###15 Evaluasi & Pengingat untuk Para Entrepreneur Muda Pemula:###

.

.

1. Hati-hati dengan publikasi dan ketenaran… akan ada masa-masa media akan menghampiri atau orang-orang mengundang jadi pembicara… ini adalah pedang bermata dua… inget, kita bukan artis atau pembicara, kita adalah pebisnis… jangan sibuk jalan-jalan, namun bisnis gak jalan… jangan sibuk ngomong, eh sama karyawan malah diomongin dari belakang…

.

2. Menang lomba tidak menggambarkan sehatnya bisnis kita. Juara lomba diputuskan oleh orang luar dan sifatnya subyektif dan bisajadi yang jadi penilai juga bukan praktisi, atau lebih nyeseknya lagi, lomba adalah kepentingan dari pihak yang punya lomba, entah kepentingan PR, branding, atau CSR biar laporan pajak aman… sebenarnya mereka juga tidak peduli sepenuhnya sama bisnis kita. Ikut lomba boleh, tapi jangan melupakan how to build business… karena kita bukan sedang berlomba, tapi sedang berbisnis.

.

3. Kita bisa tahu bisnis kita sehat itu sederhanya dari melihat 3 hal: laporan laba rugi, neraca, dan cashflow. Laporan laba rugi memperlihatkan seberapa untung bisnis model yang kita jalankan… neraca menggambarkan seberapa banyak asset yang kita punya… dan cashflow memperlihatkan seberapa liquid perputaran uang kita. Kalau 3 hal ini aja gak ngerti, disarankan jangan bikin bisnis dulu…

.

4. Stop ikut seminar-seminar, training-training ketika sudah 2 tahun tidak ada perubahan. Bisajadi kita sedang terperangkap oleh genjutsu (ilmu mempengaruhi 5 indra) dari pembicara. Untuk tahun-tahun pertama sangat disarankan untuk ikut seminar-seminar dasar tentang bisnis. Tapi, trendnya, masih banyak yang tidak keluar dari jeratan seminar-seminar atau training selama bertahun-tahun, bahkan malah ini jadi salah satu industri sendiri yang menjamur… mereka yang ikut seminar berkali-kali sampai hafal materi pembicara dan akhirnya nyoba-nyoba buka seminar sendiri. Tadinya mau bisnis kuliner, eh malah jadi pembicara bisnis kuliner yang jika dilihat dengan poin 3 di atas sebenarnya bisnisnya amburadul. Di lapangan, orang seperti ini banyak.

.

5. Jangan kebanyakan foto-foto sama orang yang kamu anggap sukses… dikit-dikit foto… dikit-dikit foto… sambil nunjukin jempol sukses… why? karena jika begitu terus kita akan terperangkap pada level ‘kagum’ dan tak akan pernah naik ke level ‘dikagumi’. Bahayanya di sini adalah, kamu kagum karena pencitraan mereka… coba lebih kenal dalam dengan mereka, kamu akan menemukan banyak hal yang berbeda dari pencitraan orang-orang yang kamu kagumi. Islam telah mengajarkan untuk mengenal orang yaitu dengan cara: menginap bersamanya minimal 3 hari, berpergian jauh bersama, dan berbisnislah bersama mereka. Jika sudah dilakukan, barulah kagum atau tidaknya menjadi objective.

.

6. Segera hilangkan rasa bahwa diri ini hebat. Dunia ini gak seluas daun kelor aja… mungkin komunitas atau lingkunganmu bilang kamu tuh hebat banget, tapi di luar sana ada yang jauhhhhhh berkali-kali lipat lebih hebat dari kamu. Mungkin, saat ini kamu disandingkan dengan para orang-orang hebat di luar sana, tapi sebenarnya belum pantas. Yang terjadi akhirnya jebakan ‘merasa hebat’ muncul… ketika sudah muncul, maka kita akan merasa ilmu, pengalaman, kejeniusan kita telah berada pada level/ruang orang yang sebenarnya lebih tinggi dari kita. Apa yang akan terjadi jika hal ini muncul? kita tak akan pernah bergerak kemana-mana.

