Tamat —
Dengan diterbitkannya tulisan resmi dari Dr. Erwandi ini, kami selaku tim Sekolah Muamalah Indonesia menganggap pembahasan artikel mengenai Riba Pada Ojek Online ini telah selesai.
Semoga pembahasan ini dapat menjawab pertanyaan dan pernyataan netizen baik secara tersurat maupun tersirat makna dan hikmah nya. Aamiin.

Read more: http://sekolahmuamalah.com/final-takyiif-fiqhiy-deposit-uang-di-go-pay/#ixzz4ZE46kITB

Advertisements