SUARA ANJRAH

My Life, My Journey, My Best Destiny

About Me

Saya lahir di Kebumen atau lebih tepatnya adalah di desa Ambal, sebuah desa yang terletak di pantai selatan kabupaten Kebumen dan terkenal dengan sate ayamnya. Pada tanggal 6 November 1986. Saya pernah baca bahwa dalam Islamic arithmetical tanggal lahir saya bertepatan dengan Yaum al-khamis (hari kamis), 3 Rabi’ al-Awwal 3 1407 H. Terus kalau ditanya weton dan shio, setahu saya weton saya kamis pahing dan shio saya adalah shio tiger.

Saya dibesarkan oleh orangtua yang menyayangi saya. Ayah saya bernama Bapak Eko Wartono seorang paramedis di salah satu puskesmas di Kabupaten Kebumen. Beliau dalam persepsi saya adalah sosok bapak yang menyayangi anak-anaknya, care sekali terhadap saudara-saudaranya, berjiwa sosial besar, kadang bersikap keras, berani, pemimpin yang baik, orang yang berkemauan keras, dan tidak suka terhadap polisi. Ibu saya bernama Esti Siwi Susanti seorang guru kelas Sekolah Dasar di Kabupaten Kebumen. Ibu adalah sosok yang sayang terhadap suaminya, sayang terhadap anak-anaknya, sering cerewet, pintar mengelola keuangan, paling enak jika diminta memasak sayur bacem, dan beliau kurang pandai dalam mengelola emosi. Saya sayang dan bersyukur terhadap kedua orangtua saya. Terima kasih bapak dan ibu untuk semuanya.

Saya adalah anak sulung dengan dua orang adik. Adik pertama saya bernama Wuri berjenis kelamin laki-laki dan adik kedua saya bernama Heni berjenis kelamin perempuan. Sekarang Wuri sedang sekolah kelas 2 SMA dan Heni baru berada di kelas 2 SD. Cukup jauh jarak kelahiran saya dengan ke dua adik saya. Sehubungan dengan posisi bapak dan ibu saya sebagai anak sulung pada masing-masing keluarga, maka saya memiliki banyak adik sepupu.

Pada waktu kecil saya lebih banyak menghabiskan waktu dalam pengasuhan kakek dan nenek saya di Prembun “Bengkoang City”. Kedua orangtua saya mulai jam 07.00 – 12.00 bekerja di kantor masing-masing. Kakek saya sifatnya keras, galak, dan suka meminta saya untuk meninjak-nginjak punggungnya. Ehm… meninjak-nginjak punggung kakek adalah hal yang menyenangkan bagi saya, sebab setelah menginjak-nginjak sering ada uang tip sebesar Rp 500,00 – Rp 1000,00 yang lumayan dipakai untuk membeli jajan. So, makanya saya semangat sekali menginjak-nginjak punggung beliau atau sekedar memijat-mijat beliau. Oya, saya memanggil kakek saya dengan panggilan Mbatung. Mbatung itu aslinya Simbah Kakung, sebutan kakek dalam Bahasa Jawa, hanya karena waktu masih kecil pelafalan hurufnya belum sempurna akan tetapi terlanjur sampai besar saya tetap memanggil kakek saya dengan sebutan Mbatung. Beliau telah wafat pada waktu Heni berusia kurang lebih satu tahun.

Sedangkan panggilan untuk nenek saya lebih banyak memanggil dengan istilah biyung atau mbayung. Biyung adalah panggilan untuk ibu dalam Bahasa Jawa, untuk mbayung kepanjangannya adalah Simbah Biyung sebuah sebutan untuk nenek dalam Bahasa Jawa. Alhamdulillah nenek saya sampai sekarang masih bisa bercanda dengan cucu-cucunya. Sebagai tambahan informasi, beliau biasa dipanggil biyung (ibu) oleh semua cucu-cucunya. Saya pikir nenek saya sering dipanggil biyung oleh para cucunya sebab para cucu mengimitasi panggilan bapak ibu mereka saat memanggil beliau. Biyung sangat menyayangicucu-cucunya. Saat dulu beliau masih sehat, saya sangat senang bila pas sakit diingel-ingel (dipijat) dan kadang dibuatkan sambel korek. Bahan sambel korek cukup sederhana, cuma bawang merah, bawang putih, kencur, tempe goreng, garam, dan cabe secukupnya.

Saya mempunyai banyak teman bermain. Saya menempati posisi yang cukup bermakna bagi peergroup saya. Menurut saya, posisi saya tersebut disebabkan saya termasuk anak yang mereka persepsikan pintar. Faktanya sih, kelas satu rangking satu, kelas dua rangking dua, kelas tiga rangking tiga, dan menjadi pemegang NEM tertinggi di SDN Prembun 02 pada kelas 6. Belum beberapa atribut prestasi tambahan yang lain dari beberapa lomba tingkat SD di kecamatan atau kabupaten. Ada lomba cerdas cermat, lomba mata pelajaran, lomba pesta pramuka siaga sampai jambore penggalang, dan lomba baca puisi.