.

7. Jangan cepet-cepet mau jadi boss atau menjadi orang atas. Ada sindrom pada anak muda jenius merasa layak untuk diberi tempat dan penghargaan ini itu… karena jarang sekali di usianya tersebut bisa begini dan begitu. Akhirnya muncul keangkuhan dan menilai apa-apa dari kacamata sendiri. Sering mau jadi nomer satu, harus dihargai berlebih… padahal perbandingan yang dipakai bukanlah perbandingan yang objective… jika muncul seperti ini, kita tidak akan pernah mau belajar dari bawah karena merasa sudah di atas sehingga susah untuk bekerjasama  jikalau diposisikan jadi bawahan. Padahal, jikalau hidup rata-rata manusia 65 tahun, gak apa-apalah dalam usia 22 tahun jadi bawahan selama 5 tahun, kan saat usia 27 tahun sudah jadi sesuatu… so, 5 tahun itu sebenernya bukan jadi bawahan, tapi belajar bagaimana jadi atasan… dan masih banyak usia yang lebih produktif untuk melakukan sesuatu hingga 65 tahun kan…?

.

8. Hati-hati dengan pendapatan yang akan didapat. Ketika bisnis mulai bagus, biasanya pendapatan akan mulai terlihat. Uang sering lho mengubah karakter orang… hati-hati dengan hati kita yang berbolak-balik, pagi jadi malaikat, sore udah jadi iblis… uang hanyalah alat tukar, bukan tujuan… kembali lagi ke tujuan awal kamu mau bisnis untuk apa, diharapkan bisnis yang membawa manfaat ya… pendapatan boleh naik, tapi gaya hidup tetap sederhana aja ya dan sedekahnya justru yang dinaikin… 

.

9. Hati-hati dengan provokasi “Keluar Kerja!”, “Pakai Otak Kanan! Gak usah mikir” dan jebakan-jebakan semangat lainnya yang kadang menghilangkan akal sehat… lagi-lagi ini pisau bermata dua… maksudnya secara positif di sini adalah penyemangat bagi orang-orang yang sudah siap untuk berbisnis tapi belum juga berani full berbisnis… semangat ini bukan buat mereka yang putus asa, gak punya basic, dan masih labil… karena ketika memutuskan berbisnis itu cuma dua kemungkinannya: tambah sejahtera dan tambah bangkrut. Dan segala hal yang diputuskan tanpa persiapan selalu gagal pada akhirnya. Bisnis butuh banyak sekali persiapan: coba cari referensi sana-sini dulu sebelum memutuskan. Karena sebenernya ya, banyak banget karyawan yang gajinya ratusan juta dan hidupnya tenang-tenang aja… jadi kalau jadi pebisnis itu untuk dapet uang lebih banyak gak selalu benar, karena jadi karyawan pun SANGAT BISA. Suka lucu aja, ngeliat orang yang ngatain karyawan padahal gue tau banget pendapatan dia gak ada sepersepuluhnya dari karyawan yang gue kenal… kok malah terkesan sombong ya provokasinya :). Sebelum berpikir positif atau semangat gak jelas, kedepankan dulu berpikir tepat dengan akal sehat yang objektif.

.

10. FOKUS! walau akan banyak peluang yang terlewat… ketika fokus kita akan belajar memahami kuda-kuda yang kuat, kesabaran, logika, pola, dan kesiapan ketika ada peluang yang datang. Fokus berbicara kesiapan… kesiapan menerima peluang, apakah kita sudah siap menerimanya? siap tidak siap dibentuk dari kefokusan.

.