Saya masih ingat, Saya terkejut karena bisa mendapatkan juara III (jika tidak keliru) membaca puisi tingkat SD se-kecamatan Prembun. He…he…, Saya masih ingat seorang guru yang mentraining saya membaca puisi yaitu ibu Nuryati, Guru kelas 3 SDN Prembun 02. Sore-sore saya diminta Ibu Nur untuk latihan bersama Ranita Pranestiwi, seorang siswi rival perebutan tahta rangking 1 di kelas 3 SDN Prembun 02. Puisi yang dilombakan berjudul Kerawang-Bekasi karya Chairil Anwar. Selain itu, salah satu peristiwa yang saya kenang adalah saat Saya mendapatkan uang Rp 10.000, 00 untuk hadiah atas NEM tertinggi yang masuk nominasi NEM SD tertinggi se-kecamatan Prembun. Ehm… bukan semata-mata karena uang, penghargaan tersebut diserahkan dalam forum penghargaan NEM tertinggi sekecamatan Prembun di SDN Prembun 01. Orangtua saya bangga dengan prestasi saya tersebut. Saya gunakan uang tersebut untuk membeli sepatu merk ATT bersama ibu di Pasar Prembun. Saya juga bangga dengan sepatu yang saya beli dengan uang saya sendiri.

Masa SMP masa yang membahagiakan sekaligus masa yang saya anggap cukup suram dalam hidup saya. Membanggakan karena saya satu-satunya siswa dari SDN Prembun 02 yang diterima di SMPN 1 Kebumen. SMP elite di kabupaten Kebumen. Awal sekolah di SMPN 1 Kebumen merupakan masa yang sulit. SMPN 1 Kebumen berlokasi lebih dari 12 KM dari rumah saya, saya harus bangun lebih pagi agar tidak terlambat masuk sekolah. Berbeda sekali dengan kebiasaan waktu SD, pukul 06.30 WIB bangun, jam 07.00 WIB berangkat ke sekolah. Perjalanan dari rumah menuju SMPN 1 Kebumen minimal ditempuh paling cepat setengah jam (dengan catatan angkotnya ngebut dan penuh penumpang) dan normalnya hamper satu jam (angkotnya bobrok, sedikit penumpang, dan sopirnya suka nyetir pelan-pelan serta ga punya empati bahwa penumpangnya sudah mau telat).

Pengalaman berbagai penyesuaian diri bersekolah di SMP elite cukup membuat saya tertekan. Yah selain masalah harus berangkat sekolah jangan sampai terlambat sampai penyesuaian diri terhadap iklim kompetisi siswa yang begitu ketat. Teman-teman SMP saya waktu itu bagi yang otaknya dahsyat, ya dahsyat sekali dalam melahap setiap materi pelajaran yang disajikan para guru. Lah siswa yang seperti saya, wong ndeso (orang desa) yang mindermasuk kutho (kota) ditambah lagi memiliki intelegensi terbatas. Ya yang terjadi saya langsung tersingkir diterjang arus kompetisi yang ada.

Apalagi waktu musim ulangan, sudah datang terlambat, sudah dicoba berlari sprint sesprint-sprintnya dari terminal angkot sampat SMPN 1 Kebumen sejauh ¾ putaran alun-alun Kabupaten Kebumen, masuk gerbang sudah sepi (tanda sudah masuk), eh…harus menghadap Bu Din (Wakasek SMPN 1 Kebumen yang terkenal killer) yang biasanya memarahi sampai menyuruh saya membawa cimindil wedhus (kotoran kambing) sebagai hukuman keterlambatan saya. Celaka tiga belas pula jika ternyata ujiannya adalah ujian lesan Bahasa Indonesia yang diampu oleh Pak Kasim sang guru killer dan sering memerintah siswanya dengan perkataan ‘belum dapat-belum dapat atau diulang-diulang’ jika ulangan lesan dan siswanya membuat kesalahan. Waduh… harus mengulang sampai benar atau siswanya sudah T.K.O karena putus asa tidak bisa memperbaiki setiap kesalahan yang dilakukan.

Selama di SMP tercatat beberapa track record negatifyang menambah warna kehidupan saya seperti nominasi siswa yang memiliki catatan terlambat yang sangat banyak sampai beberapa kali diminta membawa cimindil wedhus dan diberikan konseling oleh guru BP, siswa sangat banyak membolos ekskul wajib pramuka serta tidak melakukan tugas-tugas kepramukaannya, membaca komik di kelas, pertama kali melihat situs porno, terlibat aksi premanisme berbentuk pemalakkan dengan preman sekolah, aksi membolos sekolah untuk pergi ke pasar swalayan, sampai korupsi dana Lembar Kerja Sekolah (LKS) untuk menambah ongkos main playstation atau bermain di game center. Semua perilaku di atas tidak lepas dari pengaruh peergroup negatif yang saya dapatkan di SMP elite kabupaten Kebumen ini.

Ada juga kisah yang cukup menyedihkan, yakni kisah jatuh cinta ke dua di SMP (jatuh cinta pertama waktu SD he2x). Kisah cinta bertepuk sebelah tangan pasnya. Ya, waktu di SMP saya naksir berat dengan salah seorang siswi yang berasal dari daerah Kewedusan. Teman sekelasku di kelas 1 E SMPN 1 Kebumen. Ya nyadar juga sih, cewek tersebut primadona SMPN 1 Kebumen, jadi rebutan anak kelas tiga pula. Kesalahan yang saya lakukan adalah saya menyatakan cinta kepadanya. Uggh… gara-gara itu saya kehilangan akses untuk berdekat-dekatan dengannya. Padahal sebelum saya menyatakan cinta, saya bisa berdekat-dekatan dengannya. Ya tiada yang istimewa sih dari saya, Cuma, sobat dekat target itu tinggal di dekat rumah salah satu saudara dari nenekku. So, otomatis, aku dekat dengan sobat dekatnya target, otomatis aku bisa dekat dengan target juga. Whuakakak… By the way, gara-gara menyatakan cinta, jadinya target menjauh dan menjauh. Cinta bertepuk sebelah tangan bertahan sampai lulus SMP… Kata Katon Bagaskara, “tak bisa pindah ke lain hati”. So sad…

Tidak banyak prestasi yang saya dapatkan pada waktu SMP, selain mendapatkan kesempatan bersekolah di sekolah paling elite di Kabupaten Kebumen. NEM akhir SMPku tidak terlalu istimewa. Sekalipun masih optimis bisa diterima jika dilanjutkan di SMA elite di Kabupaten Kebumen, saya memilih untuk bersekolah SMAN 1 Prembun. Alasan terkuat, meyakinkan diri akan besarnya probabilitas masuk kelas IPA, kualitas tidak jauh dari kualitas SMA elite, dan berharap bisa lebih dekat lokasi dari rumah sehingga tidak capek dan lebih sering terlambat.

Lokasi SMAN 1 Prembun bisa ditempuh dengan bersepeda santai selama 10 menit dari rumah saya. Sekolahnya secara fisik nampak sederhana namun seakan terus bersinar sebab prestasi-prestasi yang diraih. Masih hangat dalam ruang baca kita bahwa pada bulan Maret 2009 ini salah seorang gurunya, Bapak Joko Triyono, diberitakan oleh KOMPAS sebagai seorang guru yang berprestasi sebab telah menciptakan gamelan multimedia. Luar biasa. Belum lagi prestasi para siswa-siswanya. Ya sekalipun tidak menutup mata terhadap beberapa kekurangan seperti pengelolaan alumni yang kurang optimal sehingga peran alumni membangun almamaternya tidak sebagus di beberapa SMA bergengsi disekitarnya. Lho…lho..kog malah cerita tentang SMA… back to topic…

Masa SMA boleh dikatakan masa kebangkitan bagi seorang cowok yang alamat rumahnya di Desa Prembun Kliwonan RT. 01/ RW.05, Kecamatan Prembun, Kabupaten Kebumen ini. Iklim belajar SMPN 1 Kebumen yang penuh kompetisi masih terbawa saat belajar di SMAN 1 Prembun. Ya sekalipun sempat shock sebab ada penurunan tingkat kompetisinya yang membuat saya terlena kemudian lebih bersikap santai saat belajar di SMAN 1 Prembun. Sekalipun lebih santai, Alhamdulillah, sejak kelas satu SMA catur wulan pertama sampai kelas dua catur wulan ke tiga posisi rangking dua di kelas tetap bisa dipertahankan. Pada waktu kelas tiga, paling pool masuk rangking sepuluh besar sebab tinggal satu kelas dengan ‘einstein-einsteinnya SMAN 1 Prembun’ seperti duo bersaudara Supeni dan Sumintir di kelas 3 IPA 1. Selain kebangkitan dalam prewtasi akademik, terjadi kebangkitan pula dalam kegiatan berorganisasi. Sewaktu SMA kesempatan bersosialisasi sudah bertambah luas dan tuntutan untuk beraktualisasi diri yang tinggi semakin mendorong tumbuhnya kembali minat berorganisasi di sekolah.

Awal masuk SMA sudah diberikan amanah sebagai Seksi Politik dan Kepemimpinan OSIS SMAN 1 Prembun. Aku masih ingat bahwa tugas hariannya adalah bertanggung jawab terhadap terlaksananya upacara bendera tiap hari Senin dan hari-hari besar nasional. Jobdesk melatih petugas upacara juga masuk di seksi yang saya pegang. Secara teknis seksi saya bekerja sama dengan Seksi Pendidikan Bela Negara dalam penyiapan jadwal giliran petugas upacara bendera. Peristiwa yang mengesankan dipilihnya saya beberapa kali menjadi komandan pleton atau pemimpin upacara di SMAN 1 Prembun.

Tahun ke dua di SMAN 1 Prembun saya terpilih sebagai ketua ekskul wajib Palang Merah Remaja tingkat Wira. Keaktifanku saat menjadi andik (anak didik) PMR, pengalaman di OSIS, pengetahuan kepalangmerahanku, dan luasnya jaringan dengan orang-orang yang menjadi aktifis Palang Merah Indonesi (PMI) Cabang Kebumen menjadi beberapa bahan pertimbangan para senior serta rekan satu tim mempercayakan kepemimpinan ekskul PMR kepada saya. Khusus masalah jaringan, sebenarnya itu efek samping dari keisenganku bermain-main dan menjalin relasi di PMI Cabang Kebumen sewaktu masih bersekolah di SMPN 1 Kebumen.

Pada waktu menjabat sebagai ketua PMR di SMAN 1 Prembun saya mengajak rekan-rekan satu angkatan untuk melakukan reformasi kegiatan ekskul PMR. Semula kegiatan PMR serupa dengan kegiatan pramuka, perbedaannya sebatas pada seragam, tempat upacara, ruang pelatihan, dan tema-tema materi hafalan. Saya mengajak semua rekan kerja saya unutk menyeleksi dan mengembangkan ekskul PMR yang benar-benar bernuansa kepalangmerahan. Kegiatan tambahan seperti baris berbaris dikurangi, diadakan penambahan materi, menambah praktek-praktek berbasis skill kepalangmerahan misalkan teknik Pertolongan Pertama (PP) dan Perawatan Keluarga (PK). Saya juga yang merumuskan model seragam baku bagi seluruh peserta yang mengikuti eksul PMR. Model seragam tersebut masih dipakai sampai saat ini.