11. Lebih baik, kamu kerja dulu di industri yang akan kamu bisniskan nantinya… karena ketika kamu kerja dulu maka kamu akan melihat dari hulu ke hilir bagaimana keseluruhan industrinya sampai akar-akarnya… hal ini akan sangat memudahkan kamu ketika nanti berbisnis. Tapi, jangan keasyikan sampai lupa bahwa mau dibisniskan… Jikalau tidak mau, maka carilah partner yang sudah tau industrinya sampai ke akar-akarnya. Pertanyaannya, memang ada yang mau sama bocah bau kencur kecuali kamu direkomendasikan oleh seseorang yang sangat terpercaya? hihihi…

.

12. Bisnis berbicara tentang angka, bukan perasaan. Jikalau ditanya sales berapa, jawab dengan “1, 2, 3” bukan “Laku bangettt brooo!”… semua harus tercatat… PENCATATAN dalam bisnis adalah akar, pelajarilah akuntansi… ini ilmu sendiri yang harus dipahami… kalau gak ngerti ini, jangan buka bisnis dulu deh… kalau gak mau ngerti, ajak temen kamu yang ngerti… tapi emang ada yang mau diajak sama orang yang males buat ngerti? :p

.

13. Buatlah bisnis untuk memenuhi KEBUTUHAN pasar, bukan KEINGINAN pribadi/tim… di sinilah riset diperlukan… kalau di online kita punya tools semacam Google Keyword planner tools, google trend, FB audience insight, hingga paper-paper baik secara makro maupun mikro. Butuh sekali riset mendalam, jangan level asumsi “Laku deh!”, “Dari mana lo tau laku? datanya?”, “Mmmm… ya laku deh! temen gue banyak yang beli..”… jangan asumsi ya, karena lo bukan lagi main sinetron lho, bisnis itu dunia real apalagi jadi backbone utama, kalau lo gak dapet pendapatan ya lo bakal sengsara… urusan bersyukur dan tawakal beda yaaa.. jangan salah paham…

.

14. Perbaiki hubungan dengan orang tua… karena percaya gak percaya orang tua punya sambungan energi rezeki… jika hubungan dengan orang tua tersumbat, maka aliran energi rezeki juga akan tersumbat. Jika ortu sudah meninggal, carilah saudara terdekatnya dan minta maaf… coba dicek lagi, jangan-jangan segala usaha, ilmu, doa, tim kompak tapi kok masih mentok juga, bisajadi kamu masih terhambat karena punya dosa sama orang tua… beratnya, memang kamu akan malu bahkan ego pribadi masih bilang “Ngapain! dia aja gak nganggep gue anak…”, ya, inilah kerasnya kehidupan… kamu harus terima, percaya gak percaya, rezeki sangat bisa tersumbat ketika hubungan dengan ortu buruk… segera deh, sebelum mereka meninggal… ortu kalau udah meninggal gak akan pernah datang dua kali :). Eh tambah lagi, sama suami dan istri juga bro, kelupaan nulis soalnya gue belom punya pengalaman kalau suami istri hehehe…

.

15. Jadilah SUBYEK jangan jadi OBYEK… kamu harus sadari memiliki diri, memiliki kuasa atas diri sendiri… ketika kamu sudah menyadari itu, akhirnya kamu bisa menentukan jalanmu sendiri… berbicara bisnis, paling penting adalah masalah leadership… bagaimanakah jadi pemimpin yang baik… ketika kamu masih jadi obyek yang disuruh-suruh (bisa karena kamunya memang gak inisiatif atau karena kamu gak berani mengemukakan pendapat), maka bisnismu tak akan pernah maju… jadilah subyek, sadari kuasa atas dirimu… mulailah dari inisiatif atas masalah-masalah yang terjadi di sekitarmu, ambil masalah itu selesaikan jangan nunggu disuruh, karena kita bukan pesuruh… tapi juga bedakan ya antara leadirship dan boss ya… boss itu nyuruh-nyuruh, kalau leader dia nyuruh pake teladan… bukan “Nyapu lo!”, tapi dia akan ambil sapu, nyapu dan timnya akan ngerasa gak enak hingga “Pak, maaf, saya aja yang nyapu..”… leader itu menggerakkan dengan teladan… 🙂

.

.

Semoga bermanfaat..
Copas aja ini

Advertisements