Pada kepengurusan saya, ekskul PMR SMAN 1 Prembun berhasil mendatangkan pelatih PP dan PK langsung dari PMI di tingkat Kabupaten Kebumen untuk melatih andik PMR. Mendatangkan pelatih langsung dari kabupaten bukanlah hal biasa di ekskul PMR SMAN 1 Prembun, sebab pada periode-periode kepengurusan sebelumnya pelatih tingkat kabupaten sebatas melatih Pembina PMR (atau guru yang diutus Kepala Sekolah) di tiap SMA dan SMP, kemudian tugas Pembina PMR-lah yang menularkan ilmunya kepada para andik PMR di masing-masing sekolah. Kami menilai sistem pelatihan yang demikian sudah kurang efektif sebab pada kenyataannya pelatihan untuk Pembina juga jarang dilakukan sehingga info-info dan keterampilan-keterampilan yang ada sudah tidak up to date. Tidak jarang dijumpai beberapa kurikulum pengajaran di ekskul PMR SMAN 1 Prembun masih ada padahal di tingkat kabupaten sudah di hapus dan sudah ada kurikulum penggantinya.

Tidak lupa sejumlah prestasi juga di raih. Ekskul PMR SMAN Prembun kembali bergairah mengikuti ajang perlombaan Ekskul PMR tingkat kabupaten. Bahkan salah satu anggotanya menjadi wakil untuk mengikuti perlombaan PMR tingkat propinsi. Masih terbayang rasa bangga saat upacara bendera, bapak kepala sekolah menyerahkan beberapa piala kejuaraan tingkat kabupaten kepada ekskul PMR. Sebuah rasa puas pula bisa menunjukkan eksistensi diri dihadapan ekskul wajib pramuka yang dalam pandangan kemi lebih di istimewakan dalam hal penyediaan dana, sarana, dan banyak lainnya. Sebuah ekskul yang dipandang sebelah mata, anggotanya sedikit, dianaktirikan pihak sekolah, dipandang tidak sebagai ekskul yang tidak populer, dan tidak bergengsi menjadi ekskul kuda hitam di Kabupaten Kebumen. Alhamdulillah berkat kemudahan dari Allah, siswa-siswi yang menjadi anggota ekskul PMR pada periode berikutnya naik sampai 200 %. Terima kasih untuk semua teman-teman asisten PMR Wira SMAN 1 Prembun periode 2002-2003, teman-teman adalah TEAM YANG DAHSYAT!!

Bersamaan di tahun ke dua saya menjadi siswa di SMAN 1 Prembun, saat pergantian pengurus ekskul Kerohanian Islam (Rohis) di SMAN 1 Prembun, saya dipercaya untuk menjadi Ketua Rohis. Pada waktu saya menjabat, ekskul Rohis belum berbentuk, artinya belum jadi sebuah lembaga. Rohis masih bergerak dibawah tangan dalam fungsinya sebagai pelaksana seksi kerohanian yang ada di OSIS SMAN 1 Prembun. Berkat kemudahan dari Allah kemudian dorongan dari para aktifis Rohis waktu itu, Saya sekaligus diminta untuk menjadi koordinator misi pelegalan rohis sebagai sebuah ekskul di SMAN 1 Prembun. Sebuah perjuangan dakwah yang masih sangat berkesan bagi saya. Masih teringat dukungan untuk segera melegalkan dari aktifis rohis senior seperti Mas Fahmi, Mbak Fitri, Mbak Peni, Mbak Nurul, dan beberapa aktifis lain yang –maaf- sudah kurang ingat namanya. Yah ibarat Bung Karno dan Bung Hatta mungkin ya yang didesak-desak para pemuda untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia (hiperbola banget si he2x).

Setelah menghadapi pelbagai cobaan dan tantangan pada akhirnya semata-mata karena pertolongan Allah ‘azza wa jalla rohis SMAN 1 Prembun diresmikan sebagai salah satu lembaga kesiswaan disamping OSIS, ekskul wajib PMR, Pramuka, ekskul basket, dan menari (secara persis saya kurang ingat waktu itu ekskul apa saja yang ada di SMAN 1 Prembun). Misi setelah pelegalan adalah mencari kelengkapan lembaga seperti ketua, bendahara, sekretaris, dan beberapa seksi-seksi. Tidak lupa disiapkan beberapa program-program kegiatan kerohanian islam bagi siswa-siswa seperti infaq hari Jum’at, pengajian-pengajian, pembuatan perpustakaan islam mini, dan pengadaan shalat jum’at berjamaah di mushala “Al Azhar” SMAN 1 Prembun.

Sebelumnya perlu saya sampaikan, pada waktu menjabat ketua rohis istilah dakwah sebetulnya merupakan hal baru bagi saya, sebab sebelumnya dari keluarga saya juga tidak begitu agamis. Saya hanya pernah mengaji al qur’an sampai khatam dan beberapa kali dilibatkan oleh bapak kiai yang mengajar mengaji untuk menjadi panitia peringatan hari besar agama di masjid. Peran saya sebagai seorang ketua yang kemudian bertemu dengan aktifis-aktifis islam di Kabupaten Kebumen membuat saya sedikit paham tentang perkara yang sangat agung dalam dien islam,yaitu dakwah islam. Alhamdulillah pula saya dibukakan jaringan oleh Allah ‘azza wa jalla dengan ustadz-ustadz dari LIPIA Jakarta sehingga mewarnai kehidupan religious saya sampai detik ini.

Kegiatan berorganisasi sedikit meredup ketika memasuki kelas 3. Kelas 3 SMA sudah beralih fokus untuk mempersiapkan diri menghadapi UAN. Saya bersama peergroup yang empat cewek cantik yaitu: Dini, Putik, Purna, Evi mengikuti bimbingan belajar di salah satu BIMBEL di Kebumen. Kegiatan organisasi yang saya lakukan adalah menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Kelas.

MPK adalah sebuah lembaga yang secara otoritas langsung dibawah Wakil Kepala Sekolah (wakasek) bidang Kesiswaan SMAN 1 Prembun dan menjadi lembaga diatas OSIS (MPRnya OSIS-lah). Beberapa jobdesk yang saya ingat adalah bersama salah satu seksi di OSIS menyelenggarakan pemilihan ketua OSIS dan bersama seluruh perwakilan kelas serta Wakasek kesiswaan menetukan norma kehidupan di sekolah. Satu perubahan yang terjadi pada waktu saya diamanahi sebagai Ketua MPK adalah kebijakan pemilihan langsung bagi Ketua OSIS melalui TPS bergerak di setiap kelas. Semula pemilihan Ketua OSIS dilakukan dengan menghadirkan pejabat struktural masing-masing kelas dan kemudian perwakilan kelas tersebut diminta untuk memilih ketua OSIS berdasarkan aspirasi kelasnya.

Pernak pernik waktu SMA yang berkesan adalah bisa menjadi wakil SMAN 1 Prembun yang menjadi bagian dari kontingen Kabupaten Kebumen di ajak Jumpa Bakti Gembira (JUMBARA) PMI tingkat propinsi Jawa Tengah. Lomba JUMBARA tersebut berlokasi di Waduk Cacaban, Kabupaten Tegal. Pengalaman menarik saat menjadi tim kontingen adalah mendapatkan karantina semi militer berisi berbagai pengetahuan dan skill kepalangmerahan yang dipandu oleh instruktur-instruktur dari PMI cabang Kebumen. Masih menjadi memori juga saat berkompetisi di tingkat propinsi yang melibatkan rival-rival yang memiliki skill lebih baik dari kabupaten lain. Terus ada juga memori merah jambu dengan andik PMR dan siswi cantik bunga idaman (satu angkatan) di SMA N 1 Prembun. Masih teringat memori perjuangan dengan dua teman baik sendiri yang juga ternyata menaruh hati dengan sang bunga idaman. Persaingan yang dimulai sejak kelas 1 SMA kemudian baru berhasil di kelas 3 SMA. Tidak disangka-sangka si bunga idaman memilih saya sebagai pengisi ruang hatinya. So sweet…

Kelas 3 SMA menjadi moment yang memiliki stress memikirkan mau kuliah dimana setelah ini? Rencana awal ingin sekali masuk ke pondok pesantren. Kebetulan pada waktu menjelang kelulusan ada seorang ustadz dari LIPIA/ Kedutaan Besar Saudi Arabia yang mengajak saya masuk ke salah satu pondok binaannya. Saya merasa senang sekali dengan ajakan tersebut, namun reaksi berbeda ditunjukkan oleh orangtuaku. Bapak ibu menghendaki saya untuk kuliah. Ibu mendorong saya masuk ke UGM seperti om-om saya dari keluarga ibu. Padahal aku tidak suka kuliah di Jogja sebab sudah terlalu sering ke Jogja dan banyak keluarga dari keluarga ibu tinggal di Jogja. Aku ingin yang beda, tetapi saya sendiri binggung. Saya waktu kecil adalah anak yang suka mabuk jika naik bus atau mobil sehingga malas jika diajak bepergian. Sekalipun pada beberapa waktu agar bepergiannya nyaman saya harus ngedrug pil anti mabuk sesaat sebelum naik kendaraan. Satu hal yang saya lakukan, saya pasrahkan kepada Allah ‘azza wa jalla untuk memilih tempat yang terbaik bagi saya dan diridhoi-Nya.

Ketika tersiar kabar UGM membuka Ujian Mandiri (UM UGM) ibu terus mendesak saya untuk masuk UGM. Ibu bahkan menghubungi om saya yang tinggal dekat UGM untuk siap menemani saya mendaftar UM UGM, padahal saya sangat malas untuk mengikuti UM. Akhirnya tetap berangkat mendaftar dan mengikuti UM UGM alih-alih berbuat bakti terhadap ibu serta menjajal kemampuan mengikuti seleksi tes masuk perguruan tinggi. Alhamdulillah tidak lulus.

Baru saat musim SPMB tiba, perjuangan sejati pun di mulai. Berbagai persiapan seperti buku paket latihan soal saya beli dan saya pelajari. Saya tetap tinggal di sekolah dan mengalokasikan waktu saya sepulang sekolah sampai kurang lebih pukul empat sore untuk mempelajari soal-soal SPMB dan UAN SMA. Berangkat ke bimbingan belajar juga semakin rajin dengan harapan bisa lebih siap menghadapi SPMB dan UAN.

Ada peristiwa yang cukup terkenang saat SPMB ini, yakni pertemuan dengan seorang cowok bernama Willy. Saya bertemu dengan Willy dua kali, ketika saya berangkat UM UGM dan berangkat SPMB. Singkatnya kami berkenalan di bus dan saling bercerita tentang pilihan jurusan yang di ambil. Willy menyatakan bahwa dirinya memilih Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (UNDIP) dan saya mengatakan saya memilih Fakultas Kedokteran, Prodi Psikologi UNDIP. Kita sempat bercanda dan mengatakan, “Insya Allah kita bertemu di UNDIP”. Pada kenyataannya, saya dan Willy bertemu di sebuah kegiatan UKM Kerohanian Islam tingkat Universitas di UNDIP. Kami berdua sama-sama merasa takjub bahwa saya dan Willy sama-sama diterima di UNDIP, saya di Psikologi dan Willy di Hukum seperti yang dulu kami katakan saat kami musyafir ke lokasi SPMB di Jogja. Subhanallah mungkin ini salah satu ayat-ayat Allah tentang makbulnya doa orang yang sedang musyafir. Kami berdua merasa dalam rasa takjub dan penuh rasa syukur kepadaNya Sang Maha Pengabul Doa.

Awal kuliah di Fakultas Kedokteran Prodi Psikologi UNDIP saya sering mendapatkan pertanyaan, “Apa sih alasan yang membuatmu memilih kuliah di Psikologi? Ga nyasar?”. Pertanyaan tersebut membuat saya sejenak berfikir untuk memformulasikan jawaban yang cukup intelek, karena alas an saya memang sederhana memilih psikologi. Alasan saya, saya sudah wareg (kenyang) jika harus berhadapan lagi dengan pelajaran yang berbau matematika. So, sedapat mungkin saya menghindari kuliah yang di dalamnya ada istilah. Kalkulus, fisika, kimia, dan sebarang bentuk mata kuliah yang intinya adalah matematika. Kebetulan saya mendapatkan brosur mengenai salah satu sekolah tinggi psikologi dari Jogja. saya cermati dengan seksama, ehm… ternyata cuma ada ada satu mata kuliah yang saya indikasikan berbau matematika yaitu mata kuliah statistik. Langsung pada hari itu juga saya mempunyai tekad bahwa saya mantap memilih psikologi.

Pertimbangan ke dua, ternyata psikologi di UNDIP adalah dari program IPA, wah pas banget dengan saya yang berasal dari kelas IPA. Saya tidak memilih Psikologi UNPAD yang juga dari IPA sebab lokasinya terlalu jauh dari rumah saya. Pertimbangan ketiga, tidak lupa juga dukungan dari peergroup cewek-cewek cantik yang kata mereka saya berbakat menjadi seorang psikolog. Katanya pinter ngomong gitu (padahal setelah aku kuliah, aku tahu bahwa pinter ngomong kan juga bukan kompetensi baku seseorang untuk jadi psikolog). Masih ingat juga putik memantapkan pilihanku dengan berkata, “An, nek aku stress aku kan bisa konsultasi karo koe an (An, jika aku mengalami stress aku kan bisa konsultasi sama kamu)”. Faktor yang memantapkan ke empat dan seterusnya juga ada dukungan dari orangtua, om-om, dan prospek kerja yang sempat saya cari di beberapa media cetak.

Ehm… ospek tiba. Tidak begitu menakutkan seperti yang saya persepsikan. Sebab alhamdulillah menu ospeknya cukup intelek dan tidak begitu neko-neko. Tidak ada ospek yang sifatnya tidak mutu, non edukatif, dan hanya untuk merendahkan harkat serta martabat manusia dengan sistem perploncoan. Enak sekali ospeknya. Enak dalam parameter perbandingan dengan ospek yang diadakan di teknik atau di peternakan. Selain itu juga kebetulan dengan beberapa seniornya sudah pernah bertemu di base camp Psikologi. Hal yang berkesan selama ospek angkatan 2004 adalah penobatan diri saya sebagai “MAHASISWA TERKUAT tahun 2004”. Alasan penobatan tersebut sederhana, sebab pada awal masuk kuliah saya mengayuh sepeda dari kos saya yang berada di Jl. Sirojudin no. 13 sampai kampus psikologi. Maklum dipahami bahwa perjalan dari kos ke kampus tracknya adalah track balap motorcross. Banyak tanjakan curam seperti saat naik di kampus peternakan dan beberapa area disekitar kampus teknik elektro yang sangat menguras tenaga. Luar biasa, terima kasih senior atas penghargaannya…

Sedikit saya ceritakan tentang kontrakan saya. Kontrakan saya yang pertama berada di Jl. Sirojudin, Gang Margoyoso no. 13, Tembalang. Kontrakan tersebut dinamakan base camp sebab yang mengkontrak 100 % adalah mahasiswa psikologi. Mahasiswa tersebut antara lain Mas Aris Psi’02, Mas Hendy Boy Psi ’02, Mas Agus Psi’02, Mas Didik Psi’02, Mas Ikhsan Psi’02, Raka ‘Monster’ Psi ’03, ‘Hagemaru’ Hermanto Psi’03, Anjrah Psi ’04 (saya), dan Zun Psi ’04. Awalnya kontrakan tersebut tanpa nama, atas usulan warga kontrakan yang baik maka dibuat rapat penentuan nama kontrakan. Beberapa warga mengusulkan nama sampai muncul keputusan bahwa nama kontrkannnya adalah Wisma Islam RI. RI sendiri pada mulanya diusulkan adalah kependekan dari Rijal (cowok) Idaman. Oleh karena mempertimbangkan stabilitas politik dan keamanan nasional (cieee…) serta ada usulan lain dari warga, maka nama wisma dirubah kepanjangannya jadi Raudhatul Ikhwah (taman persaudaraan). Nama tersebut alhamdulillah masih dipakai sebagai nama kontrakan di Gang Margoyoso sampai sekarang.

Aktivitas awal kuliah di Psikologi UNDIP saya rasakan tidak ubahnya seperti sekolah di SMA. Banyak mata kuliah yang sifatnya menghafal (sampai semester akhir tetap ada si) dan ulangannya ya seperti ulangan pada waktu SMA. Hanya mata pelajaran eh mata kuliahnya beda. Kekeliruan yang saya lakukan pada awal-awal kuliah adalah saya terlalu santai dan menyepelekan kuliah tersebut. Dulu, saya punya prinsip bahwa mumpung semester awal ya belum perlu yang seius-serius. Hasilnya ya… IP semester satu dimana teman-teman saya mendapatkan IP semester tiga koma, saya hanya mendapatkan IP semester 2,8 dari point maksimal empat. Alhamdulillah ada sedikit peningkatan di semester dua, saya mendapatkan IP semester 2,9. Sampai akhirnya terus meningkat sampai menyentuh IP semester 3,2. Namun pernah juga mengalami IP semester yang jatuh jauh, saya pernah mendapatkan IP semester 2,7 sebab pada waktu ujian semester saya sedang mengalami gejala penyakit demam berdarah.

Aktivitas organisasi juga belum begitu sibuk. Oleh para senior saya diarahkan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Psikologi (sebelumnya bernama DEMA (Dewan Eksekutif Mahasiswa) Psikologi). Saya diarahkan untuk mengikuti training organisasi dan kepemimpinan di BEM, kemudian training-training yang diadakan oleh Rohisnya Psikologi bernama SKRIPSI (Sie. Kerohanian Islam Psikologi), sampai organisasi ekternal kampus bernama KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Tahap awal baru menjelajah organisasi-organisasi untuk mencari dimana sebenarnya nanti hati ini akan tertambat dan melakukan karya-karya besar bersamanya.

Kerja keras pertama sebagai seorang aktivis adalah bermula di UKM Rohis UNDIP. Saya mendapatkan tugas sebagai seorang staff bidang dana usaha (DANUS) yang dulu secara struktural berada di bawah bendahara UKM Rohis UNDIP. Jobdesk bidang DANUS adalah mengusahakan dana mandiri untuk mendukung secara finansial berbagai kegiatan yang dilakukan oleh UKM Rohis UNDIP. Saya merasa masih asing dengan tugas saya ini, namun berkat on the job training yang dilakukan secara baik oleh kepala bidang DANUS, saya bisa mengerti tugas yang harus saya lakukan sebagai staff DANUS. Prestasi yang cukup berkesan adalah ketika staff dibidang danus banyak yang burn out bahkan ada yang mangkirsehingga menyisakan saya dan kepala bidang DANUSnya saja, kepala bidang DANUS secara kreatif membuat kerja sama usaha dengan salah satu Mall di Semarang. Saya secara teknis membantu dalam pelakasanaan kerja sama usaha tersebut. kerja sama usahanya cukup sederhana, yakni kami membantu memasarkan produk sehari-hari yang dijual di Mall tersebut ke kos atau kontrakan mahasiswa di sekitar kampus UNDIP Tembalang. Di setiap kos kita titipkan beberapa item barang kebutuhan sehari-hari mulai dari sabun mandi sampai susu kaleng yang dimasukkan dalam sebuah plastik ukuran besar.

Aku pikir sebenarnya teknik danus dengan cara yang seperti itu cukup bagus, hanya saja ada kendala pada mekanisme kontrol pemasukan dan pengeluaran barang. Teknik danus diatas memberikan kepercayaan penuh kepada customer dalam melakukan pembayaran. Kejadiannya, banyak barang yang keluar tidak sesuai dengan uang yang masuk. Otomatis menyebabkan bidang danus UKM Rohis tombok. Karena tomboknya terjadi tidak cuma satu dua kali dan bidang danus terancam kerugian, maka kerjasama usaha tersebut pun kemudian distop. Bidang danus pun kembali ke usaha klasik yaitu menjual gorengan, nasi bungkus, jual jaket, jual emblem, jual pin, dan stiker.

Kesibukan utama saya yang lain adalah saya sibuk memperbaiki diri. Alhamdulillah pada waktu masih SMA dulu, salah seorang kakak angkatan saya yang kuliah dijurusan Teknik Kimia UNS membawakan kepada saya sebuah Majalah Ghoib. Majalah ghoib ini berisi banyak bahasan tentang hal-hal ghoib yang dikaji dalam tinjauan syar’i. Qadarullah (semata-mata atas takdir dari Allah swt) materi-materi yang ada pada majalah itu pas sekali dengan apa yang saya alami. Saya mendapatkan hidayah kemudian bertaubat dari kegiatan-kegiatan latihan tenaga salam dan perklenikan yang saya lakukan, alhamdulillah. Saya pada waktu SD sampai SMP mengikuti beberapa pelatihan tenaga dalam. Bahkan hampir semua teman-teman sebaya saya mengikuti pelatihan tenaga dalam tersebut mulai dari tingkat dasar sampai yang mengharuskan saya melakukan puasa-puasa seperti puasa mutih dan puasa ngebleng dalam waktu beberapa hari untuk naik tingkat latihan tenaga dalam yang saya ikuti.

Saya masih ingat, pada awal-awal sebelum masuk tenaga dalam kami dilatih teknik getaran. Teknik getaran sudah membuat kami terperangah. Sebab hanya dengan sedikit menahan napas, konsentrasi, kemudian kita arahkan getaran kita kepada orang lain, orang lain bisa merasakan getaran tersebut atau bahkan membuat seseorang jatuh terpental sampai jarak yang jauh. Perkembangan selanjutnya, kami sering melatih teknik getaran dan digunakan untuk berlatih tanding dengan sesama teman. Kami berpasang-pasangan mencari lawan yang sebanding berdasarkan ukuran besar kecilnya tubuh. Setelah mendapatkan lawan tanding, mulai memasang kuda-kuda dengan jarak 2 meteran, mulai berkonsentrasi, pusatkan pikiran untuk membangkitkan energi dalam tubuh. Proses mengeluarkan getaran ini dilakukan dengan jurus-jurus tertentu yang harus kami hafal. Setelah masing-masing pasangan siap, maka pertandingan pun dimulai.

Layaknya Shon Go Ku dalam film Dragon Ball kami saling dorong dengan tenaga getaran. Sesiapa saja yang tidak kuat menahan transmisi getaran dari pasangannya bisa jatuh terpental. Ada juga yang maju mundur – maju mundur seperti orang yang mendorong dan menarik gerobak yang penuh muatan. Beberapa kali sering juga kami melakukan pertarungan kontak fisik dengan jurus-jurus silat yang telah kami pelajari dari guru kami. Saya kembali merasa heran, saat kami bertarung dengan menggunakan getaran, kami pukul-pukulan dengan keras sekalipun kami tidak merasakan sakit. Rasa sakit baru mulai kami rasakan ketika kami selesai latihan dan sudah tidak menggunakan ilmu getaran itu lagi. Ilmu getaran ini juga bermanfaat untuk menyembuhkan rasa sakit pada anggota-anggota badan saat latih tanding.

Berkaitan dengan lingkungan yang mendukung diri saya untuk semakin tenggelam dalam dunia tenaga dalam, saya bertemu guru lain. Seorang guru yang oleh orang-orang dikampung saya terkenal sakti. Konon kata orang-orang kampung saya, orang tersebut sering lelaku untuk mendapatkan benda-benda bertuah dari tempat-tempat yang dikeramatkan. Saya sendiri kemudian yang menjadi saksi bahwa perkataan orang kampong saya tersebut adalah benar. Saya melihat banyak benda-benda kuno dalam rumah guru saya, mulai dari keris dan batu bertuah yang bermacam-macam jenis. Saya diminta oleh guru ke dua saya ini untuk berpuasa mutih selama satu minggu dan ditutup dengan puasa ngebleng. Sebelum melakukan puasa, badan saya sudah terlebih dahulu dibacai mantra dan ditulisi rajah. Saya hanya diam saja untuk mencoba konsentrasi selama menjalani proses persiapan pengisian tenaga dalam. Pada hari terakhir saya juga diminta menelan isi telur ayam kampung yang pada cangkangnya diukir dengan rajah. Saya baru tahu bahwa rangkaian puasa dan pembacaan beberapa mantra (berbentuk asmaul husna dan bacaan ayat-ayat al qur’an) tersebut adalah merupakan proses instalasi Ajian Brajamusti ke dalam diri saya. Ajian Brajamusti adalah salah satu ajian yang legendaries dalam dunia persilatan khususnya ditanah jawa. Konon katanya, orang yang menguasai ajian brajamusti bisa membuat lawannya sampai muntah darah dengan sekali pukul. Selain brajamusti, jika saya tidak salah mengingat saya juga belajar tenaga dalam Ilmu Lembu Sekilan, Ilmu Candrawulan, Tenaga dalam Margoluyu, dan yang lain-lain saya sudah lupa namanya.

Alhamdulillah saya mendapatkan hidayah melalui Majalah Ghoib. Apa-apa yang saya baca didalamnya ternyata banyak kemiripan dengan apa-apa yang sudah saya alami dan saya lakukan. Saya juga mengkonsultasikan masalah tenaga dalam dalam tinjauan islam kepada salah satu ustadz yang bekerja di LIPIA Jakarta. Pak Ustadz menjelaskan bahwa hal tersebut tidak dicontohkan dalam islam bahkan dilarang sebab bisa membawa pelakunya kepada perbuatan syirik kepada Allah. Saya kemudian mengambil keputusan berdasarkan informasi-informasi tersebut untuk melakukan perbaikan diri dengan mengikuti ruqyah syar’iyyah.

Ruqyah syar’iyyah merupakan salah satu metode pengobatan yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Salah satu manfaatnya adalah untuk membersihkan diri dari noda-noda tenaga dalam dalam diri kita. Saya memahami bahwa tenaga dalam adalah salah satu bentuk kelebihan dalam diri kita yang bermuara dari jin-jin yang bersarang di dalam tubuh kita. Berat langkah kaki saya untuk berjalan menuju majelis ruqyah. Pada awal-awal dahulu Majelis Ruqyah Syar’iyyah diselenggarakan di Jl. Parang Kembang, area perumahan Tlogosari, Semarang. Perasaan takut bertambah besar saat sudah berada dekat di majelis ruqyah. Belakangan saya tahu, persaan takut tersebut sebenarnya adalah perasaan takut yang berasal dari jin-jin yang bersarang dalam tubuh kita.

ehm cerita apa lagi ya… lain2 nyambung ke facebook aja ya. klik disini

One thought on “About Me

  1. Pingback: penis

Di tunggu komentarnya, Makasih :)...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: